Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

News

Beberapa Mahasiswa Indonesia Di Yaman Dianggap Ancaman Negara

Posted : 29 Juli 2010
Beberapa Mahasiswa Indonesia di Yaman Dianggap Ancaman Negara.jpg
Sekelompok Masa Di Yaman Sedang Berunjuk Rasa inet

Indonesia menganggap beberapa mahasiswanya yang menuntut ilmu di Yaman sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Perilaku mereka diawasi dengan ketat oleh negara. Beberapa mahasiswa bahkan dicurigai memiliki hubungan dengan kelompok militan. Namun bukankah dengan memberi "label" seperti itu justru berpeluang menciptakan musuh-musuh baru? Ikuti penjelasan Noorhuda Ismal, pakar terorisme.

Justifikasi terhadap penggunaan aksi kekerasan di Indonesia diadopsi oleh pemikiran yang ada di wilayah Timur Tengah. Lebih rinci di wilayah-wilayah konflik. Karena selama ini dianggap dari wilayah itulah gerakan teror diatur. Ketika mereka belajar di Timur Tengah, maka hal itu memudahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan jihad mereka ke wilayah konflik. Kalau sudah di wilayah konflik maka pandangan mereka akan berubah.Yang dikhawatirkan para mahasiswa itu akan mempraktekan ilmu-ilmu yang didapat tersebut di Indonesia.

Moral
Mahasiswa-mahasiswa di Yaman dipandang sebagai orang yang bisa memberikan justifikasi moral terhadap aksi-aksi kekerasan. "Ingat gerakan Imron dahulu. Imron itu bahkan bukan mahasiswa, ia adalah seorang TKI. Ia balik ke Indonesia kemudian terlibat pembajakan di Woyla tersebut." Para pekerja yang ada di Malaysia mengenal ajaran Jemaah Islamiyah justru ketika menjadi pekerja di Indonesia.

Terjadinya perekrutan terhadap mahasiswa itu terjadi tanpa disadari. Mereka tidak sadar kalau direkrut ke dalam lingkungan teror. Kelompok itu dianggap dari luar sebagai sebuah kelompok yang melakukan perubahan."Jualan awalnya itu tidak mungkin, ini adalah kelompok teroris. Mereka lebih menganggap ke kelompok kajian-kajian sosial keagamaan yang mencoab melakukan kritik keadilan global.

Tradisi
Satu hal yang harus dilakukan para mahasiswa di Timur Tengah yaitu membudayakan tradisi berpikir kritis terhadap ajaran-ajaran yang mereka trima. Selama di kelas maupun di luar kelas. Selama mereka mampu berfikir kritis maka mereka mampu membedakan mana ajaran yang dapat diaplikasikan dan mana yang kemungkinan akan melakukan perdebatan dalam tahap selanjutnya. Pelan tapi pasti citra mahasiswa di Timur Tengah akan kembali. Karena banyak lulusan Timur Tengah yang berkontribusi terhadap negara.

"Kita harus belajar sejarah untuk tidak menyama ratakan atau memberi label. Dengan menciptakan label, maka kita menciptakan musuh-musuh baru." Orang yang seharusnya tidak menjadi bagian kelompok tersebut, namun karena diberi label maka justru akan menjadi kelompok tersebut. Seperti halnya ketika hidup di Belanda yang dianggap sebagai negara kafir. "Padahal itu kan tidak bisa, di Belanda juga ada masjid dan kebebasan beragama juga dijamin."

Source:Ranesi

54
7 votes
1 2 3 4 5

Lainnya

Arsip :20112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.4104 sec | TOP
Online Support :