Kawula muda Afrika memimpin revolusi pencegahan HIV dan berhasil menurunkan jumlah pengidap AIDS dengan mengadakan hubungan seks aman dan mengurangi jumlah pasangan seks. Demikian menurut PBB.
Radio Nederland meminta koresponden di Kenya, Senegal dan Zimbabwe untuk berbicara dengan kawula muda Afrika ini tentang sikap mereka terhadap HIV/AIDS.
Pencegahan Dini di Senegal
Oleh Bineta Diagne
Kawula muda Senegal menyadari bahaya HIV/AIDS dan bereaksi baik terhadap peringatan di sekolah atau media massa. Mati Guèye tinggal di Media, sebuah bilangan populer ibukota Dakar, tempat mangkal kawula muda yang peka terhadap masalah HIV/AIDS. Mengenakan pakaian tebal, gadis 18 tahun ini bicara blak-blakan tentang seks.
Luka Silet
"Saya tahu dari televisi bahwa kita bisa kejangkitan HIV/AIDS karena seks yang tidak aman. Penyakit ini juga bisa menular melalui luka yang diakibatkan oleh silet yang pernah dipakai seseorang yang sudah terjangkit virus HIV," jelasnya.
Mati sendiri tidak memakai kondom. "Saya menikah sekarang, jadi tak perlu perlindungan seperti itu," kata perempuan muda yang belum pernah melakukan tes AIDS ini. "Yang terpenting saya setia dan menghormati suami." Temannya yang masih belum berkeluarga menggunakan kondom, karena "harganya memang tidak mahal," kata Mati.
Seks Aman
Pemerintah Senegal memulai kampanye kesadaran AIDS pada tahap dini. Hasilnya, hanya 0,7% rakyat negeri itu yang mengidap AIDS, pada tahun 2009. Sejak 1994, kelompok penelitian dan pendidikan anak, GEEP, membentuk kelompok informasi di sekolah-sekolah Dakar untuk menjangkau kawula muda. Ndèye Tening Gaye terlibat dalam forum HIV ini sejak masih berusia delapan tahun.
Sekarang, pada usia 24 tahun, ia menyatakan selalu melakukan hubungan seks aman. Ia membantu menyebarkan berita di sekolah-sekolah melalui perdebatan dan penjelasan bahwa HIV merupakan malapetaka bagi generasi muda. Ia juga bertandang ke pedesaan. Menurutnya, kawula muda pedesaan yang tidak bersekolah tidak mendapat informasi baik tentang HIV.
Hidup Bersama Virus HIV di Zimbabwe
Oleh Thabo Kuene
Sibongile Thabethe bersama pacarnya, Mandla Siziba, tinggal di Bulawayo, Zimbabwe. Sibongile adalah seorang guru sekolah, yang juga aktif di LSM. Madla punya usaha bisnis komputer. Hubungan mereka sebenarnya agak luar biasa. Sibongile (32 tahun) positif pengidap HIV, sementara Mandla (38 tahun) negatif.
"Saya didiagnosa terkena HIV pada tahun 2004. Pada mulanya saya tidak percaya. Saya menangis, ketika dokter menyatakan saya positif terkena HIV," kata Sibongile. Selanjutnya, sang dokter meminta agar ia datang tiga bulan kemudian, untuk menjalani tes ulang. Hasil tes ulang kembali positif.
Rencana Nikah
"Setelah tes kedua itu saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya harus menerima kenyataan bahwa tubuh saya sudah terjangkit virus tersebut," katanya. Pada tahun 2008 ia berkenalan dengan Mandla, dan kemudian berpacaran. Walaupun tahu Sibongile mengidap HIV, Mandla tetap berniat menikahinya.
"Pada saat berkenalan, saya sama sekali tidak melihat tanda-tanda ia terjangkit virus HIV. Kami terus berteman dan akhirnya berpacaran," kata Mandla. Setelah berhubungan selama satu bulan, Sibongile sadar, Mandla bersungguh-sungguh. Ia memutuskan akan berterus-terang pada sang pacar, mengenai status positifnya.
"Saya tidak punya pilihan lain," katanya. "Sebagai seorang kristen, saya harus jujur padanya, dan memberi-tahu tentang status HIV saya." Ketika menceritakan hal ini, ia heran juga, karena Mandla tidak tampak terkejut mendengar pengakuan tersebut. "Ia terdiam beberapa saat. Namun, beberapa saat kemudian ia berkata, 'Baik, tak ada masalah.' Ia berkata, 'Jangan takut, saya tidak akan meninggalkanmu.'" Mereka akan menikah bulan Desember mendatang.
