REFORMATA.com - KISAH nyata sebuah keluarga Kristen di Bandung beberapa tahun silam. Seorang wanita menikah tanpa dilandasi cinta dari suaminya. Selama 10 tahun pertama, suami tak peduli pada istri dan tiga anak mereka. Si suami lelap dalam egoismenya: bersenang-senang di night club bersama wanita lain. Saking benci pada ayah mereka, anak keduanya terjerat narkoba hingga masuk penjara.
Namun, sang istri tetap setia pada suaminya dan tak mau diceraikannya. “Apa yang telah dipersatukan Allah tak boleh diceraikan manusia,” begitu ia menjawab ketika banyak orang memintanya untuk cerai dan menikah lagi dengan pria lain yang lebih baik. Suami baru sadar atas perbuatannya ketika mengetahui anaknya berada dalam rumah tahanan.
Ketika sang suami menyesal atas perbuatannya justru pada saat yang sama dia ditimpa penyakit. Namun, istri tetap setia merawatnya selama 22 tahun hingga menghembuskan nafas terakhir. Selain merawat, istri tak jemu-jemu mengendalikan emosi kedua anaknya agar kembali menerima ayah mereka dengan memberikan pengampunan atas segala perbuatan salahnya.
Kisah tersebut kemudian difilmkan oleh HOLYWORLD Entertainment, sebuah production house entertain di Bandung yang khusus dibentuk sebagai wadah mengolaborasi bakat dan talenta anak-anak Tuhan yang ada di gereja se-Kota Bandung. Film rohani ini diberi judul “70 x 07” yang berlandas pada jawaban Yesus saat ditanya berapa kali harus mengampuni orang yang berbuat salah. “70 x 7 x...” jawab Yesus.
Delapan pemeran utama, bukan artis populer. “Itu dimaksudkan sedapat mungkin tetap menampilkan kesan asli cerita, apalagi diperankan oleh orang-orang yang menjadi saksi mata akan kehidupan keluarga tersebut di Bandung,” ujar Utojo S. Utama, executive producer HOLYWORLD Entertainment yang juga diamini rekannya Erwin Djayanegara saat launching di Bandung, 23 Juli 2010.
Peran yang dilakukan Naomi dan Roberth, nama dalam film tersebut sebagai pelaku utama memang sungguh mengundang derai air mata penonton karena mereka menampilkan adegan mendekati persis kejadian nyatanya. Begitu pula ketiga anak mereka, yaitu Lucy, Tristan, dan Raph yang dengan karakter adegannya masing-masing membuat film ini nyaris menjawab kerinduan anak-anak Tuhan tentang hal yang disebut pengampunan sebagaimana diamanatkan Yesus.
Seusai digarap Oktober 2009 lalu, film ini pertama kali diputar di Singapura dalam acara Paskah yang diselenggarakan oleh forum MKIS, dan mendapat sambutan yang luar biasa baik. Hingga kini “70 x 07” sudah menjangkau beberapa kota di dunia seperti New Jersey (USA), Melbourne dan Perth (Australia), Dubai (UEA), Doha (Qatar), India, Brazil, Malaysia, dan 12 kota lainnya di Indonesia.
Film “70 x 07” diharap menjadi jawaban bagi kita untuk kembali pada kingdom life style di tengah gempuran si jahat dalam format film-film yang bertajuk horor, pornografi, dll. Mengingat kasus perceraian di Indonesia makin meningkat. Film ini kiranya dapat menjadi sumber inspirasi, setidaknya sebuah jawaban terhadap makna dari segala permasalahan dalam hidup berkeluarga tanpa harus bercerai. Sehingga hanya nama Tuhan Yesus sajalah yang dimuliakan. Stevie Agas