Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id
Reformata.com - SEBAGIAN besar orang yang pernah merasa tersinggung dan terhina karena keadaan, (misalnya karena kemiskinan) dan tidak terima dengan penghinaan tersebut, dan menganggap ke-adaan yang tak menyenangkan tersebut bukanlah sesuatu ‘takdir’ yang permanen, tetapi sesuatu yang bisa ia ubah kalau ia mau, kemudian mendapatkan kesadaran untuk turn around, sering kali men-cetak kemajuan besar dalam hidup, dan mengalami transfor-masi, menjadi orang-orang besar. Karena ia mengarahkan energi emosi marahnya pada kanal yang benar. Kalau tidak diarahkan, dan muatan emosi tersebut dibiarkan mengalir apa adanya, pada umumnya ia mengalir ke dataran yang lebih rendah- sesuai titah alam entropi- yang membuat orang menjadi hancur.
Bahkan sebuah penelitian ilmiah Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Sains (AAAS) menunjukkan: Anak-anak yang dibesarkan dalam keadaan miskin ada “untungnya” di balik penderitaan yang ditimbulkan kemiskinan tersebut. Penelitian di San Diego Amerika Serikat ini menunjukkan: Hidup dalam kemiskinan pada masa kanak-kanak ada untungnya karena dapat membentuk neurobiologi anak untuk berkembang ”dalam cara yang kuat”. Neurobiologi yang kuat akan memengaruhi perilaku, kesehatan, dan dapat membuat anak-anak bertindak lebih baik lagi di kemudian hari.
Lepaskan diri dari momok kemiskinan
Salah satu tokoh besar yang menantang dirinya untuk maju terus di tengah kemiskinan yang mencekam adalah Prof FG Winarno. Sekitar 25 tahun lalu, ketika saya masih kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), saya sering mendengar cerita beliau, dan kini saya mendengarnya lagi di acara Kick Andy (Maret 2010).
Winarno kecil adalah seorang anak yang lahir dari keluarga yang amat miskin. Ayahnya seorang informan polisi yang tidak lulus SD, dan ibunya seorang tukang pijat yang buta huruf. Tapi ia mengalami trans-formasi, dan setelah dewasa menjadi guru besar yang sangat diakui kepakarannya secara internasional dalam bidang food technology.
Dalam acara di Kick Andy, Pak Winarno menceritakan kembali masa sekolah dan kuliahnya dulu. Winarno identik dengan perjuangan keras, dari urusan biaya, fasilitas bersekolah, hingga urusan angkot yang cu-kup jauh. Namun ia tidak takluk oleh keadaan tersebut. Trauma dihina kemiskinan telah men-cambuknya untuk melepaskan diri dari “kutukan” tersebut. Ia mengambil pendidikan sebagai anak tangga perbaikan tingkat sosial hidup melalui berbagai beasiswa, karena ia adalah satu-satunya alat yang memung-kinkan. Satu prinsip kuat yang ia yakini saat itu adalah, kalau pintar pasti bisa berhasil, maka ia pun memompa semangatnya untuk bisa meraih nilai tertinggi.
Dari seluruh perjuangannya, Dr Winarno meraih gelar profesor untuk bidang ilmu dan teknologi pangan dua dekade yang lampau. Di masa usia senior saat ini, beliau masih aktif sebagai rektor di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.
Prinsipnya sama saja, apakah kita akan menggunakan energi tersebut menjadi seorang profesor, seorang entrepreneur atau seorang militer atau bapak pendhita. Karir hanya sebuah wujud manifestasi. Ia hanya sebuah ventilasi passionate dan motivasi Anda. Jadi kalau Anda ingin menjadi pebisnis besar, dan hari ini sedang mengalami kesulitan finansial yang besar, ada kabar baik untuk Anda: Itu adalah pemberian modal yang amat besar, kalau saja Anda bisa melihat pesan di balik keadaan tersebut. Yang dibutuhkan selanjutnya hanya menjaga agar fokus Anda tidak dibajak oleh himpitnya keadaan. Selebihnya adalah eng ing eng…
So, berbahagialah kalau Anda bertanya-tanya dalam diri sendiri mengapa tidak kaya-kaya, kapan lilitan kemiskinan ini akan pergi atau yang sudah lulus (mentas) dari “universitas kemiskinan” atau Anda yang pernah miskin. Sebab kemiskinan membentuk vaksin karakter yang kuat bagi yang sudah lulus dan tersenyum saat memandang balik “alumni”-nya itu. Itulah reward batin dari sebuah kemiskinan jasmani.
Bagaimana kalau orang merasa ‘miskin’ secara spiritual, miskin secara rohani?
Wah, ini lebih heboh lagi reward-nya. Guru saya bilang: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.
Alamak!! Tidak semua orang bisa memahaminya, dibutuhkan kecerdasan dan sentivitas intuitif untuk mengalaminya. Dan se-orang murid yang bernama Matius mencatatnya, agar kita bisa mengerti hebatnya nasihat Yesus ini di sepanjang hayat, karena suatu saat, kesadaran untuk memahami makna ayat tersebut pasti akan hadir dari sukma setiap orang, dan setiap orang punya masanya sendiri.v (getex@cbn.net.id)