Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Utama

Israel Menyerang Atau Membela Diri?

Posted : 04 Agustus 2010
israel.jpg

Gelombang demonstrasi mengutuk “serangan” Israel atas kapal kemanusiaan Mavi Marmara belum reda. Karena serangan itu, Israel menuai kecaman internasional, termasu dari umat Kristen.

Reformata.com IRING-iringan delapan kapal kemanusiaan bergerak meninggalkan Turki menuju Jalur Gaza pada Minggu 31 Mei silam. Kapal-kapal yang membawa sekitar 800 relawan, aktivis, jurnalis, serta 10.000 ton bahan bantuan makanan serta material bangunan itu bermaksud menerobos blokade Israel menuju jalur Gaza.
Tapi, sekitar pukul 04.00, waktu setempat, saat berada di 65 km lepas pantai Gaza, kapal tersebut dihadang militer Israel yang sudah menunggunya. “Waktu itu kami sedang salat subuh berjamaah. Tiba-tiba terdengar seperti ada suara ledakan. Lalu saya keluar jaga-jaga di dek. Saya langsung berusaha menghalau mereka (tentara Israel) dengan menyemprotkan gas pemadam kebakaran. Tapi tidak ada gunanya, karena mereka menyerang juga dari atas helikopter,” cerita Okvianto Baharuddin, salah satu relawan asal Indonesia untuk Palestina yang ikut menjadi korban serangan Israel dalam insiden Mavi Marmara tersebut.
Tembakan dari helikopter oleh tentara Israel akhirnya juga mendarat di tangannya. Setelah menguasai kapal, lanjut Ovi – begitu ia biasa disapa -, para relawan dibawa ke dalam kapal dengan tangan diborgol. “Yang saya ingat, setelah siang, dalam perjalanan kami dibawa ke Israel, kapal kami dikawal oleh dua kapal perang besar, dua kapal berukuran sedang, dan banyak speedboat,” lanjut pria yang mengaku akan terus berjuang sampai Palestina menjadi negara yang merdeka ini.

Kecaman dunia
Menanggapi penyerangan itu, pemerintah Indonesia menyatakan mengutuk keras penyerangan yang menyebabkan korban tewas disertai penahanan seluruh awak kapal itu. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan blokade Israel terhadap Gaza itu sendiri sudah merupakan pelanggaran hukum internasional. Selain itu, tidak ada dasar bagi Israel untuk menyergap kapal dan memblokade wilayah Gaza ini. Dia menilai, kesalahan Israel sekarang bukan saja tindakan penyergapan, tetapi bahkan blokade yang mereka lakukan. “Jadi ada multiple guilt, ada kesalahan atau pelanggaran yang sifatnya multidimensional, penyergapannya maupun blokadenya, itu masalah besarnya,” jelasnya.
Kecaman keras  datang langsung dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon. Ia mengaku sangat terkejut dengan kebrutalan Israel yang menembaki kapal pembawa bantuan misi kemanusiaan tersebut. “Penyerangan ini harus diinvestigasi secara menyeluruh untuk mengetahui mengapa bisa terjadi pertumpahan darah. Israel harus memberi penjelasan secara lengkap mengenai insiden ini,” tandas Ban.
Beberapa negara lain turut mengecam serangan terhadap kemanusiaan yang dikhabarkan menewaskan 19  orang dan melukai ratusan  penumpang lain yang mayoritas relawan lebih dari 40 negara dari seluruh dunia itu. Selain dari Indonesia, kecaman datang dari Turki, Pakistan, Spanyol, Iran dan Italia. Amerika Serikat sebagai sekutu Israel hanya menyatakan prihatin atas terjadinya peristiwa ini. 
Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa langsung memanggil Duta Besar Israel di negara masing-masing untuk memberi penjelasan  insiden berdarah itu. Duta besar dari 27 negara Uni Eropa bahkan langsung menggelar rapat mendadak membahas insiden berdarah di perairan Gaza. Memang, dari ratusan relawan yang ditembaki Israel, terdapat puluhan warga Uni Eropa, termasuk 28 warga Inggris, puluhan warga Yunani dan Irlandia. “Saya mengutuk sekeras-kerasnya pembunuhan warga sipil oleh Israel,” tutur Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini.   Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan tindakan Israel sebagai bentuk pembantaian massal. 

Membela diri?
Laporan jurnalis mengatakan bahwa Israel-lah yang pertama-tama menyerang kapal tersebut. Tapi pihak Israel menandaskan bahwa serangan tersebut dilakukan karena kapal mengabaikan peringatan mereka serta meyakini ada ratusan pejuang militan di kapal tersebut. Israel juga menyatakan tentaranya diserang dengan menggunakan pisau dan benda tajam lain saat hendak mengamankan kapal.
Beberapa sumber luar negeri juga memberitakan bahwa awalnya pasukan Israel diturunkan dengan senjata berpeluru karet. Tapi karena ada perlawanan dari para relawan dengan memakai macam-macam benda, akhirnya gelombang berikut datang dan melakukan penyerangan. Hal itu dibuktikan oleh adanya spasi waktu lebih dari lima menit di antara pendaratan pertama dan bunyi tembakan. “Jadi yang dilakukan Israel sebenarnya merupakan upaya pembelaan diri atas serangan yang dilakukan atas pasukannya,” kata sebuah sumber.
Israel menegaskan bahwa blokade yang dilakukan ke jalur Gaza sangat penting untuk mencegah masuknya pasukan Hamas ke daerah mereka untuk menguasai persenjataan militer. Lantaran itu, ketika didesak untuk mendatangkan penyelidik internasional untuk menyelidiki kasus itu, Israel menolak. Paul Makugoru/dbs
 

62
22 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 18.2298 sec | TOP
Online Support :