Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Mencuri Hati Pelanggan Dengan Harga Dan Rasa

Posted : 29 Juni 2010
128.-peluang-2.jpg
Reformata.com - BERTAHUN-tahun jadi karyawan, masuk-keluar kantor dan merasa tidak nyaman dengan pekerjaan, membuat Albion Dominixon ini berpikir keras tentang apa yang semestinya ia kerjakan. Sampai pada suatu hari ia memutuskan untuk tidak lagi jadi  orang kantoran. Ia ingin melakukan sebuah pekerjaan yang lebih fleksibel dan bebas dalam melakukan aktivitas pekerjaannya. Ia berpikir bahwa ia harus bekerja dengan kemampuan sendiri. Apalagi ia akan segera menikah, di mana ia tentunya membutuhkan  usaha untuk masa depan, membuat ia semakin bertekad untuk membangun sebuah bisnis.
Sejak itulah ia memutuskan untuk menjadi wiraswasta. Menjalankan bisnis sendiri baginya tidak muluk-muluk, mengingat usianya yang masih muda dan memiliki semangat dalam menjalankan usaha dengan modal sendiri, tenaga sendiri, dan kemampuan sendiri. Ia mulai bertanya pada kerabatnya mengenai niat tersebut. Dari situ ia mendapati bahwa yang terpenting adalah kemauan dan keberanian. Kemauan dan keberanian ini yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin membangun sebuah usaha, dan ia menambahkan bahwa persoalan modal adalah nomor dua.
Putra dari Eklopas Nabu dan Juwita Julianti ini bertambah yakin dengan apa yang diputuskannya ketika tawarannya untuk membuka sebuah usaha didukung oleh orang tua dan calon istrinya. Awalnya ia sempat bingung untuk melakukan usaha apa, karena sudah banyak usaha di sekitar rumahnya. Sampai suatu waktu lelaki asal Kupang ini memutuskan untuk membangun usaha di bidang kuliner. Salah satu hal yang membuat dia cocok dengan usaha jenis ini karena dia orang yang gemar makan. Setelah mlakukan survei, ia memutuskan menjual ayam bakar.

 Ia melihat hal itu sebagai sebuah prospek usaha yang menjanjikan, mengingat lokasi yang telah ia tentukan cukup strategis. Sejak itulah ia memutuskan dan memberanikan diri untuk membuka sebuah rumah makan yang menyajikan ayam bakar. Sesuai dengan nama panggilannya ”QBO”, ia menamakan warungnya “Warung Q’Bo”. Target pembeli yang ia harapkan pada awalnya adalah anak sekolah, karena warungnya persis di depan sebuah sekolah menengah atas. Seiring waktu, nyatanya pembeli utamanya adalah warga sekitar, bukan siswa-siswi sekolah dekat warungnya.
Setiap hari ia bisa menjual lima belas ekor ayam. Untuk membeli ayam serta aneka sayuran dan bahan lainnya, Albion mengeluarkan modal Rp 300 ribu setiap harinya. Nasi uduk dan sepotong ayam dijual Rp 10 ribu, harga yang cukup terjangkau. Ia sengaja memberi harga terjangkau sebagai strategi untuk memperoleh pelanggan sekaligus mempertahan-kan pelanggan tersebut. Selain itu ia berusaha untuk selalu melakukan uji rasa terhadap menu ayam bakarnya, agar rasa dari ayam bakar tersebut dapat menjadi nilai jual yang cukup mampu membuat pelanggan tetap menjadi pembeli setianya setianya. Dia dibantu empat orang karyawan dan ibunda.

Selain ayam bakar dan nasi uduk, ia juga mejual beraneka makanan dan minuman pendukung seperti roti bakar, pisang bakar,  aneka macam jus dan sayuran, serta beraneka macam makanan ringan lain dengan kisaran harga lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Dari beraneka macam makanan dan minuman yang ia jual setiap harinya Albion bisa memperoleh keuntungan bersih Rp 500 ribu setiap hari. Penghasilan sebesar ini tidak pernah dia dapat ketika menjadi karyawan.
Warungnya dibuka pukul 10.00 sampai 22.00. Hari Minggu dia tidak jualan. Menurutnya, saat-saat yang paling ramai pukul 17.00 hingga 21.00, di mana orang-orang baru pulang kerja dan ingin makan malam. Ia mengaku, ia masih perlu banyak belajar dan banyak mendengar dari orang-orang yang pernah menjalan-kan bisnis semacam ini. Akan tetapi bukan berarti ia tak memiliki strategi dalam menjalankan usaha ini.

Strategi pertama yang ia pergunakan adalah memaksimalkan pelayanan untuk membuat pembeli senyaman mungkin. Kedua, mempersiapkan bahan baku makanan yang terbaik, tidak ada makanan sisa yang dijual keesokan harinya. Hal ini untuk mempertahankan pelanggan. Karena menurutnya, senikmat apa pun makanan yang kita tawarkan, sekali ada pelanggan yang kecewa dengan kualitas makanan, si penjual bisa kehilangan seluruh pelanggan.
Terakhir dan yang terpenting adalah untuk mempertahankan cita rasa dari menu makanan yang ia sajikan. Rasa yang diberikan kepada pembeli, setiap hari tidak boleh berubah, karena lidah pembeli pasti peka dengan rasa. Untuk itu ia menempatkan karyawannya secara khusus pada posisinya masing-masing. Jadi tidak ada karyawan yang membakar ayam tapi juga membuat jus, begitu juga sebaliknya. Pembuat jus hanya mengurusi minuman, sedangkan ayam bakar hanya dikerjakan oleh orang yang memang khusus mengurusi ayam baker saja. Dari sini pria yang biasa beribadah di Gereja Toraja ini berusaha mempertahankan pelanggan dengan cita rasa.
Jenda Munthe

62
54 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
Online Support :