Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Gereja & Masyarakat

Panti Asuhan Parapattan, Utamakan Pendidikan Anak Asuh

Posted : 03 Agustus 2010
parapattan_4047.jpg
GEDUNG tua itu berdiri tegar.  Tekstur dan desain bangunannya terlihat khas dan kuat, sebagaimana lazimnya peninggalan Belanda. Di sinilah 68 anak-anak diasuh dan dibimbing. Gedung yang berlokasi di Jalan Panti Asuhan No. 23, Otista, Jakarta Timur ini diyakini sebagai panti asuhan tertua di Jakarta. Di sini diasuh anak-anak dengan latar belakang berbeda-beda. Mulai dari keluarga ekonomi rendah, ditinggal orang-tua, sampai pada anak korban perselingkuhan. Latar belakang persoalan yang rumit, tidak menjadi penghalang bagi masa depan 68 anak panti ini. Bagaimana mereka ada dan beraktivitas? Apakah masa depan anak-anak yang diasuh dapat terjamin di panti ini? Bagaimana kelangsungan hidup mereka?

Awal kasih
Lahir dari hati yang mencintai anak-anak telantar, buah pernikahan pria Eropa (Belanda) dengan wanita Indonesia, Rev Walter Hendry Medhurst, seorang misio-nari berkebang-saan Inggris, mendirikan tem-pat penam-pungan anak-anak telantar, tepatnya 17 Oktober 1832. The English Orphan Asylum, dipilih sebagai nama gerakan ini, yang kemudian menjadi yayasan dengan nama The Parapattan Orphan Asylum.
Pada 1953, yayasan ini diserah-kan kepada warga Indonesia, M.A. Pelaupessy. Lalu namanya diganti jadi Yayasan Panti Asuhan PARAPATTAN.  Namun sejak tahun 2000 lalu, nama itu berubah lagi menjadi yayasan PARAPATTAN.  
Panti PARAPATTAN menjadi proyek satu-satunya dari yayasan PARAPATTAN. Membuka peluang bagi anak berusia 5-10 tahun, yang prihatin secara ekonomi, Kristen, sehat dan cerdas. Hal ini demi  mengoptimalkan proses pengasuhan, melahirkan anak-anak panti yang berhasil dan berkarakter mulia. Panti berkomitmen setiap anak asuh mendapat pendidikan formal sampai dengan tingkat SMA.
“Yayasan ini independen. Kalau tetap ada dan berkembang, itu karena Tuhan mengirimkan  hati yang digerakkan Tuhan, untuk menolong dan mendukung keberadaan panti,” tutur ketua panti, Anna Wulan Ngantung.

Pendidikan fokus utama
Setiap anak panti disekolahkan sesuai minat bakat masing-masing pada sekolah-sekolah Kristen terbaik: seperti PSKD, TARA-KANITA, bahkan ke sekolah-sekolah kejuruan handal dengan nilai akreditasi A. Hal ini sesuai dengan visi: “Menghasilkan generasi berdaya guna bagi bangsa dan negara, yang dibangun dengan dasar iman percaya kepada Tuhan”.  
“Mendidik anak-anak untuk tidak hanya sekadar bertahan hidup, atau bisa hidup. Tapi kami ingin, mereka menjadi orang berhasil, berkualitas,” tutur ketua yayasan, Willem F. Laoh. Selain disekolahkan pada sekolah-sekolah terbaik, anak-anak juga dilengkapi dengan beberapa kegiatan tambahan dalam mengembangkan minat dan bakat, seperti membentuk tim futsal, tari, bahkan musik.  
Seni, olahraga, teknologi, menjadi fokus saat ini. Dalam meningkatan kemajuan bagi anak panti,maka yayasan bekerjasama dengan psikolog yang kompeten di bidangnya. Selain itu juga tetap konsisten mengadakan tes bakat dan kemampuan, untuk menggali potensi setiap anak asuh.
Kedisiplinan-pun menjadi perhatian khusus yang digalakkan di panti. Setiap jadwal tertata dengan rapi. Monitoring peralatan, menyerahkan agenda, melaporkan atribut sekolah, semua dilakukan setelah anak-anak pulang sekolah. Kondisi ini terlihat begitu tertibnya. Suasana kekeluargaan sangat terasa. Ada canda, tawa, keakraban, indahnya melihat kesatuan di antara anak-anak dengan pengasuh. “Saat yang paling membahagiakan, ketika melihat mereka tertawa, marah, kesal, datang dan mendekati kami dalam pelukan dan pangkuan,” tutur Anna haruh.

