Bagaimana posisi gereja dalam melihat penderitaan rakyat Palestina?
Kita mendukung setiap upaya yang ingin melepaskan diri dari ketidakadilan. Di sana betul sedang terjadi ketidakadilan. Kalau Gaza itu diblokade, orang tidak bisa apa-apa. Apalagi Mesir juga menutup pintunya. Anak-anak tidak bisa makan. Apakah kita sebagai umat Kristen membiarkan hal seperti itu? Apakah kita hanya diam dan mengatakan bahwa Israel itu adalah umat pilihan Tuhan? Klaim itu belum tentu betul. Kan banyak orang Israel yang juga ateis. Kita perlu turut berjuang agar orang Palestina mendapatkan home-nya. Jangan mereka menjadi pengungsi saja.
Mengapa gereja agak ragu-ragu bersikap terhadap kekerasan Israel?
Itu karena masih banyak orang Kristen yang menganut paham dispensasionalisme. Mereka membagi alam semesta ini dalam tujuh era. Era pertama hingga ke 6 sudah terjadi. Kini umat manusia menantikan fase ke tujuh yaitu menuju kepada kedatangan kembali Kristus. Nah, salah satu ciri dari kedatangan Kristus itu adalah bahwa Israel itu harus kembali ke Tanah Perjanjian. Dan dalam penafsiran kaum Zionisme Kristen, kembalinya orang Yahudi ke tanah Palestina adalah terbentuknya negara Israel.
Apa hubungannya dengan sikap terhadap Israel?
Logika mereka, kalau sungguh-sungguh menginginkan kedatang-an Yesus Kristus maka berdirinya negara Israel itu harus diterima. Hal selebihnya adalah, apa pun yang dilakukan oleh negara Israel itu harus diakui sebagai sesuatu yang memang sudah harus begitu. Karena keyakinan seperti ini maka perbuatan kekejaman Israel terhadap Palestina, misalnya terhadap GAZA itu dianggap tidak penting. Yang penting itu adalah kedatangan kembali Kristus.
Ketika terjadi peristiwa kapal Mavi Marmara, esoknya saya sudah terima beberapa email bahwa kami berdiri di belakang Israel. Saya tidak tahu siapa yang kirim, karena tidak jelas. Tapi saya duga bahwa kiriman itu berasal dari kelompok itu. Mereka katakan bahwa itu adalah sebuah pembelaan diri Israel dan kami mendukung.
Seberapa besar penga-ruh pandangan ini?
Saya kira cukup berpengaruh, bahkan juga untuk beberapa kalangan Kristen di Indonesia. Dalam berbagai percakapan, baik resmi maupun tidak, selalu ditanyakan, mengapa Israel itu didakwa, kenapa Israel itu dikecam? Dan itu juga bersumber dari suatu paham yang keliru yang mengidentikkan Israel itu dengan orang Kristen. Dan sebaliknya, orang Palestina dengan orang Islam. Identifikasi semacam ini tidak hanya di Kristen, tapi di Islam juga. Ini yang kita harus kita luruskan.
Apakah Yerusalem masih harus dianggap sebagi pusat kiblat kekristenan?
Memang Yerusalem itu penting, bahkan untuk tiga agama yaitu Kristen, Islam dan Yahudi. Karena bagai-mana pun segala orang kudus yang menjadi pelopor dan pendiri dan yang dipuja oleh ketiga agama itu berperanan di kota itu.
Tetapi dari kacamata teologia Kristen, paling tidak menurut salah satu tafsiran adalah, apakah Yerusalem itu begitu penting dalam arti seolah-olah dia sebagai sesuatu yang begitu sakral. Padahal jemaat perdana pada waktu itu justru melihat Yerusalem fisik sebagai tidak lagi penting. Dalam kitab Wahyu dibilang: “Aku melihat Yerusalem baru yang turun dari surga!”. Itu mengin-dikasikan bahwa bagi jemaat perdana, Yerusalem yang sesung-guhnya adalah yang turun dari surga itu, yang dalam pemahaman ini menggantikan Yerusalem fisik itu.
Dan kalau kita ikut yang dikatakan Yesus bahwa tidak akan ada lagi satu bata pun tersusun satu dengan yang lain di kota itu. Itu terjadi pada tahun 70, ketika Jenderal Titus menghantam dan menghancukan Yerusalem. Dan dalam pandangan Yesus, itu teologi Yesus, saya kira, justru Yerusalem adalah kota yang membunuh nabi-nabi. Dalam ingatan kolektif umat Kristen perdana, ini terngiang-ngiang dalam kepala mereka. Dalam Perjanjian Baru, posisi Yerusalem itu malah agak dikalahkan oleh posisi Galilea.
Jadi Yerusalem itu tidak penting?
Tidak juga begitu. Yang saya mau tegaskan, terutama bagi umat Kristen yang suka ke Israel, bahwa untuk tidak memahami Yerusalem fisik sekarang ini seperti orang Islam memandang Mekkah. Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh ke Yerusalem. Tapi itu terbatas kepada suatu napak tilas dan bisa memberikan kekuatan tertentu pada kita. Yesus berkata kepada perempuan Samaria, “Akan tiba saatnya Tuhan disembah bukan di gunung ini, bukan di Yerusalem, tapi di dalam roh dan kebenaran. Itu berarti ada yang lebih tinggi dari Yerusalem fisik. Nah, hal-hal yang seperti ini menurut saya perlu diangkat kembali dan ditafsir kembali.
Mengapa umat Islam terkesan sangat alergi terhadap Israel?
Saya dengar dari Ulil Abshar Abdallah bahwa dalam kacamata Islam, seluruh Timur Tengah itu adalah darul Islam, atau wilayah Islam. Tiba-tiba ada negara Yahudi yang bukan Islam, maka disebut darul harb, atau yang harus diperangi dan dimusnahkan. Jangan heran bila Ahmadinejad mengatakan bahwa Israel harus dihapus dari peta dunia. Paul Makugoru