Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Muda Berprestasi

CLAUDIA Natasia Berkarya Bagi Sesama

Posted : 03 Agustus 2010
CLAUDIA-Natasia.jpg
CLAUDIA Natasia
Reformata.com - CLAUDIA Natasia, remaja putri yang mampu memaknai kehidupan melalui aktivitasnya. Siswi kelas 12 Sekolah Pelita Harapan ini tidak melupakan orang-orang yang terpinggirkan. Di masa mudanya, putri sulung dari pasangan Arifudin Djaja dan Yenny Petrus ini telah mengerti berbuat kebajikan,  membuat bahagia orang lain, melalui cinta kasih dan karyanya.
Sejak usia taman kanak-kanak (TK), Claudia disuguhi cerita oleh sang ayah. Ini berdampak  pada kegemarannya membaca buku dan menulis. Minat bacanya yang luar biasa terlihat dari banyaknya novel berbahasa Inggris yang dia baca. Ada lebih 1.000 novel bahasa Inggris yang sudah dia baca, di antaranya, yang menjadi novel favoritnya: A Thousand Splendid Suns (Khaled Hosselini), The Truth About Forever (Sarah Dessen), Pride and Prejudice (Jane Austen).
Setiap malam menjelang tidur, penggemar traveling dan fashion ini menuangkan ide dalam blog-nya. Sebagai tugas akhir di kelas 10, dia menulis novel dalam bahasa Inggris berjudul: Just Like Butterflies.  Novel setebal 210 halaman ini berkisah tentang metamorfosis dari kebencian kepada cinta, dari ketiadaan kepercayaan diri kepada kepercayaan diri yang kuat, seperti metamorfosis ulat ke kupu-kupu. Novel yang akan diterbitkan Gramedia ini akan di-launching, tepat di hari ulang tahun Claudia, 6 Agustus nanti. Rencananya, hasil penjualan dari novel ini, seratus persen akan dipersembahkan ke Panti Asuhan Inna Theresia, di Masohi, Maluku Tengah.
Melalui novelnya itu, si “Perfeksionis” ini memberi pesan bagi anak muda. “Kepercayaan diri itu dibangun dari dalam diri dan oleh diri sendiri. Miliki keberanian untuk menerima cinta”.   Kemampuan dan impiannya dapat tersalurkan, itu menjadi tujuan utama Claudia, bukan uang.
 
Prestasi
 Menurut sang ibunda, “Claudia, anak pintar yang suka berbagi kepada orang-orang yang kekurangan”. Kecerdasannya sudah dia buktikan dengan berbagai prestasi. Tahun 2009 dia menjadi  juara pertama dalam lomba debat bahasa Inggris di ajang Student Movement Exhibition di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tahun-tahun sebelumnya dia menjadi “Top Grade 9 English for the 2007-2008”.
Setiap Minggu, Claudia melayani sebagai guru sekolah minggu di Paroki Santa Helena, Tangerang. Dia juga secara rutin mengunjungi kaum lansia di panti jompo, kawasan Islamic Village dua minggu sekali. “Saya mengasihi mereka walaupun mereka bukan orang Kristen. Karena Tuhan adalah teman bagi hidupku, bukan agama. Hubungan yang dekat dengan Yesus menjadi lebih penting, bukan agama. Itu yang membuat saya harus mengasihi semua orang,” papar Claudia dengan pasti. Hebatnya, dia membuat kue sendiri dan mengantarnya kala mengunjungi kaum lansia di panti jompo tersebut.
Tentang rencana selulus SMA nanti, Claudia kini sedang sibuk mempersiapkan diri untuk studi di Amerika. “Saya ingin menjadi psikolog anak, karena saya mencintai anak-anak. Kalaupun saya kuliah di luar negeri, bukan karena kualitas universitas di Indonesia buruk. Saya ingin mengenal dan menemukan hal berbeda dan baru di luar,” urai Claudia. Mendengar curhat teman-teman adalah kesenangan tersendiri bagi Claudia. “Kebahagiaan saya adalah  ketika bisa membuat orang lain bahagia. Misalnya, kalau mereka lagi sedih, dan saya bisa membuat mereka tertawa kembali,” tambah dara kelahiran Jakarta pada 9 Agustus 1993 ini dengan wajah sumringah.
    
Makna hidup
Tentang kehidupan sosialnya, Claudia berpendapat,  “Kadang kita hanya melihat hal yang superficial (cetek). Misalnya, ketika kita memberi uang ke panti, kita rasa itu cukup, padahal sebenarnya mereka lebih membutuhkan persahabatan kita. Atau kita lebih senang membeli barang  bagus, shopping seru, namun ada hal yang harus kita lihat, hal yang lebih penting.”       Berbicara tentang arti kedamaian, Claudia mengutip Lady Gaga yang menulis: “Peace it does not mean to be in a place where there is no trouble, noise or hardwork. It means to be in the midst of those things and still be calm in your heart”. Ungkapan di atas juga jadi kalimat favorit yang memberi inspirasi bagi Claudia bahwa hidup itu, kadang terasa begitu buruknya atau baik, bisa membuat kita senang atau sedih. “Tapi yang pasti kita yang harus menciptakan kebahagiaan itu. Kurang bijaksana ketika kita meminta kebahagian dan kesenangan dari Tuhan, karena itu sudah diberikan dalam diri kita,” tandas Claudia.  Lidya


42
9 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.3267 sec | TOP
Online Support :