Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suluh

Pdt Paulus Daun, Kemampuan Ganda Dari Tuhan

Posted : 03 Agustus 2010
Pdt.-Paulus-Daun.jpg
Reformata.com TIDAK ada yang dapat  menduga perjalanan kehidupan seseorang di waktu mendatang. Namun keya-kinan kepada Kristus, menuntun seseorang menemukan nilai-nilai kehidupan yang berarti. Hal ini disadari oleh pria kelahiran Klung-kung, Denpasar Bali, 1 Februari 1943 ini. Dari latar belakang non-Kristen, namun akhirnya dapat percaya kepada Kristus.  Sejak me-mutuskan mengikut Yesus, Paulus Daun memiliki kesempatan mela-yani Tuhan, dan diberikan banyak kepercayaan: mulai dari ketua pemuda gereja, guru sekolah minggu, gembala sidang, dosen, penulis, hingga ketua yayasan. Setiap memikul kepercayaan yang dibebankan, kemampuannya dirasa terus bertambah. “Kalau Dia mem-beri tugas, Dia memberi keleng-kapan. Kemampuan itu diberi Tuhan padaku,” papar suami dari Ev. Lucia Kan Siok Koen ini.  
 
 Panggilan jiwa dalam doa              
Bermula dari kehidupan bergereja yang dirasakan Paulus sangat memprihatinkan. “Di gereja kami tidak ada hamba Tuhan atau gembala, kalaupun ada 1-2 bulan akan pergi. Kondisi ini terjadi terus menerus,” kisah ayah 3 orang anak ini.  “Tuhan kalau Engkau mau, saya yang bodoh ini jadi hamba Tuhan, saya mau.”  Teriak pria berusia 23 tahun ini dalam doanya kala itu, dengan berdiri di depan gereja tempat dia beribadah.    Doa  polos namun penuh keseriusan,  mengarahkan Paulus mulai mempersembahkan dirinya untuk menjadi hamba Tuhan, dan masuk di Madrasah Alkitab Asia Tenggara (sekarang Seminari Alkitab Asia Tenggara) Malang, tahun 1966.     Setelah lulus tahun 1971, Paulus melayani di Gereja Kristen Kalimantan Barat (GKKB). Kiprahnya dimulai sebagai koordinator guru-guru agama,  ketua Yayasan Pendidikan Kristen, ketua sinode, dan Badan Pekerja Lengkap DGI (PGI).  Ternyata dalam pelayan-an tidak ada yang mulus. Setiap orang diproses untuk dapat lebih mengenal dirinya, Tuhan, dan panggilan pelayanan, dengan lebih dalam. Delapan tahun melayani sebagai pendeta, ketua sinode, tidak menjadikan Paulus teguh untuk terus melayani, sebaliknya yang terjadi adalah keinginan untuk meninggalkan pelayanan. Apa penyebabnya?    Paulus berada pada kondisi rohani di titik nol.  “Apa yang saya lakukan tidak dihargai. Penghar-gaan majelis terhadap pendeta sangat rendah, tahun 1970-an. Pendeta dianggap kacung mere-ka, karena mereka merasa pen-deta dibayar oleh mereka. Saya menjadi sangat kecewa, karena saya melihat mereka,” urai Paulus dengan sedihnya, mengenang masa itu.    Inilah proses awal yang dirasakan Paulus sangat berat. Pria yang suka membaca dan me-nulis ini, mulai  ingin beralih menjadi pengusaha. Rasa percaya diri mulai hilang, namun dalam kelemahan dia masih bisa berdoa. “Tuhan, kalau Kau menghendaki saya menjadi pengusaha, berkatilah. Tapi kalau saya harus tetap menjadi hamba Tuhan, bukalah jalan,” doa Paulus pilu. Tahun 1979, Paulus diterima menjadi mahasiswa istimewa di Singapore Bible College di Singapura. Paulus berhasil meraih gelar Bachelor of Theology (Th. B.) dengan skripsi ber-judul “Phi-en Fu Chung Tie Kie Tok Luen” (Apolo-getika tentang Kristo-logi dalam Perspektif Dok-trin Evangelikal).    Pemulih-an itu terjadi, Paulus kembali melayani dan terus diperleng-kapi Tuhan dengan berbagai kemampuan. Paulus terus melanjut-kan studi di berbagai sekolah tinggi teologi (STT), baik yang beraliran evangelikal maupun ekumenikal. Terjun ke ladang pelayanan di berbagai tempat, di antaranya Kalimantan Barat, Singapura, Sulawesi Selatan, Utara dan Jakarta.        
 
 Kemampuan ganda             
 “Pekerjaan Tuhan harus dikerjakan optimal,” tandas lulusan  Profesional Doktor of Ministry (D. Min.) Biola University, California, USA ini. Setelah pensiun, tugas Paulus tidak berkurang, mulai dari menga-jar, menulis, berkhotbah, hingga memberi ceramah, tetap dilakoni-nya. “Setelah pensiun, saya berha-rap bisa tenang menulis, tapi ternyata Serving In Mission (SIM) meminta saya menjadi direktur di Indonesia,” aku penulis dari lebih 75 buku ini,  sambil tersenyum.    Paulus dapat dipakai Tuhan dalam serba kelemahan, menjadi kebaha-gian tersendiri bagi dirinya. Waktu dan usia yang terus bertambah, membuat penyandang gelar doktor of theology (Th.D.) dari Institut Filsafat dan Kepemimpinan “Jaffray”, Jakarta ini terus mengingat: “Biarlah  setiap apa yang kita pikirkan, lihat, dengar, katakan, lalukan, semua berorientasi untuk Tuhan. Karena itulah pelayanan. Sebaliknya orientasi dan motivasi yang bukan untuk Tuhan, maka itu bukan pelayanan”.    Berusaha agar misi dapat dikembangkan, amanat agung dapat disebarluaskan, menjadi penulis tetap yang produktif, serta pengkhotbah yang menjadi berkat, adalah kerinduan dan keseriusan Paulus tahun 2010 ini.     Paulus, sosok hamba Tuhan yang dipakai Tuhan. Kemampuan yang terus ditambahkan membuat dirinya tetap produktif di usia tua. Setiap tulisan-tulisannya, dapat mencerahkan banyak orang.     Dari kesederhanaan, Tuhan memakai-nya menjadi pemimpin. “Kalau jelas panggilan Tuhan jangan ragu-ragu. Allah yang memampukan. Jangan melihat manusia, karena tidak ada yang sempurna. Hanya Allah, yang sempurna dan yang memberi tugas. Tuhan mempercayakan, maka Dia memberi waktu,” pesan Paulus mengakhiri kisah pelayanannya.Lidya

59
42 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.9337 sec | TOP
Online Support :