Dampak perkembangan
Sosok remaja berbadan tinggi besar, terlihat sedang mengangkat galon besar air mineral dan kemudian membaur dengan teman-temannya yang baru saja pulang sekolah. Dialah Imanuel Doly Situmeang. Si bungsu dari 4 bersaudara ini anak yatim piatu, namun kini menemukan keluarga yang membuatnya lebih mandiri dan bahagia di panti. “Saya senang menemukan banyak teman dan pengasuh yang baik. Kini saya lebih mandiri, Semoga saya dapat menjadi anak yang lebih baik,” tutur pria kelahiran Jakarta, 12 Desember 1993 ini sambil tersenyum. Dia ingin melanjutkan studi ke bidang pariwisata.
Tiba-tiba tampak seorang ibu dengan tangisan pilu,  mengi-sahkan kondisinya sebagai single parent yang harus mengasuh putri semata wayangnya, karena ditinggal suami selingkuh. “Saya ingin menitipkan anak saya di panti ini, saya akan menjadi TKW ke luar negeri demi untuk anak saya. Saya mendapatkan informasi, panti ini dapat membantu saya dan menolong anak saya menjadi lebih baik,” kisah wanita malang ini, saat mendaftarkan anaknya menjadi anak asuh panti.
Kisah lain terucap dari Redingse Simatupang, orang tua salah seorang anak asuh. “Tahun 1996 suami saya meninggal, saya harus berjuang sendiri membiayai ketiga anak saya. Saya lalu menitip anak-anak ke sini. Di panti keadaan anak-anakku jadi lebih baik. Sampai kapan pun, kami tidak dapat mengembalikan semua yang panti berikan buat kami.”

Dukungan masyarakat
Panti Asuhan PARAPATTAN butuh dana sekitar Rp 100  juta per bulan untuk dana  opera-sional. Ketika ada yang ingin terlibat menjadi donatur, selalu ditekankan bahwa pemberian itu, sebagai investasi masa depan. “Pemberian diharapkan yang terbaik, bukan hanya karena kasihan,” jelas Willem Laoh
Keterlibatan donatur sebagai orang tua asuh, untuk mendu-kung pendidikan anak di sekolah-sekolah Kristen terbaik, sesuai dengan kebutuhan minat-bakat anak. Peralatan atau fasilitas yang disumbangkan juga, adalah barang-barang berkualitas, yang dapat digunakan optimal. Menda-tangkan sumber dana, sekaligus mengembangkan bakat anak (contohnya alat-alat musik).
Panti ini berdiri di atas tanah 5.000 m2, yang terdiri dari area perkantoran dan fasilitas penun-jang lainnya, termasuk delapan rumah anak asuh. Beberapa ba-gian sebenarnya perlu direnovasi untuk mendu-kung kegiatan anak asuh. “Na-mun semua pem-biayaan kini, lebih difokuskan untuk pendidikan anak,” tutur Anna.  
Adanya per-pustakaan serta laboratorium komputer dan bahasa, menjadi impian yang ingin segera di-wujudkan. Pendidikan menjadi konsen utama, sehingga tak heran jika setiap pembiayaan lebih fokus diarahkan kepada pembiayaan pendidikan anak, daripada renovasi gedung atau pun pengembangan fasilitas yang juga menjadi mimpi panti.  
Membangun kepercayaan melalui audit publik, membangun image, dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, adalah langkah yang sedang dilakukan yayasan dan panti. Menjadikan anak-anak bermasalah tidak menjadi masalah bagi masyarakat, namun memberi harapan kemajuan bangsa.
          ?Lidya


78
24 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.8494 sec | TOP
Online Support :