Reformata.com PERTENGAHAN tahun ini menjadi momen istimewa bagi Juliawati Hardiwardojo. Sebuah album bertajuk “Engkau-lah Segalanya” diluncurkan sebagai buah sulung dari “Hati Kudus” Record yang dibidaninya. “Ini memang lagu rohani, dan semua orang bisa menikmatinya, tanpa memandang agama karena sifat-nya yang universal,” kata wanita kelahiran Jakarta, 11 Juli 1951 ini.
Melalui ketiga belas lagu yang terdapat albumnya itu, ibu tiga orang anak ini ingin menyuarakan isi hati Tuhan. “Saya ingin mengung-kapkan isi hati Tuhan sebagai pernyataan kepada semua orang, bahwa Tuhan adalah Allah yang benar, setia dan selalu mengasihi anak-anakNya,” katanya dalam acara peluncuran albumnya itu.
Julia mengaku mendapatkan inspirasi lagu-lagu itu dari Tuhan saat ia memohon. Awal pencip-taan syair-syair lagu itu adalah pada saat menyaksikan sebuah konser lagu-lagu rohani pada akhir April 2009. “Tuhan, saya juga mau bikin lagu-lagu rohani seperti itu,” ia berdoa. Sebuah syair lagu berjudul “TanganMu yang Kuat” pun tercipta malam itu juga. Hari-hari selanjutnya, lagu demi lagu terlahir yang semuanya bercerita tentang krisis, akhir jaman serta fakta miris dunia jaman sekarang. “Awalnya saya bingung, kenapa tema lagunya begini. Tapi saya sadar dalam hati saya bahwa itulah jeritan hati Tuhan,” ujar suami dari Tex Suryawijaya ini yang telah melahirkan tak kurang dari 45 syair itu.
Bersama orang miskin
Keprihatinannya akan keadaan dunia yang pincang itu tak hanya dituangkan dalam syair lagu, tapi juga terjun di medan nyata dengan aksi nyata. Buntut dari krisis ekonomi tahun 1998, angka kemiskinan meningkat. Banyak orang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bersama teman-teman yang sehati dan sevisi, ia pun melayani hampir 50 orang yang tidak mampu.
Selama tiga tahun pelayanan kaum papa itu dijalaninya dengan tekun. “Kebahagiaan kami sangat terasa ketika kami melihat mereka dan anak-anaknya bertumbuh,” ujar wanita berpembawaan tenang ini. Tahun 2000-an, ia merintis Persekutuan Doa (PD) dengan nama “Hati Kudus”. Berawal dari 5 orang yang meru-pakan teman-temannya, lalu berkembang terus hingga menca-pai lebih dari 50 orang. “Meskipun yang hadir sedikit misalnya, kami selalu berusaha mendatangkan pendeta yang memang berkuali-tas,” ia mengungkapkan salah satu kiat pengembangan PD yang dipimpinnya.
Meski beralih ke PD, bebannya untuk orang-orang tak beruntung terus terpelihara. Makanya, aktivitas “Hati Kudus” tak dibataskan hanya pada pelayanan Firman atau puji-pujian, tapi juga melakukan pelayanan ke para yatim piatu, pemulung, panti jompo dan kelompok tersisih lainnya. “Kalau kita melayani Tuhan, maka kita harus melayani-Nya dengan hati yang bersih dan sesuai dengan kehendak-Nya. Makanya kita memilih nama itu,” ia mengung-kapkan alasan mengapa ia memilih “Hati Kudus” sebagai nama PD dan akhirnya label rekamannya itu.
Keputusan untuk memproduksi sendiri album rohani serta keseluruhan proses produksi dan penyebaran kepingan CD, diakui Yulia, berjalan lancar karena Tuhan yang berkarya. “Ada saja jalan yang dibukakan Tuhan,” katanya.
Pencarian panjang
Tahun 1981 menjadi saat paling menggembirakan buat ibu dari Erres, Amelia dan Raymond Suryawijaya ini. “Tahun itu, saya mendapatkan apa yang saya cari selama ini, yaitu perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Sejak itu, saya betul-betul cari Tuhan. Saya rajin ke gereja, rajin ke persekutuan doa. Lewat Firman Tuhan yang saya dapatkan, saya merasa pimpinan Tuhan dalam hidup saya itu luar biasa. Langkah-langkah hidup saya selalu berada dalam tuntunan Tuhan,” katanya.
Perjalanan untuk menemukan “kunci” kebahagiaan dan kepastian perja-lanan hidup itu sangat panjang. Berawal dari usia 15 tahun dan baru mendapatkan jawabannya ketika menginjak usia 30. Sepanjang tahun-tahun itu, ia menga-ku sering diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan dasar seperti hidup yang benar itu seperti apa?
Keinginan untuk mengalami perjum-paan pribadi dengan Tuhan sudah meng-hampirinya sejak usia 15 tahun itu. Untuk menjawab keinginan hatinya itu, Julia sering ke tempat ibadah dan berdoa sendiri. “Meskipun saya tidak mengerti betul apa yang saya lakukan, saya tahu bahwa Tuhan ada di sana, tapi saya belum mengerti benar tentang Dia,” cerita wanita yang sempat berkiprah industri rumahan dalam bidang kecantikan ini. Usaha di bidang make-up, pembuatan baju dan tata rambut yang merupakan bagian dari hobi itu terhenti karena permintaan suami dan anak-anaknya.
Jawaban atas pertanyaannya itu mulai terkuak ketika seorang temannya mengajaknya ke sebuah PD yang kini telah berkembang menjadi gereja besar yaitu Abba Love. “Awalnya saya merasa aneh karena dengan bahasa roh segala. Tapi di lain pihak, saya merasa bahwa di sinilah tempat yang saya cari, tempat di mana saya bisa bertemu dengan Tuhan secara pribadi,” katanya.
Setelah perjumpaan itu, Julia mengaku hidupnya menjadi lebih pasti, tenang dan tidak sia-sia. Perjumpaan itu membuat dia menjadi sangat tenang menghadapi terpaan dalam hidupnya. Ketika suami dan anak-anaknya memintanya berhenti menjalankan hobinya dan fokus ke rumah tangga, ia bisa menerimanya meski karena itu dia harus melepaskan haknya untuk mengembangkan diri. “Saya lalu mendapatkan tempat khusus saya dalam rumah yaitu sebagai pelayan keluarga dan pendoa syafaat bagi keluarga saya,” katanya.
Ia bersyukur karena ia menda-patkan kepastian hidup pada saat umurnya relatif masih muda. Masih banyak waktu untuk melayani Tuhan melalui sesama. Paul Makugoru