Melasari, Istri Gembala MDC Medan
REFORMATA.com - SAAT matahari terbenam, rasa gelisah mulai membelenggu dirinya. Perasaan sumpek pun tiada tertahankan. Kondisi itulah yang selalu menghantui Melasari. Jika sudah begini, wanita kelahiran Malang, Jawa Timur 28 Juli 1961 ini hanya bisa menutupi wajahnya dengan bantal. Dengan cara itu, perempuan keturunan Tionghoa ini berusaha menemukan kedamaian. “Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya tidak dapat tidur pulas. Ada rasa takut mati. Setiap malam selalu gelisah. Saya tidak bisa diskusi dengan orang tua,” tutur ibu dari Joshua dan Kezya ini tentang kondisinya di masa lalu. Saat itu dia memang belum mengenal dan menerima Kristus.
Bagaimana Melasari lepas dari rasa takut dan kegelisahan yang membelenggu hidupnya? Apakah ini menjadi titik awal yang menghantar dirinya untuk mengenal kekristenan, dan menjadi pengikut Kristus, hingga setia melayani?
Titik awal
Kehadiran seorang anak dari keluarga broken home yang dititipkan di rumah Melasari, membuat Melasari mulai mengenal gereja. Anak itu sering menghadiri acara “Rabu Ceria”, semacam kegiatan bagi anak-anak sekolah minggu. Melasari yang masih kanak-kanak pun juga mengikutinya. Dari situ pula Melasari mulai pergi ke gereja. Tapi orang tuanya berpesan, “Kami tidak membatasi kamu ke gereja, tapi tidak boleh percaya sungguh-sungguh”.
Hingga SMP, Melasari tetap ke gereja karena pengaruh saudaranya. Namun, setelah masuk SMA, Melasari tidak lagi ke gereja karena saudaranya kembali ke Surabaya. Ketika menjadi mahasiswa, dia kembali ke gereja. “Di gereja saya menemukan jawaban: Memberi hidup bagi Kristus, maka hidup menjadi berubah. Saya tidak takut lagi, karena Kristus memberi keselamatan jiwa,” kisahnya dengan wajah berbinar.
Di usia yang ke-20 tahun, Melasari menjadi petobat baru. Melasari bertumbuh dan mulai melayani di Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Surabaya. Dia melanjutkan studi di STI&K (Sekolah Tinggi Informatika dan komputer) Jakarta, dan menda-patkan gelar insinyur. Keaktifan-nya di persekutuan doa (PD) kampus mempertemukan dia dengan Yusak Toto, yang juga adalah pengurus PD kampus. Setelah menjalin hubungan beberapa tahun, keduanya menikah 1991. Setelah mene-kuni dunia bisnis selama bebera-pa tahun, akhirnya sejak tahun 2000, sang suami memutuskan melayani Tuhan secara full time, dan ini didukung sepenuhnya oleh Melasari.
Keterlibatan awal
Peralihan dari seorang istri businessman menjadi istri hamba Tuhan tentu mengandung banyak konsekuensi. Namun hal ini kelihatannya dapat diterima dengan ikhlas oleh Melasari sehingga dia bisa menjalaninya dengan sangat baik.
“Setiap pelayanan ada pergumulannya, apalagi beralih dari istri busnismen menjadi istri hamba Tuhan. Tuntutannya banyak, membuat saya harus bisa semuanya, termasuk sebagai spritual mother,” urai Melasari.
Melasari mengisahkan, awal-awal mendampingi suami sebagai hamba Tuhan, Melasari harus bisa mengelola keuangan dengan berdebar. Setiap kali diajak bicara, selalu menangis. Mulanya sulit baginya untuk memahami bagaimana kehidupan sebagai hamba Tuhan tanpa pengha-silan. “Saya takut Tuhan. Saya takut melawan Tuhan dan suami. Hati mau diserahkan, namun pikiran bergejolak terus,” ingat ibu dua anak ini. “Orang percaya memang harus selalu menye-rahkan ketakutan kepada Tuhan, dan belajar bagaimana Tuhan menolong,” tambah pemilik rumah singgah CAHAYA BARU ini, dengan penuh hikmat.
Melasari sedikit demi sedikit mulai diteguhkan untuk men-jalani hidupnya sebagai istri hamba Tuhan. Pertolongan Tuhan benar-benar nyata, memproses kehidupannya untuk bersandar penuh. Hingga kembali proses Tuhan luar biasa di tahun 2003. Melasari harus mendampingi pelayanan suami di Medan yang dipercaya menjadi gembala di Gereja Masa Depan Cerah (MDC) Medan. Meng-hadapi kebudayaan baru, dengan latar belakang yang jauh berbeda, dari Nias, Medan, dan Karo. Segala tuntutan yang harus membentuk hatinya, un-tuk sungguh-sungguh melayani Tuhan dengan kerendahan hati.
Keyakinan bahwa Tuhan memanggil, memberkati dan memperlengkapi, dia tidak segan-segan untuk belajar dari suami, teman-teman sekitar. Ini membuat Melasari tidak hanya sebagai istri hamba Tuhan, tapi benar-benar menjadi hamba Tuhan melalui keterlibatannya mengajar di sekolah minggu, konseling, dan menjadi pem-bicara di Persekutuan Wanita. Aktivitas-aktivitas kerohanian itu merupakan sarana yang membentuk Melasari menjadi seorang pembicara yang baik.
Tapi itu semua bisa dicapai Melasari adalah juga berkat adanya dukungan dari suami yang luar biasa. “Suami saya sangat mendu-kung aktivitas yang bisa mengembangkan saya. Dia memberi saya banyak kesem-patan,” aku wanita yang suka mem-baca dan berenang ini. “Hidup bukan hanya bertahan menghadapi masa sulit, tapi membawa perubahan dalam keadaan tersulit” menjadi moto wanita melankolik ini.
Proses yang panjang, menghantar Melasari keluar dari ketakutan, karena ketakutannya diserahkan kepada Tuhan. Melasari tidak hanya menjadi seorang Kristen, namun hidupnya diserahkan untuk melayani DIA. “Setiap kita dipanggil oleh panggilan khusus, untuk merespon secara spesifik. Tuhan tidak iseng menciptakan kita, Tuhan memilih kita untuk menyelesaikan bagian kita,” pesan Melasari.
Lidya Wattimena