Reformata.com KEBANYAKAN orang berpikir untuk membuka usaha karena sudah jenuh bekerja sebagai karyawan. Ada juga yang berpikir bahwa menjadi wirausaha lebih menguntungkan daripada jadi karyawan kantoran. Tapi beda dengan Candra Ginting dalam memulai usaha. Awalnya ia ikut asuransi, di mana ia harus membayar premi setiap bulannya. Ia pun berpikir bagaimana caranya untuk tetap mengikuti program asuransi tanpa harus menggangu gaji bulanannya.
Pada saat ia sedang memikirkan solusinya, dia ingat sebuah warung kelontong yang sudah lama tutup. Ia pun ambil inisiatif untuk meneruskan usaha warung tersebut. Beberapa waktu setelah menjalankan warung kelontong tersebut ia melakukan perhitungan bahwa keuntungan dari warung tersebut, setelah dipotong dengan biaya untuk modal mengisi barang dan gaji karyawan, sisanya masih dapat menutupi biaya asuransi yang harus ia bayar tiap bulan.
Pria asal Sumatera Utara ini belum merasa puas sampai di situ saja. Ia berinisiatif untuk membuka usaha lain tanpa meninggalkan warungnya. Ia membangun usaha pijat refleksi. Usaha pijat ini ia ketahui semasa kuliah ketika ia membuat tugas entrepreneurship. Ia melihat peluang di sini, dan mulai melakukan penghitungan bila menjalankan usaha ini. Tabungannya cukup untuk membangun usaha ini, dan ia memberanikan diri untuk mulai menjalankan idenya tersebut.
Awalnya, karena ia memiliki pekerjaan tetap dan jenis usaha lain yang harus ia kontrol, pengawasan terhadap bisnis pijat refleksinya tidak terlalu maksimal. Pemasukan dari usahanya ini tidak mengalami peningkatan. Sementara pengeluaran yang harus ia anggarkan tiap bulan untuk gaji karyawan dan pembayaran listrik cukup tinggi. Hal itu membuatnya memutuskan untuk menutup usahanya yang satu ini.
Setelah menutup usaha pijat refleksinya bukan berarti Candra tidak mencari usaha lain. Ia tidak menyerah begitu saja. Ia mencari tahu mengapa penyebab pijat refleksinya tidak berhasil. Temuan awal yang ia dapatkan, tempat pijat refleksi tersebut tidak strategis dan tidak banyak diketahui masyarakat. Oleh karena itu ia kembali melakukan survei terhadap usaha serupa untuk mengetahui seluk-beluk usaha tersebut seraya mencari tempat yang cukup strategis untuk membangun kembali usahanya tersebut.
Akhirnya ia menemukan tempat yang jauh lebih strategis dan lebih mendukung untuk membuka usaha serupa. Belum sebulan ia membangun usaha di tempat baru tersebut ia sudah bisa menemukan perbandingan yang cukup signifikan antara tempat sebelumnya dengan yang sekarang. Dengan kegiatan pijat yang cukup ramai, ia bisa lebih mudah menerapkan sistem kerja yang diinginkannya, namun juga tidak memberatkan karyawannya yang berjumlah empat orang. Sistem yang ia pakai bukan dengan sistem gaji melainkan dengan sistem bagi hasil. Setiap karyawan yang mendapat satu pelanggan melakukan sistem bagi hasil dengan perhitungan 60-40. Jadi Candra menerima enam puluh persen, sedangkan sisanya diterima oleh karyawannya. Perhitungan ini tentunya tidak termasuk uang makan yang diterima setiap karyawannya.
Kini dengan sistem pengawasan yang cukup ketat, namun tidak terlalu mengikat karyawannya ia sudah lebih mudah dalam menjalankan usahanya ini, baik warung maupun usaha pijat refleksinya. Satu hal yang menarik adalah bahwa ia sempat gagal dalam menjalakan usahanya ini. Namun kegagalan itu tidak menghentikan langkahnya untuk terus membangun usahanya tersebut dengan melakukan sedikit perbaikan dan pengaturan strategi yang lebih matang. Menurutnya hal ini dikarenakan rasa penasaran di dalam dirinya. Jadi ketika ia menemukan bahwa usaha yang dijalaninya gagal, ia mencari tahu apa penyebab dari kegagalan tersebut. Ia juga mencari tahu bagaimana caranya untuk mengatasi faktor-faktor penyebab kegagalan tersebut. Ia juga merasa bahwa dalam membuka usaha setiap orang memiliki kekhawatiran sendiri. Untuk itu diperlukan keyakinan yang kuat jika ingin membuka usaha. Tentunya keyakinan tersebut tidak sekadar keyakinan yang tidak didasari oleh perhitungan-perhitungan untung rugi. Menurutnya keyakinan itu memang perlu, tapi tetap diperlukan perhitungan yang matang.
Menjadi sebuah pertanyaan sendiri ketika ditemukan bahwa usaha yang digelutinya kini telah berjalan dan membuahkan hasil namun ia tetap tidak berhenti dari pekerjaan tetapnya sebagai karyawan swasta. Dengan gaya santai ia menjelaskan bahwa secara karakter ia adalah pribadi yang gemar menjadi pemimpin yang dapat mengatur dan mengorganisasikan. Karakter tersebut diikuti dengan pribadi yang puas dengan apa yang ia telah manage sebelumnya. Watak demikian ini memacu dirinya untuk terus memiliki berbagai macam jenis usaha. Bahkan kini ia pun telah memiliki warung makan yang letaknya tidak jauh dari warung kelontongnya. Jadi kini secara keseluruhan ia telah memiliki tiga jenis usaha. Yakni Warung Ginca, Pijat Refleksi dan Urut Ginca, serta warung nasi Nikmat Bersahabat. Nama bersahabat sendiri memiliki makna yang artinya harga murah namun bukan berarti murahan. Hal tersebut tentunya memiliki daya tarik sendiri bagi para pelanggannya.
Baginya memiliki berbagai macam jenis usaha adalah sebuah sarana untuk memenuhi kepuasan batin dari dalam dirinya sendiri. Selain itu ia pun merasa senang dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Jenda Munthe