Selain teori evolusi yang menguraikan perkembangan organisme, masih ada teori lain yang menjelaskan tentang asal-usul semesta dan segala yang ada di dalamnya, yang sekaligus menyangkal Allah sebagai penciptanya. Apa saja itu?
REFORMATA.com - TAMPAKNYA, baik Kristen maupun Islam, seiring perkembangan waktu pandangannya tentang alam yang merupakan petunjuk adanya Allah terganggu oleh munculnya be-berapa teori lain yang menyangkal kedua pandangan agama tersebut. Seperti yang sudah populer dikenal luas adalah teori evolusi Darwin, yang menegaskan bahwa semua organisme yang hidup sekarang, tetumbuhan maupun hewan, termasuk manusia, merupakan keturunan dari organisme-organis-me amat sederhana yang hidup miliaran tahun lalu.
Meskipun banyak sekali unsur dalam evolusi belum dijelaskan secara memuaskan, akan tetapi bahwa organisme-organisme sekarang merupakan hasil perkem-bangan sebagaimana dirumuskan dalam teori evolusi tidak disangkal oleh ilmuwan satu pun, kecuali atas dasar penciptaan berdasarkan Kitab Kejadian 1 dan 2. Teori evolusi memang tidak dapat dibuktikan melalui pengamatan karena merupakan kejadian masa lampau.
Tetapi petunjuk-petunjuk yang mendasari teori evolusi amat kuat, seperti fosil-fosil yang ditemukan, pola penyebaran geografis fosil-fosil kalau ditempatkan ke dalam matriks waktu, amatan-amatan penye-suaian dan perbedaan organisme-organisme dalam lingkungan terbatas (sebagaimana diamati Darwin), dan akhirnya amat mengesankan genetika molekular. Teori ini amat kuat karena sekian lama penemuan ilmiah dalam 151 tahun sejak buku Darwin terbit, tanpa kecuali mendukung, dan tak satu pun yang membantah teori tersebut.
Big bang dan intelligent design
Selain teori evolusi Darwin, proses perkembangan yang tidak kalah mengesankan adalah teori kosmogoni, perkembangan alam raya kita dari big bang, yaitu sebuah letusan pertama di mana seluruh materi seakan-akan berkumpul di satu titik, daripadanya segalanya mulai sampai terbentuknya bumi yang cocok untuk menghasilkan manusia. Menurut teori ini, alam raya kita ini yang bermula dari big bang disebut antropik karena memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia (anthropos) dapat hidup di dalamnya.
Berbeda dengan evolusi organisme, untuk “evolusi” alam raya antropik yang umum mulai diperkenalkan secara luas pada abad 19 ini memang tidak ada sebuah teori sejelas Darwinisme. Tetapi para ilmuwan alam yakin bahwa perkembangan itu berlangsung murni menurut hukum-hukum fisika dan tidak perlu “tangan Tuhan” untuk menjelaskannya.
Lain lagi dengan teori Intelligent Design. Teori ini berbeda dari Creationism oleh karena para penganutnya bersedia menerima fakta evolusi. Jadi mereka tidak bersitegang pada pengartian harfiah kitab Kejadian. Tetapi mereka menolak anggapan Dar-winisme bahwa evolusi merupakan proses kebetulan alamiah.
Menurut Intelligent Design, evolusi organisme-organisme, dengan organ-organ mereka yang mengagumkan, jelas-jelas menun-jukkan pengarahan. Jadi sebenarnya dirancang, di-design, dan karena itu harus ada designer, perancang rasional, realitas bernalar yang berkuasa untuk merancang alam raya (yang diandaikan Tuhan, tetapi mereka membatasi diri bicara tentang perancang rasional. Secara khusus mereka menunjuk pada sekian banyak kasus irreducible complexity, sistem-sistem organik kompleks, yang menurut mereka tidak mungkin merupakan hasil perubahan-perubahan kebetulan yang diarahkan oleh seleksi.
Menderita kekurangan
Meskipun teori Intelligent Design ini tidak menolak evolusi dan melepaskan skripturalisme, akan tetapi pada dasarnya ia menderita kekurangan. “Ia memasukkan Allah ke dalam sebuah teori ilmu alam,” tulis Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, dalam DISKURSUS, Jurnal Filsafat dan Teologi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 2009.
Romo Magnis mencatat, kegagalan Darwinisme dan ilmu alam pada umumnya untuk menjelaskan keterarahan dalam evolusi dan kosmogoni mau diatasi dengan pengandaian adanya perancang rasional adiduniawi. Perancang rasional adiduniawi dimasukkan sebagai pengisi lobang-lobang penjelasan ilmu alam, suatu kesalahan yang oleh Richard Dawkins diejek sebagai “the God of gaps”, “Allah celah-celah”.
Ejekan Dawskins itu, lanjut Romo Magnis, adalah kena telak. Sebab memasukkan Allah sebagai pengisi lobang ketidaktahuan kita merupakan kesalahan prinsipial, karena Allah tidak mungkin merupakan salah satu faktor dalam sebuah proses duniawi/alami. “Allah secara hakiki bersifat transenden yang artinya Allah mengatasi segala realitas duniawi, Ia lain daripada segala realitas tercipta,” tutur guru besar pada STF Driyarkara ini dan dilanjutkan bahwa Allah sekaligus juga imanen, artinya sebagai pencipta Ia mendukung segenap proses yang berlangsung di dunia, maka Ia ada di mana-mana.
Dalam bahasa ilmu alam, lanjut pastor Katolik ini, Allah di mana-mana tidak ada, semua proses alami berlangsung menurut faktor-faktor alami. Dalam bahasa me-tafisika, Allah ada di mana-mana, dalam proses-proses paling biasa pun. Tetapi Allah tidak pernah merupakan salah satu faktor dalam proses ciptaan atau salah satu unsur dalam sebuah proses alami.
Thomas Aquinas (1225-1274) menjelaskan kehadiran Allah dan ketidakhadiran Allah dalam penciptaan dengan membedakan antara “sebab-sebab kedua” (causa secundae) dan “sebab pertama” (causa prima) atau “sebab dasar”. Sebagai pencipta dan dasar segala-galanya Allah adalah causa prima segala proses di dunia dan sebagai causa prima mendasari seluruh realitas di dunia. Tetapi dengan menciptakan dunia Allah sekaligus memberikan kemampuan untuk bertindak kepada dunia. Dan itu berarti bahwa setiap kejadian di dunia mempunyai sebab atau dasarnya yang duniawi juga.
Stevie Agas