Rahasia
"Saya tahu, banyak orang heran, kok saya mau menikah dengan wanita pengidap virus HIV. Bahkan, orangtua saya sendiri kaget," kata Mandla, sambil memegang tangan Sibongile. "Jika berhubungan seks, kami menggunakan kondom. Dengan demikian kami tahu pasti, hubungan tersebut aman. Sementara kami tetap bisa menikmati keindahan hubungan percintaan. Bagi banyak pasangan, hubungan seksual merupakan tempat mencurahkan perasaan."
Tapi, Sibongile merahasiakan status HIV-nya pada keluarganya sendiri. Hanya kakak perempuannya yang tahu ia terkejangkit HIV. Sibongile kini mulai menggunakan obat anti-retroviral. Obat ini mampu menambah kemungkinan usia hidup seorang pengidap virus HIV.
Dakwaan Kriminal
Sibongile menyatakan: "Saya memutuskan tidak akan memberi tahu orangtua tentang hal ini. Karena saya tahu, hal itu akan menghancurkan perasaan mereka. Ayah sangat menyayangi saya. Saya tidak sampai hati memberi tahunya bahwa saya terjangkit HIV."
Sibongile terjangkit virus ini dari mantan pacarnya, yang sekarang menghilang entah ke mana. "Sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi. Saya marah, ketika mengetahui saya positif mengidap virus ini. Ia tidak pernah memberi tahu, bahwa ia positif." Di Zimbabwe, orang yang dengan sengaja menularkan virus HIV pada pasangan hubungan seksual, dianggap melakukan tindak kriminal. Banyak orang ditangkap karena menularkan virus pada pasangan mereka.
Mandla dan Sibongile kini ikut aktif dalam kampanye pencegahan virus HIV di Bulawayo. Mereka bekerja paruh waktu di Matabeleland Aids Council, yang mendapat dana dari UNICEF. Saran mereka pada generasi muda di Zimbabwe: "Cukup punya pacar satu saja. Dan jika melakukan hubungan seks dengan pacar, selalu pake kondom."
'Main Aman' di Kenya
Oleh Michael Kaloki
Michael Kezegule (24) adalah mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Nairobi, Kenya. Ia lega mengetahui bahwa teman-temannya, dan orang-orang yang ia kenal, 'bermain aman.'
Ia terkesima bahwa orang-orang Kenya sekarang lebih jarang 'chips funga' ketimbang dahulu. Ini adalah bahasa slang kawula muda yang artinya kurang lebih 'one-night-stand' - mengacu ke anak-anak muda yang bertemu di klub malam dan langsung melakukan hubungan seks.
Kondom
Michael pernah melakukan hubungan seksual dengan dan tanpa kondom. Namun sekarang, ia selalu menggunakan pelindung dan hanya punya satu pasangan seksual.
Margaret belum pernah melakukan hubungan seksual. Namun jika suatu hari nanti berhubungan seks, ia akan menggunakan pelindung. Baginya, sebagai anak muda, melindungi diri dari HIV/AIDS sangat penting, karena ia masih punya masa depan.
Setia
Untuk menumbuhkan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan pencegahannya, terutama di kalangan anak muda dan orang-orang Kenya secara umum, Michael memberi contoh program 'ABC'. 'A' mewakili 'Abstinence' - atau sama sekali tidak melakukan hubungan seksual. Michael merasa, metode A ini tidak berhasil dengan baik di Kenya.
'B' dari 'Being faithful' - alias setia. Michael mengatakan, orang-orang Kenya sekarang cenderung setia dengan satu pasangan.
Dan 'C' untuk 'Condom use' - atau menggunakan kondom. Menurut Michael, penggunaan kondom di Kenya efektif. Ia menyadari, kondom adalah alat pencegah terbaik di kalangan remaja.
Margaret Wangui (23) adalah mahasiswa Jurnalistik di universitas yang sama. Walau program penyadaran dan pencegahan ini digembar-gemborkan, Margaret merasa, diperlukan usaha pribadi untuk menyukseskan pencegahan HIV/AIDS. Bagi Margaret, internet punya peran besar dalam memancing kesadaran anak muda. Contohnya, blog yang membahas masalah-masalah seputar HIV/AIDS.
Source:Ranesi






