Potensi konflik Islam-Kristen terkandung dalam sejarah yang panjang. Mengapa potensi Islam-Kristen lebih tinggi dibanding dengan agama lainnya?
BANYAK alasan mengapa konflik Islam-Kristen mencuat. Ketua Lembaga Survei Indonesia Dr. Saiful Mujani mengakarkan konflik itu pada konservatisme agama yang masih dipegang oleh sebagian umat muslim. “Konservatisme keagamaan punya pengaruh kuat terhadap sikap kurang toleran terhadap pemeluk agama lain, terutama Kristen,” katanya. Bertolak dari kenyataan itu, pria yang aktif pula di Freedom Institute ini menilai bahwa upaya-upaya untuk membangun suatu paham keagamaan baru yang lebih segar dan lebih toleran masih belum berhasil di kalangan Islam sendiri. “Bahkan perlawanan terhadap upaya-upaya itu makin meluas,” katanya.
Keyakinan bahwa hanya agamanya saja yang benar, menurut Saiful, menyumbangkan semangat yang kuat juga untuk membenci atau menyingkirkan kelompok yang beragama lain. Umat Islam misalnya mengatakan hanya agamanya saja yang benar dan yang lain salah. Begitu pun umat Kristen, yang menganggap agamanya saja yang benar. “Ditunjang pula oleh perintah agama untuk mengkristenkan atau mengislamkan penganut agama lain, konflik antara kedua agama ini bisa saja muncul,” kata Saiful.
Gerakan pemurtadan?
Tak sedikit aksi perusakan gereja dilatari oleh isu adanya kristenisasi atau pemurtadan yang dicurigai dilakukan secara sistematis. Dalam kasus penutupan tempat kebaktian Katolik yang berada di kompleks persekolahan Sang Timur, Karang Tengah, Cileduk, Tangerang pada Oktober 2004 misalnya. Terlepas dari beragam faktor yang lebih dahulu ada dan tentunya beragam pula, banyak orang melihat pemaksaan tutup itu dilatari oleh provokasi dari Irene Handono, seorang mualaf yang mengaku dirinya pernah menjadi aktivis dan terakhir sebagai biarawati Katolik.
Beberapa waktu sebelum aksi penutupan tempat ibadah itu, Hajjah Irene Handono, mengadakan ceramah agama di kawasan tersebut. Keras dugaan, isi ceramah wanita paruh baya yang namanya melejit setelah meluncurkan VCD ‘Strategi Umat Kristen Memurtadkan Umat Islam’ ini, membuat pendengar ceramah terprovokasi, lalu melampiaskan kemarahannya ke lembaga pendidikan yang dikelola Yayasan Pendidikan Katolik Sang Timur itu. Konon, dalam ceramahnya itu, Hajjah Irene yang adalah Ketua Muslimat Indonesia itu menuding Sang Timur melakukan aktivitas kristenisasi. Massa pun terpancing. Dan terjadilah aksi itu.
Pemurtadan, rupanya menjadi momok yang sangat kuat memunculkan konflik Islam-Kristen. Dosen UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Khamami Zada juga menangkap ungkapan yang sama dari para ustadz di berbagai daerah. “Hampir semua da’i di Islam itu punya problem utamanya adalah kristenisasi. Mereka mengakui bahwa banyak terjadi kristenisasi di daerah mereka. Kristenisasi menjadi isu paling utama yang harus dilawan oleh kelompok Islam,” ujar Khamami.
Benarkah telah terjadi kristenisasi secara besar-besaran? Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif menepisnya. Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, ini mengakui bila memang ada fakta terjadinya kristenisasi. “Tapi tidak bijaksana bila kita menggeneralisasi-kan dan mengatakan bahwa Kristen memang ingin mengkristenkan umat muslim. Dalam Kristen itu ‘kan ada macam-macam sektenya juga. Keberagaman inilah yang sering memunculkan masalah. Ada me-mang bagian tertentu dari Kristen yang punya target semacam itu, tapi janganlah itu digeneralisir,” katanya. Apalagi, jumlah umat Kristen dari dulu hingga sekarang begitu-begitu juga. Orang Islam, kata pria kelahiran Sumatera Barat, ini harus sadar, dari sejak Belanda dan Portugis datang hingga sekarang ini, jumlah umat Kristen tetap tidak sampai 10%.
Ia mengakui, barangkali ada praktek kristenisasi, tapi lebih banyak merupakan kasus lokal. Kadang-kadang kasus-kasus lokal yang sangat khusus itu digeneralisasi menjadi kasus besar. Secara nasional, kata dia lagi, sebenarnya tidak ada alasan untuk mengatakan telah terjadi kristenisasi karena data fisik menunjukkan bahwa khususnya di lingkungan umat Katolik, jumlah umat justru turun. Kalau hal ini dipahami, maka ketakutan dan kecurigaan itu bisa dihindarkan.
Beban sejarah
“Perang Salib” telah menjadi sejarah hitam yang, oleh beberapa orang, dianggap sebagai salah satu akar kuat dari rivalitas antara Kristen dan Muslim di Indonesia. Khamami Zada dari Universitas Negeri Syarif Hidayatullah misalnya. Menurut dia, memori tentang Perang Salib itu diajarkan turun-temurun di pesantren dan di sekolah-sekolah agama. Ada sisa luka dalam memori yang kemudian muncul dalam anggapan bahwa orang Kristen itu musuh. “Ini kemudian dipelihara dan tidak dicairkan dalam dialog. Jadilah, orang muslim kalau mendengar Kristen terus konotasinya musuh. Terhadap agama-agama lainnya, tidak sekuat Kristen-lah,” katanya.
Selain Perang Salib yang merupakan beban sejarah bagi rekonsiliasi Kristen-Muslim, dalam negeri sebenarnya ada luka prasangka yang terbuka dan belum tersembuhkan antara Kristen dan muslim, khusus dalam kaitan dengan periode kolonialisme. Seperti dikatakan KH. Nur Muhammad Iskandar SQ, pimpinan Pondok Pesantren Assidiqiah, Jakarta Barat, perseteruan antara umat Kristen dan muslim berakar ketika penjajahan terjadi di sini. “Kebetulan yang menjajah itu Belanda yang kebetulan Kristen. Kemudian di daerah yang ada penjajahan Belanda berdiri sekolah Kristen kemudian gereja-gereja yang megah. Sementara umat Islam miskin. Jadi dampaknya kemari,” jelasnya.
Hal inilah yang kemudian dijadikan alat provokasi oleh kelompok ekstrem untuk merusak hubungan yang baik antara Islam-Kristen kini. “Ini dimanfaatkan oleh kelompok dari kami yang ingin mendapatkan popularitas murahan kemudian mempertajam ini, dan bukannya mendinginkan ini. Jadi ini dipertajam untuk kepentingan popularitas,” katanya. Paul Makugoru.