Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Garam Bisnis

Menciptakan Kegairahan Kerja

Posted : 29 Juni 2010
gairah kerja, kerja semangat.jpg

Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id

Anda ingin punya denyut  kehidupan yang lebih berwarna, menggairahkan, mendebarkan dan memberi Anda semangat pencapaian yang luar biasa?  Anda ingin mencoba sesuatu yang baru, tetapi merasa terkungkung di dalam sekat kantor karena bekerja pada suatu organisasi tertentu?   Anda benar, sekat fisik kantor bisa menjadi sekat psikis yang akan memblocking gerak dan kebesaran Anda.  Namun kalau Anda mau memandangnya dari cara yang berbeda, maka pengalaman yang akan Anda rasakan juga jauh amat berbeda. 
Sangat banyak orang merasa hidup hanya gitu-gitu saja, hanya sebuah perjuangan kelangsungan hidup ala survival. Itu terjadi karena orang ‘males’ alias tidak tertantang untuk bermimpi kalau ia bisa memainkan peranan yang amat besar, sesuatu yang amat unik yang tidak bisa dimainkan oleh orang lain, selain dirinya sendiri.  Setiap orang membawa grand design scenario spesifik yang sudah diciptakan untuk dirinya sendiri. So, carilah misi yang telah didesigned untuk Anda, dan cari kesamaan esensinya dengan misi dari organisasi Anda. Soal produk yang dihasilkan organisasi itu hanya masalah teknis, ia hanya medium. Lihat pesan utama (the message) yang hendak Anda komunikasikan ( not the medium).
Misalnya kalau di dalam sebuah orga-nisasi, saya hanya bekerja saja, tiap hari duduk di depan komputer atau dalam kubik sekat yang kecil, tentu akan sangat menjemukan. Namun kalau saya memilki sebuah misi tertentu, dan saya merasa misi organisasi di tempat saya bekerja, juga bisa mewujudkan apa yang saya ingin kejar, maka hasilnya akan amat berbeda. Semangat saya akan berpendar dan berbinar-binar.


Kalau saya tidak merasa (misi)  itu milik saya, maka keterlibatan saya akan sebatas seperti sebuah tugas (assignment). Itu misi orang lain. Maksimal yang akan  saya lakukan adalah kerja  sesuai kompetensi teknis dan atas dasar profesionalisme menunaikan assignment tersebut. Seperti sebuah proyek. Saya kerjakan apa yang diminta, lalu selesai dan minta jasa bayaran.  Kecerdasan dan kepala saya akan terlibat, tetapi hati saya tidak ikut bermain di dalamnya. Secara emosi, saya tidak terlibat, dan bagian diri saya yang lain (inner self)  hanya berada di pinggir lapangan.  Akibatnya tidak akan banyak terasa getaran di sana, lebih terasa datar. 
Sekadar ilustrasi, Anda bisa membedakan, sebuah lagu atau sebuah lukisan yang dibuat oleh orang yang terlibat secara emosi di dalamnya dan seseorang yang hanya mengerjakan karena tugas (order). Hasilnya dan juga harga jualnya, akan berbeda seperti bumi dan langit. Yang satu akan biasa-biasa saja, dan yang satunya akan mencetak hit, box offices.
Karena rasa keterlibatan sebagai pemilik tidak hadir di situ, saya akan menempatkan diri saya sebagai seorang “sewaan”. Oleh karena itu istilah yang sering dipakai, orang disewa (hired), dan kalau tidak sesuai dengan spesifikasi yang dituntutkan kepada saya, maka saya akan dibuang dipecat (fired). Seorang sewaan, tidak akan mempertahankan apa yang ia kerjakan dengan level komitmen yang sama, seperti seorang pemilik.


 Misalnya, kalau saya  merasa me-miliki sebuah kebun yang bernama kor-porasi, maka akuntabilitas saya tidak akan sama dengan kalau saya hanya merasa sebagai  sewaan tukang jaga kebun, dan Anda akan segera tahu perbedaannya, kalau ada singa atau garong yang hendak masuk ke dalam kebun tersebut.
Kalau Anda memiliki satu pleton pasukan di dalam korporasi, yang berkata: ‘this is my war”,  hasilnya akan sangat berbeda, dengan satu pleton pasukan yang berkata” this is not my war’ , meskipun keduanya bertempur bersama Anda, dengan perbekalan dan amunisi senjata yang sama di medan yang bernama “market place”, tetapi impactnya tidak pernah akan sama.  Yang satu akan bertempur habis habisan, dengan moral yang tinggi , tidak gampang menyerah dan bertempur hingga menang, dan merayakan kemenangan tersebut. Yang satu bertempur seadanya, seperti yang Anda surukan kepadanya, ia membaca perintah tempur sesuai yang tertera dalam job description.  Dan berkata dalam hatinya: “Beritahu saja apa yang mesti saya lakukan, dan saya akan lakukan seperti itu”. That is!.  
Kalau  Anda mendeliver produk  sesuai sesuai dengan standard kontrak order, maka ia mengha-silakn ganjaran atas dasar sebuah profesionalisme, dan upah dari etos  profesionalisme di atas adalah baik.   Namun kalau pikiran dan hati  organisasi Anda terbibat di dalam pekerjaan itu, dengan mema-sukkan unsur ownership di dalamnya, maka ganjarannya akan amat jauh berbeda. Kinerja Anda akan melampaui  standard pro-fesionalisme- beyond profesionalism.  Kalau profesional menjadi normal baku prasyarat  kelangsungan hidup organisasi, maka memperlengkapi organiasi dengan business ownership mentality akan membuat organisasi akan tidak akan lagi bergelut dalam tataran survival, tetapi mencapai puncak kejayaan.  


 

47
20 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201120102009
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.8234 sec | TOP
Online Support :