User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Bumi Bukan Ciptaan Tuhan?  |  FPI Suruh Polri Bercermin  |  Masyarakat Tak Perlukan FPI  |  Bollywood Bikin Film Tentang Yesus Semasa Kecil  |  Wanita Katolik Buka Warung Murah Untuk Buka Puasa  | 

Suluh

22 September 2008

Ricky Subrata, Layani Anak Cacat, Jawab Panggilan Tuhan

Pengusaha Periklanan

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Itu ungkapan klasik yang menggambarkan eratnya sifat orang tua dengan anaknya. Artinya, banyak sifat dan kebiasaan  orang tua seringkali terbias dan terpola pada diri anaknya. Demikian pula ungkapan itu menggambarkan

kehidupan Ricky Subrata kini. Kebiasaan hidup orang tuanya yang mengedepankan sikap beramal terhadap sesama yang lemah dan tak berdaya, seolah mengaliri “roh” Ricky yang juga suka beramal. Setiap kali memandang anak-anak jalanan, pengemis, pemulung, bahkan yang mengalami cacat fisik yang sepertinya tidak terawat karena berada di jalanan,  kerap menimbulkan rasa iba dalam dirinya.

Bukan hanya sebatas rasa iba, Ricky, punya keinginan kuat untuk melakukan aksi nyata membantu anak-anak itu. Namun, ia menyadari akan keterbatasannya. Di usianya yang baru memasuki 20 tahun kala itu, terpaksa keinginannya itu dibungkus apik dalam benak dan hatinya sambil berharap suatu ketika akan terwujud.

Disergap oleh banyaknya pekerjaan yang harus dituntaskannya, keinginan tadi nyaris terlupakan. “Yang ada hanya pikir kerja dan keluarga melulu. Waktu 24 jam terisi penuh,” ujarnya. Tapi seiring berjalannya waktu, tepatnya sekitar tahun 2003 lalu, kesadarannya pun seakan terbangun kembali untuk kepentingan umum dan anak-anak tak berdaya.

Saat pembangunan gedung Gereja Santa Helena, Karawaci, sedikit tersendat karena keterbatasan dana, pria kelahiran 18 September 1959 ini bangkit menancapkan niatnya membantu melancarkan pembangunan gereja. Itu berawal dari ibunya yang memintanya untuk turut berpikir mencari dana pembangunan gereja. “Sebelumnya, ternyata ibuku sudah sampaikan ke Pastor Andreas Dedi, OSC agar saya diminta bekerja mencari dana pembangunan gereja,” kisahnya. Baginya, permintaan ibunya itu mengingatkan dirinya akan kisah dalam Kitab Suci yang menceritakan Bunda Maria meminta putranya, Yesus, untuk membantu penyelenggara pesta pernikahan di Kana yang kekurangan anggur. “Jadi, permintaan Ibu, terasa bagai suara Bunda Maria yang kuyakini selalu menjaga ziarah hidupku setiap hari,” sambungnya. Selang beberapa hari kemudian Pastor Dedi secara nyata meminta bantuannya.

Didorong oleh semangat keyakinan itulah suami Herisa ini lalu terjun langsung mencari dana pembangunan gereja. Upaya pertama yang dilakukannya adalah mengadakan konser. Tentunya dibuat kupon atau tiket dan dijual terutama kepada rekan-rekan kerjanya serta kenalan-kenalan lainnya yang dirasa mampu membeli, dengan motif ikhlas menolong.  “Hasilnya cukup memuaskan,” tandas ayah tiga anak ini di rumahnya, Minggu, 21 September 2008.

    Dapat diatasi

Di tengah sibuknya mencari dana pembangunan Gereja Santa Helena,  pengusaha di bidang periklanan ini, lalu tersentuh lagi jiwa pelayanan sosialnya pada anak-anak telantar, cacat fisik, dan gangguan mental yang dibimbing para suster ALMA di bawah payung Yayasan Bhakti Luhur. “Suster Marcellina yang hadir pada malam pergelaran konser cari dana tahun 2003 lalu itu mengisahkan karya-karya mereka di yayasan ini, yang membuat saya jadi iba dan ikut membantu,” jelasnya. Keinginan Ricky untuk membantu, juga didorong oleh keinginannya mewujudkan cita-citanya waktu berusia 20 tahun dulu. “Karena saya dulu bertekad mengumpulkan dan merawat, serta membimbing anak-anak jalanan, pengemis, dan cacat, maka kini saya lakukan meski bergabung dan mendukung para Suster ALMA,” lanjutnya.

Sejak saat itu, Ricky bergabung di Perkasih (Persaudaraan Kasih), sebuah perhimpunan kaum awam gereja yang khusus membantu dan mendukung karya Suster ALMA. Keterlibatannya di perhimpunan ini menambah angin segar bagi para suster. Dia bersama teman-temannya di Perkasih tak henti-hentinya berpikir dan bekerja memperjuangkan eksistensi karya Suster ALMA. “Ini adalah panggilan Tuhan bagiku. Kehadiran anak-anak cacat merupakan wadah Tuhan memanggil saya untuk melayani-Nya,”  ujarnya seraya menambahkan bahwa dirinya bahagia dan bangga sebab istri tercinta sangat mendukung kegiatan pelayanannya.

Sejauh ini, beberapa kendala yang dialami yayasan ini, khususnya cabang Jakarta, dapat diatasi. Hal ini tampak pada berhasilnya Perkasih membantu membangun beberapa gedung tambahan di daerah lain untuk perluasan tempat anak-anak cacat dirawat dan dibimbing.  “Kami bantu mencari lahan dan membangun gedung lain sebab jumlah anak-anak cacat yang masuk di panti ini bertambah tiap tahun,” katanya. Perjuangan dukungan ini, menurut Ricky, tentunya berlanjut dari tahun ke tahun. Meski begitu, lanjutnya, menunjukkan kepedulian terhadap orang-orang kecil, seperti anak-anak cacat merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terkatakan dan mutiara yang tak berhingga nilainya. ? Stevie Agas

Bookmark and Share

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.423.309 Hit: 2.023.047 Since: 14.11.05 | 0.899 sec | TOP
Online Support :