Demonstrasi anti Israel terus bergulir. Isu yang diangkat merambah ke mana-mana. Apa persoalan inti yang terjadi di sana saat ini?
BUNTUT penyerangan Israel atas kapal kemanusiaan Mavi Marmara, demonstrasi digelorakan di mana-mana. Hampir setiap hari terjadi demonstrasi anti Israel. Isu yang diangkat pun beragam. Mulai dari tuntutan agar PBB menindak tegas Israel, segera dideklarasikannya kemerdekaan Palestina, tuntutan agar AS lebih adil dalam menangani masalah Timur Tengah, sampai pada penolakan atas eksistensi Israel di Timur Tengah.
Yang menarik, kecenderungan untuk menarik masalah Paletina-Israel ke dalam wilayah agama cukup kental tarasa di beberapa daerah di Indonesia. Konflik antara Israel-Palestina, ditarik seolah-olah menjadi konflik antara Yahudi dan Islam. Juga antara Islam dengan Kristen karena Kristen dianggap sangat dekat bahkan diidentikkan dengan Israel. Di Surabaya misalnya, sebuah sinagoge dikabarkan telah diserang oleh sekelompok orang.
Mengantisipasi hal itu – dan sekaligus meluruskan isu yang berkembang liar -, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beberapa kali menegaskan bahwa masalah Palestina-Israel bukan masalah agama tapi soal politik dan hak atas tanah. “Jangan kita tarik ke dalam wilayah agama,” kata Presiden.
Empat perspektif
Masalah Palestina-Israel kini, kata Pdt. Yerry E. Tawalu-jan M.Th., perlu dilihat dalam empat per-spektif, yaitu perspektif aga-ma, perspektif politik, perspektif keadilan dan perspektif kema-nusiaan. Yang pertama, dari perspektif agama, haruslah ditegaskan bahwa konflik ini bukanlah konflik agama, tapi maslah politik dan klaim atas tanah. “Bukan juga antara Kristen dan Islam. Israel memang sering diidentikkan dengan Kristen, padahal bukan. Malah banyak Kristen Palestina yang menjadi korban. Faktanya, tentara Israel banyak yang menutup dan menghancurkan gereja-gereja Kristen yang ada di Palestina karena dianggap menyembunyikan pejuang Palestina,” urai Sekjen Bless Indonesia 2020 ini.
Perspektif kedua yaitu politik, lebih berhubungan dengan kemerdekaan dan hak-hak atas tanah. Masalahnya, siapakah yang paling berhak atas tanah itu? Apakah tanah itu merupakan milik Israel? Kitab Suci yang biasanya menjadi rujukan bagi umat Israel maupun Kristen tidak dengan jelas mengatakan bahwa tanah itu milik orang Israel. “Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa itu adalah tanah Israel. Tanah itu hanya disebutkan sebagai tanah Kanaan atau tanah Perjanjian,” katanya. Bertolak dari Imamat 2: 23, terlihat bahwa Allah-lah pemilik tanah itu. Orang Israel adalah orang asing dan pendatang.
Dalam perspektif keadilan, perlulah diupayakan agar hak bangsa Palestina atas tanah yang telah ditempatinya 2.000-an tahun diperjuangkan. “Setelah 2.000-an tahun orang Israel keluar dari tanah itu, maka dalam rentang waktu 2.000 tahun itu sudah ada orang-orang lain yang tinggal di situ. Tidak sedikit orang Palestina, dalamnya juga ada orang Kris-ten Palestina, yang sudah hidup di situ ribuan tahun, eh oleh ten-tara Israel di-paksa untuk meninggalkan rumah mereka, kemudian dibuang sebagai pengungsi. Ketika mereka kembali ke rumahnya, ternyata sudah diisi oleh imigran yang baru datang dari Eropa atau Rusia. Apa ganti rugi pemerintahan Israel bagi bangsa Palestina yang sudah hidup ribuan tahun di tanah itu?” tanya Yerry.
Dalam perspektif kemanusiaan, nasib para pengungsi Paletina harus menjadi fokus perhatian seluruh bangsa di dunia.
Gampang beraksi
Penyerangan Israel atas kapal Mavi Marmara, menurut Ketua Umum PGLII (Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia) Pdt. Dr. Nus Reimas M. Th., dimungkinkan oleh posisi Israel yang selalu merasa “terjepit”. “Keadaan geografisnya yang dikelilingi oleh negara-negara Arab yang berbeda secara ideologi dan agama, membuat Israel sangat memproteksi dirinya. Beberapa kali timbul konflik terbuka dengan negara-negara Arab, seperti dengan Mesir. Israel menjadi sangat protektif karena dia merasa terancam setiap saat secara politik dan keamanan,” jelas Nus.
Israel, tambahnya, memiliki kewaspadaan atas hal-hal yang berbau teror. Jadi segala sesuatu yang berbau mengancam negerinya selalu ditumpasnya. Sebelum ancaman itu muncul, mereka selesesaikan dengan beerbagai macam cara.
internasional.
Insiden Mavi Marmara, menurut Nus, tidak bakal terjadi bila masing-masing pihak – baik Israel maupun pembawa bantuan kemanusiaan – tidak berkeras kehendak. “Kenapa di dunia modern ini kita mesti keras-kerasan? Kapal itu mau mengeraskan hati untuk datang, sementara Israel sudah bilang jangan. Alangkah baiknya kalau semuanya diadakan pendekatan secara manusiawi melalui jalur PBB yang bisa masukkan bantuan. Tarulah diserahkan ke Mesir atau melalui Yordania. Kenapa kapal Marmara harus memforsir bahwa kita harus datang. Jadi ini seakan-akan Israel gila sendiri, padahal semua yang lain juga gila,” ujarnya. Paul Makugoru.