Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Utama

Samakah Israel Modern Dengan Israel Perjanjian?

Posted : 04 Agustus 2010
20081118144627.jpg
Pesawat Tempur Canggih Milik Israel

Sepak terjangnya memancing tanya: Benarkah Israel kini adalah bangsa pilihan Allah? Perbedaan pandangan teologis dalam gereja soal ini masih kuat.

KETIKA sekelompok warga dan  pimpinan gereja mengecam serangan  brutal Israel terhadap pendudukan Israel atas tanah Palestina, sekelompok warga dan pimpinan gereja yang lain berkumpul dan menggelar doa agar Israel menang terhadap “musuh-musuhnya”. Kedua sikap yang berbeda ini, berangkat dari pan-dangan  yang berbeda atas Israel. Ada yang melihat Israel kini umat pilihan Allah. Tapi tak sedikit pula yang menganggap Israel kini berbeda dengan Israel Perjanjian.
“Memang tidak bisa disamakan begitu saja dengan bangsa Israel yang ada dalam Alkitab kita. Bangsa Israel yang sekarang ini lebih bersifat politis dari pada keagamaan,” kata Pdt. Dr. Barnabas Ludji M.Th. Menurut dosen Perjanjian Lama STT Cipanas ini, bangsa Israel yang sekarang ini adalah bangsa yang dulu tersebar di mana-mana, lalu men-dirikan sebuah negara demokrasi, bukan theokrasi. “Jadi jangan kita menyamakan Israel dalam  Alkitab dengan yang sekarang. Apalagi, tidak semua orang Israel yang sekarang ini percaya pada Alkitab itu,” jelasnya. Ia meminta umat Kristen untuk tidak mengindentifikasikan dirinya sama seperti Israel.  “Di sana juga gereja dibakar sama orang Israel. Mungkin bukan karena soal agama, tapi karena soal politik,” tambahnya.

Konteks liturgis
Karena dianggap sama persis, tak sedikit umat Kristen yang sangat keberatan ketika Israel dikecam atau bahkan dikutuk, pun oleh para pimpinan Kristen, atas tindakan-tindakan mereka. Apalagi ketika dihubungkan dengan nats Bilangan 24: 9 “Diberkatilah orang yang memberkati engkau dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!” Ditafsirkan bahwa  bila kita mengutuk Israel – bisa jadi karena tindakannya yang tak manusiawi – maka kita menjadi orang terkutuk pula.
Benarkah Alkitab memaksudkan demikian? Menurut doktor dalam bidang Perjanjian Lama ini, teks tersebut tak bisa ditafsirkan secara harafiah seperti itu. Penulisan Alkitab, jelasnya, bersifat liturgis atau dalam kepentingan dan kerangka ibadah. Di sana ada ucapan berkat dan kutuk. “Dalam liturgi kita selalu ada unsur berkat. Itu berarti mengharapkan Tuhan akan memberkati umat-Nya,” katanya.  
Dulu bangsa Israel dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang juga membenci Israel, yang dari sisi sosial politik, juga saling berebut tanah. Lalu, karena mereka sudah menjadi orang beragama, maka dalam  liturgi itu ada kutuk dan berkat. Para imam juga suka mengucapkan itu. “Itu mau mengakui bahwa  apa yang terjadi bagi mereka dalam kehidupan mereka, misalnya tekanan dari bangsa lain, mereka tetap percayakan kepada Tuhan. Jadi berkat dan kutuk itu mau menekankan bahwa keadaan sulit yang mereka hadapi akan diakhiri oleh Tuhan. Mereka tidak memikirkan siapa musuhnya, tapi yang paling penting adalah harapan mereka  akan campur tangan Tuhan,” urainya.
Teks itu, lanjut Barnabas, mau menegaskan pengakuan akan kekuasaan Allah yang dapat memberkati tetapi juga dapat memberikan kutukan kepada musuh Israel. Kutukan dunia atas Israel didorong oleh pebuatan Israel yang melawan hukum internasional. Teks itu juga tidak bertujuan untuk menonjolkan eksklusivitas pilihan Allah atas Israel. “Tuhan itu mengasi semua bangsa dengan cara Allah sendiri,” katanya.
Kejadian 12 juga berpesan sama. Teks itu ditulis saat kerajaan Israel mencapai puncak kekuasaan di bawah Daud. Saat itu, banyak bangsa ditaklukan dan menjadi bagian dari kerajaan Israel. Karena penaklukan itu, orang Israel lalu merasa berkuasa dan menindas bangsa lainnya. Dalam konteks sosial politik seperti itulah teks ini muncul. “Cerita itu dibuat agar orang Israel menghargai bangsa-bangsa lain. Tulisan itu punya misi positif yaitu membangun keber-samaan dengan bangsa-bangsa lain,” tegas Barnabas.

Akar Judaisme   
Gembala Sidang Shoresh Messianic Fellowship Pdt. Benyamin Obadyah berpendapat lain.
Menurut dia, per-janjian Allah de-ngan Abraham serta keturunannya tidak pernah dibatalkan. Maka tidak bisa dikatakan bahwa Israel yang sekarang itu tidak ada hubungannya dengan yang lalu. “Umat Kristen Indonesia sebaiknya  dalam posisi memberkati umat yang sudah dipilih pertama yaitu Israel. Melalui  mereka, kita yang sebelumnya tidak tahu apa-apa, lalu  kenal Tuhan yang benar.
Benyamin juga percaya bila kebangkitan Israel merupakan tanda kedatangan Yesus yang kedua. “Kita memang harus berpihak pada Israel, karena waktu Yesus Kristus datang kedua kali, Dia datang sebagai orang Ibrani. Ia akan datang dan memerintah dalam kerajaan 1.000 tahun. Semua bangsa akan datang dan menyembah Dia,” jelasnya sambil menambahkan bahwa Israel tetap menjadi biji mata Tuhan. “Waktu kita memberkati Israel, berkat itu datang kepada kita. Jadi ada satu siklus yag ada dalam janji Abraham.”
Paul Makugoru.

63
26 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 20.3786 sec | TOP
Online Support :