“Creation” dan “evolution”, dua pandangan berbeda tentang semesta alam dan segala isinya. Bagaimana menyikapinya?
REFORMATA.com - SEJAK bergulirnya teori evolusi Charles Robert Darwin (1809-1882), yang baru diterbitkan dan dipopulerkan 151 tahun silam dalam bentuk sebuah buku berjudul: “The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”, dan yang kemudian dikembangkan oleh Darwinisme atau yang sekarang juga disebut Neo-Darwinisme, sikap pro-kontra baik para ilmuwan maupun teolog atau para pemelihara ajaran berdasarkan petunjuk agama terus muncul ke permukaan. Bahkan hingga kini teori itu masih saja hangat diperdebatkan oleh karena dampaknya yang sangat besar.
Munculnya teori evolusi sebagai salah satu penanda lahirnya era modernitas memang tak dapat membendung kegoncangan keyakinan orang-orang beragama. Ia (teori evolusi) seakan tampil begitu yakin merebut keyakinan tradisional dari orang-orang yang sebetulnya telah aman berdiam dalam pandangan agama mengenai kisah penciptaan Allah. Banyak orang kemudian menjadi ragu, bimbang, dan kembali mempertanyakan kebenaran ajaran tentang kisah penciptaan Allah itu yang sebetulnya telah mereka imani secara penuh sebelumnya. Banyak di antara mereka pula yang pada akhirnya tunduk di bawah klaim evolusi itu dengan membubarkan diri dari keyakinan akan Allah, Sang Pencipta, tanpa dicermati secara jernih-kritis teori yang semata merupakan produk dari ilmu pengetahuan alam modern itu.
Dalam situasi seperti itulah, tak heran bila ketegangan dan konflik terus bergulir antara ilmu pengetahuan modern dan agama. Bagi orang beragama, khususnya kristianitas, teori evolusi Darwin dianggap bertentangan total dengan apa yang dipercayai dunia kristiani mengenai asal usul dunia dengan segala isinya, tentang penciptaan, sebagaimana yang tertulis dalam dua bab pertama Kitab Kejadian, bahwa langit dan bumi dan segala isinya diciptakan langsung oleh Allah dalam kurun waktu enam hari dan bahwa ciptaan terakhir adalah manusia, yaitu manusia Adam dan Hawa yang kemudian ditempatkan di Taman Eden.
Pada awalnya, sebagian besar umat kristiani menolak teori evolusi tersebut. Gereja Katolik misalnya, meskipun tidak mengutuknya secara formil, namun teori itu ditolak karena dianggap bertentangan dengan Kitab Suci, terutama khususnya Kitab Kejadian. Sekelompok jemaat Protestan di Amerika Serikat, yang mau mendasarkan diri pada fundamen iman mereka, tentang Wahyu Tuhan dalam Kitab Suci, juga menolak ajaran evolusi tersebut. Reaksi penolakan itu diperkuat karena, Darwinisme oleh banyak ilmuwan dan cendekiawan secara polemis dipakai sebagai bukti kekolotan gereja dan bukti keyakinan bahwa umat manusia hanya dapat maju kalau membebaskan diri dari agama dan tahyul dan mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan.
Sampai hari ini, sayap fundamentalisme Protestantisme di Amerika Serikat itu, tetap menolak ajaran evolusi. Bertolak dari faktanya bahwa kebenaran teori evolusi tidak dapat langsung diamati, kelompok ini menuntut agar dalam pelajaran ilmu alam, anak-anak mendapat baik tentang teori evolusi maupun teori tradisional tentang penciptaan. Mereka dibagi dalam dua kelompok besar; Kaum creationists berpegang pada teks Kejadian harafiah dan menolak serta merta evolusi, sedangkan para penganut teori intelligent design menerima fakta evolusi, tetapi menyangkal bahwa Darwinisme dapat menjelaskannya.
Dua hal berbeda
Menilik dua pandangan berlawanan ini, di mana, pandangan yang satu berlandas pada iman agamanya, sedangkan yang satu lagi berdiri di atas bangunan ilmu pengetahuan dengan menunjukkan indikasi observasi segala fenomena yang terjadi di alam ini yang cukup kuat, seakan konflik dan ketegangan di antara keduanya mustahil berakhir. Karena itu, sebuah sikap kritis-bijaksana dibutuhkan di sini untuk menjembatani keduanya. Sekretaris Umum Badan Pengurus Harian (BPH) Sinode Gereja Sahabat Indonesia (Indonesian Friends Church) Pdt. Arbiter G. Simorangkir mengetengahkan, bahwa dua pandangan berbeda itu tak perlu saling dipertentangkan.
Bagi dia, teori evolusi mesti dipahami sebagai satu teori yang lahir dari rahim perkembangan ilmu pengetahuan modern yang tentu memiliki batasan karena ilmu sifatnya terbatas. “Teori evolusi dilakukan dan didekati dengan pendekatan ilmu. Karena itu, dia terbatas sifatnya,” ujar Master of Theology in Christian Ethics, School of Theology, George Fox University, Oregon, Amerika Serikat ini, dan melanjutkan bahwa tentu amat sangat berbeda dengan keyakinan iman agama yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu penge-tahuan.
Alkitab, menurut Pdt. Arbiter, bukanlah kumpulan ilmu penge-tahuan yang mesti harus teruji kebenarannya secara tuntas oleh keterbatasan rasio manusia atau bukan pula kumpulan dokumen sejarah. Tetapi Alkitab sesung-guhnya adalah kesaksian tentang kehidupan yang harus kita imani, karena merupakan kesaksian yang diilhami oleh Roh Kudus. “Jadi Alkitab berisi firman Allah yang hidup yang harus diterima secara utuh,” lanjutnya sambil meneruskan bahwa Allah yang berfirman sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab bukan termasuk unsur alam dan karena itu bukan pula termasuk obyek penelitan dan kesimpulan dari teori evolusi.
Meski Pdt. Arbiter menepis keras kesimpulan dari teori evolusi, terutama salah satu kesimpulannya yang paling mengesankan adalah bahwa makhluk manusia kini berasal dari kera, namun bagi dia teori evolusi justru memperlihatkan keindahannya. Lebih jauh ia melihat bahwa teori ini tak memperlihatkan adanya pertentangan dengan keyakinan mengenai Allah yang menciptakan alam raya dan segala isinya dan karena itu juga tak akan berdampak bagi iman bagi keyakinan jemaat.
Stevie Agas.