Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Utama

'Lembaga Kristen, Sasaran Kekerasan Baru'

Posted : 29 Juni 2010
Lembaga-Kristen,-Sasaran-Kekerasan--.jpg

Setelah mengganggu rumah ibadah umat kristiani, beberapa lembaga Kristen mulai diganggu oleh kelompok radikal. Sebuah modus kekerasan baru?

Reformata.com - SEBUAH pesan melalui SMS beredar pada siang hari Selasa (27/4/2010) silam: “Sekolah BPK Penabur di dekat Taman Safari dibakar massa. Saksikan beritanya sekarang di TVone!” Uai membaca pesan itu, Reformata langsung menghubungi petinggi Yayasan Penabur Ir. Robert Rubianto untuk mengecek kebenaran berita tersebut. “Bukan sekolah, tapi bedeng pekerja bangunan wisma,” kata Ketua Umum MNPK (Majelis Pendidikan Kristen Indonesia) ini.
Petaka memang sedang menimpa keluarga besar Yayasan Penabur ketika itu.  Di siang hari itu, sekitar 1.000 orang mendatangi dan  merusak serta membakar tiga bedeng pekerja, satu kantor kontraktor, dua mobil, dan tangki bahan bakar sola di areal pembangunan Wisma BPK Penabur di Jalan Taman Safari di desa  Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Seperti dikatakan Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Tomex Korniawan, penyebab serangan di siang hari itu adalah karena massa menduga bahwa di lokasi itu akan dibangun rumah ibadah. “Banyak warga menduga yang dibangun itu adalah rumah peribadatan atau gereja,” katanya.
   
Menggugat keputusan bupati
Masih menurut Korniawan,  peristiwa itu tidak datang tiba-tiba. Jauh sebelum peristiwa kelabu itu, sudah ada keberatan dari sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Cisarua dan sekitarnya akan pembangunan wiswa tersebut yang disampaikan ke pihak desa, kecamatan dan pemda. Bahkan benih penolakan itu sudah ada sejak Bupati Rachmat Yasin memberi izin pembangunan rumah tersebut.
Ia menjelaskan, keberatan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Cisarua dan sekitarnya akan pembangunan wisma tersebut sudah disampaikan ke pihak desa, kecamatan, dan pemda. Empat hari sebelum naas terjadi, pihak kepolisian sudah mencoba memfasilitasi mereka untuk berdialog dan mencari solusinya dengan pihak-pihak terkait.
“Tadi pagi sebetulnya sudah sepakat 50 orang perwakilan warga akan berdialog dengan Muspika Cisarua lalu akan ke Cibinong (Pemkab). Namun, rupanya massa tidak sabar menunggu hasilnya. Dari kantor kecamatan secara sepontan (mereka) mendatangi areal milik BPK Penabur tersebut, lalu merusak dan membakar bedeng pekerja dan kantor kontraktornya menggunakan kertas-kertas kantor yang ada di situ,” tutur Tomex beberapa jam setelah kejadian.
Dia  mensinyalir bahwa  pihak perwakilan warga itu memang  ingin agar pihak Pemkab Bogor membatalkan ijin yang sudah diberikan, seperti halnya kasus pembangunan gereja di kompleks Yasmin, Kota Bogor. Padahal ijin telah diberikan karena telah memenuhi persyaratan perundang-undangan dan sesuai dengan peraturan daerah.
Hingga 20 Mei 2010, seperti dilaporkan AntaraNews, belum ditemukan tersangka pelaku perusakan itu.  Ketua MUI Cisarua, KH Rahmatullah menyebutkan aksi tersebut sebagai bentuk penolakan warga karena khawatir daerahnya dijadikan tempat peribadatan tanpa izin. Ditambahkan Rahmatullah,  warga sudah melakukan upaya damai, namun lambatnya reaksi pemerintah membuat warga geram dan bertindak. “Ini bentuk kekhawatiran warga yang tidak ingin daerah tempat tinggal dijadikan tempat peribadatan,” ujarnya.

Dunia maya
Di Bekasi lain lagi ceritanya. Pada hari Kamis malam (6/5),  kurang lebih 12 orang mendatangi dan merusak jendela di Sekolah Katolik Santo Bellarminus yang terletak di Jalan Kemangsari IV No. 97, Jatibening Baru, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Banyak orang menduga bahwa penyerangan itu erat kaitannya dengan penghi-naan agama yang termuat dalam blog Bellarminus.
Dalam blog Yayasan Perguruan Santo Belarminus Bekasi ini, dengan judul “Habisi Islam di Indonesia”, si pembuat blog menghina agama Islam. Tapi pihak Bellarminus membantah keras bila blog itu merupakan blog resmi sekolah yang berdiri sejak 1993 itu. Dari isi tulisan yang diposting setelah penghinaan itu, terbaca bahwa si penulis adalah mantan siswa Bellarminus dan tujuan pemostingan itu adalah untuk mendiskreditkan guru-gurunya yang telah bersikap sewenang-wenang terhadapnya.
Polisi masih terus menyelidiki pelaku penistaan agama, juga pelaku penyerangan terhadap sekolah Yayasan Bellarminus, Bekasi. Ada yang menduga, bahwa motif penyerangan terhadap yayasan yang menggelar pendidikan dari tingkat TK hingga SMA itu adalah perampokan ataupun pencurian dan tidak ada motif agama sedikit pun.

Sasaran baru?
Dihadapkan pada kedua peristiwa penyerangan di atas – mungkin masih ada lembaga kristiani lainnya yang jadi korban penyerangan - beberapa pihak lalu mengatakan bahwa sasaran penyerangan kelompok garis keras kini  tidak hanya tertuju pada gereja-gereja, terutama yang bermasalah dengan perijinan, tapi sudah masuk ke lembaga-lembaga Kristen. “Itu tidak benar. Yang jelas, semuanya itu merupakan reaksi spontan atas serangan yang lebih dahulu dilakukan,” kata Fauzan Al-Anshori, aktivis gerakan Islam.   Paul Makugoru.
 

59
22 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.9725 sec | TOP
Online Support :