Yayasan Doa Embun Kasih (YADEKI)
Reformata.com - MATA para perempuan itu menatap kosong. Mereka duduk di lorong kamar, terlihat begitu sendu dan pedih, diam membisu. Tapi ada yang berbicara dan senyum sendiri, bahkan terlihat tidur lepas seadanya. Di tempat lain, yang dibatasi jeruji besi, sejumlah lelaki berkumpul dengan gaya masing-masing. Ada yang melompat kegirangan, bertatap-tatapan sambil ngobrol, dan yang lain berusaha menempel pada jeruji besi, melongo. Begitulah suasana panti rehabilitasi YADEKI, yang dihuni 130 orang, di antaranya 85 penderita stres, gila. 25 orang pecandu narkoba, serta tenaga pelayan sebanyak 20 orang. Mereka berada di bangunan yang berlokasi di Jalan Ratna Gang. Albarokah/Jl. H. Nalin No.128/6 RT.004/01, Kelurahan. Jatikramat-Jatiasih-Bekasi Jawa Barat. Tempat yang sederhana, dengan fasilitas 2 kamar untuk pasien lak-laki dan perempuan. Sebuah ruangan keluarga, ruang dapur, kamar pelayan, dan sebuah aula lepas tanpa kursi/meja, serta halaman luas.
Latarbelakang dan pelayanan YADEKI
Pdt. Timotius Liunesi adalah sosok yang ada di balik kehadiran YADEKI. Pria 9 orang anak ini, mengawali pelayanan ini dari rasa belas kasihnya kepada mereka yang diabaikan. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” ayat Alkitab inilah dasar pelayanan TimotiusBerawal dari keprihatinan Timotius kepada seorang remaja bisu, berusia 17 tahun yang berlari melewati lorong rumahnya, tanpa berbusana pada 1995 silam. Dengan kepedihan di hati, Timotius bersama istri dan anak-anaknya menangkap remaja ini, dan membawanya ke rumah kontrakannya. Mendoakan, memberikan pakaian, melayani hingga lebih baik. Inilah titik awal pelayanan Timotius hingga pasien bertambah menjadi 80-an orang saat ini.Latar belakang pasien, menurut pria kelahiran Soe, 25 April 1954 ini adalah karena haus kasih sayang dan keluberan kasih sayang. Timotius juga mengungkapkan bahwa, faktor pengganggu jiwa yang terjadi berdasarkan pelayanannya selama 15 tahun ini adalah karena: pertama, stres. Karena keinginan yang tidak tercapai, cinta terlambat oleh wanita, cinta tidak kesampaian oleh pria, cileduk (cinta lewat dukun), serta rumah tangga yang hancur. Kedua, penyakit keturunan. Ketiga, ditabrak setan ronda. Keempat, dikutuk oleh sesama. Kelima, obat terlarang. Keenam, orang pemalas. Ketujuh, pergulatan roh. “Bukan melayani untuk makan, tapi melayani pasti makan,” menjadi misi YADEKI. “Membawa yang tidak terbawa, merangkul yang tidak terangkul,” adalah visi YADEKI. Pelayanan ini berkembang dari mulut ke mulut. Hanya dengan doa, Timotius dan tim melayani setiap pasien yang datang. Firman Tuhan menjadi obat yang dikonsumsi setiap pasien, tanpa menggunakan obat penenang yang bisa merusak memori pasien.Mengamankan setiap pasien dengan rantai kaki dan doa pelepasan, adalah cara pelayanan yang dipakai YADEKI untuk pelayanan awal. Setiap pukul 5 pagi, menjadi waktu doa rutin yang dipakai untuk melepaskan para pasien dari setiap penyakit, dan pemulihan benar-benar terjadi. Dari yang sulit berinteraksi, hingga berdampak lebih baik melalui pelayanan YADEKI. Aktivitas yang terbatas, oleh karena fasilitas tempat yang tidak memadai, menjadi kendala untuk meningkatkan aktivitas berarti kepada setiap pasien.
Kebutuhan dan dampak
Bertambahnya pasien karena informasi mulut ke mulut. Pelayanan ini tidak memiliki sponsor tetap. Kontribusi pelayanan yang diharapkan Rp 1 juta per bulan dari setiap keluarga pasien, ternyata tidak terealisasi dengan baik. Ada yang membawa pasien namun tidak memberi kontribusi, bahkan keluarga tidak pernah mengunjungi dan bertanggung jawab untuk perkembangan pasien yang dimasukkan ke panti YADEKI. Hal ini terjadi hampir rata-rata seluruh pasien. Selain kebutuhan keuangan, penambahan kamar, bahkan kebutuhan harian seperti beras, gula, dan sayur yang tetap dibutuhkan setiap harinya menjadi kebutuhan YADEKI saat ini. Timotius meyakini bahwa pelayanan ini disupport oleh Tuhan, jadi dia dan tim, akan tetap mengerjakan pelayanan ini dengan sungguh-sungguh. Keunikan yang ditemui melalui pelayanan ini adalah ketika masing-masing pasien bercerita namun tidak nyambung, mengundang tawa yang menggelitik hati. Selama 24 jam, pelayanan ini terbuka bagi siapa saja. Timotius tidak hanya menanti orang untuk dilayani, namun dia pun turun ke jalan dan mengangkat mereka yang sakit untuk ditolong.”Memiliki jiwa yang besar, tempat yang besar, menampung mereka yang sakit untuk dilayani,” adalah impian Timotius. “Bagi mereka yang berlebihan, biarlah sama-sama menopang pelayananan ini,” pesan Timotius. Lidya