Kecaman dan kutukan dialamatkan pada Israel karena penyerangannya atas kapal Mavi Marmara. Pantaskah Israel dikutuk karena insiden itu?
SEBUAH spanduk berukuran raksasa terbentang di dinding salah satu sisi aula Muhammadiyah, Jakarta, pada 1 Juni silam. “Israel biadab! Israel Terkutuk!” demikian bunyi tulisan berwarna putih yang ditoreh di atas kain hitam legam sehingga dari jauh pun tulisan itu gampang dibaca. Di depan tulisan itu duduk para tokoh agama yang mewakili agama-agama yang ada di Indonesia yang saat itu menyampaikan keprihatinannya atas serangan Israel atas kapal kemanusiaan Mavi Marmara. Setiap perwakilan agama dipersilakan menyampaikan tang-gapannya atas tragedi kemanu-siaan itu kepada para wartawan.
“Tidak ada kata lain yang bisa diungkapkan kecuali sebuah kebiadaban. Itu tindakan biadab yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak berperi-kemanusiaan,” kata Din Syamsudin, ketua umum PP Muhammadiyah, sembari menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah pelang-garan HAM berat dan juga per-buatan yang mengekspresikan bentuk terorisme yang nyata. “Kami mengutuk serangan tentara Israel atas serangannya terhadap misi bantuan kemanusiaan dan mencederai kemanusiaan rakyat Gaza yang sangat menderita yang juga dilanjutkan dengan blokade darat dan laut,” tambahnya.
Kucilkan Israel
Sembari mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya para relawan kemanusiaan, Romo Benny Susetyo Pr., Sekretaris Eksekutif Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) menya-takan bahwa Israel telah melanggar etika dan hukum internasional. “Kita berharap agar blokade segera dibuka antara Israel dan Mesir. Kebutuhannya sekarang adalah bagaimana komunitas internasional tidak hanya mengutuk keras, tapi juga segera mengakhiri agresi Israel itu,” katanya.
Ia meminta Mahkamah Inter-nasional melakukan investigasi, bahkan mengucilkan Israel dari pergaulan internasional. Dewan Keamanan PBB juga dihimbau untuk segera membentuk pa-sukan internasional. “Agar masya-rakat sipil yang seharusnya menda-patkan hak-hak sipil dan jaminan untuk tidak diserang,” katanya.
Pastor Katolik ini mengemukakan pula bahwa sudah sering terjadi Israel mengkhianati janji dan bahkan komitmen untuk memperjuangkan Palestina yang adil dan damai. “Sampai sekarang ini Israel selalu mendua sikapnya. Maka diperlukan tekanan internasional,” katanya sembari menegaskan pentingnya upaya untuk mendorong kekuatan masyarakat sedunia untuk mem-bangun solidaritas dunia saat ini.
Menurut PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) penyerangan itu merupakan pengabaian terhadap harkat dan martabat kemanusiaan. “Insiden ini jelas-jelas merupakan suatu tindakan arogansi dan kekejaman Israel, yang tidak dapat dibenarkan,” tulis PGI dalam press release yang ditandatangani Pdt. Dr. AA. Yewangoe (Ketua Umum) dan Pdt. Gomar Gultom, MTh (Sekretaris Umum) itu. Apa pun alasannya, lanjut PGI, tindakan ini telah mencederai upaya-upaya menuju perdamaian Israel-Palestina yang diperjuangkan oleh komunitas internasional.
Sembari meminta PBB memaksa Israel dan Mesir mencabut blokade masuknya upaya dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, PGI meminta pasukan PBB yang bertugas di perbatasan Palestina-Israel untuk mengawasi dan mengawal iring-iringan bantuan kema-nusiaan supaya insiden serupa ti-dak terulang kem-bali. PGI juga menghimbau seluruh elemen bangsa, terutama umat kristiani untuk berdoa bagi seluruh upaya perdamaian di Timur Tengah dan bersama-sama maupun sendiri-sendiri menyerukan solidaritas atas para korban.
Cermati dulu
Tak semua orang setuju dengan kecaman dan bahkan kutukan atas Israel itu. Di banyak persekutuan doa, jemaat Kristen tekun mendoakan “kemenangan” Israel, terutama agar Israel dapat menemukan jalan keluar dari kemelut yang sedang dialaminya kini. “Cermati dulu bagaimana per-sisnya peristiwa yang sebenarnya sebelum menyampaikan kutukan dan kecaman,” kata mantan anggota DPR-RI dari F-PDS Adrian Tapada.
Berdasarkan pantauannya atas berita-berita dari luar negeri, tindakan yang dilakukan Israel itu murni merupakan upaya untuk membela diri. Kekerasan terpaksa diambil karena peringatan keras yang diserukan berulang-ulang oleh Israel tidak ditaati. “Ketika pasukan Israel diturunkan untuk memastikan bahwa kapal itu bersih dari kaum militan, muncul serangan dari orang-orang yang berada dalam kapal itu. Itulah yang menyebabkan tindakan keras Israel,” katanya semberi menambahkan bahwa kapal-kapal itu diawasi karena dicurigai menye-lundupkan senjata untuk kelompok anti-Israel di Palestina.
Gereja, kata dia, tak perlu ikut-ikutan mengutuk Israel karena mengutuk itu bukan watak sejati gereja. “Umat Kristen disuruh untuk mengasihi, juga kepada musuh, bukan malah mengutuk,” katanya. Menyitir Kejadian 12, Adrian menegaskan bahwa tidak selayaknya gereja ikut-ikutan mengutuk Israel. “Para pemimpin agama itu jangan hanya mengutuk Israel tapi juga mengutuk penutupan gereja yang sering terjadi di Indonesia,” katanya. Paul Makugoru.