Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Senggang

Edo Kondologit, Seni Berpolitik

Posted : 29 Juni 2010
edokondologit.jpg
Reformata.com - BEGITU ia tampil panggung, siapa pun langsung bertepuk tangan dengan meriah. Perawakan hitam manis nan bersahabat dibalut dengan senyum manisnya membuat siapap un dengan mudah mengenal dan mengingatnya. Ia adalah Ehud Edward Kondologit, atau lebih akrab disapa Edo Kondologit. Pria kelahiran  Malanu, Sorong, 5 Agustus 1967 ini terkenal sebagai seorang penyanyi jazz Indonesia, namun tidak jarang ia juga tampil sebagai penyanyi begenre pop. Ia juga menggarap lagu-lagu bernuansa rohani Kristen. Lewat suaranya pula Edo banyak melantunkan perdamaian melalui sejumlah organisasi sosial.

Edo juga bisa dikatakan sebagai seorang seniman pluralis yang tidak terlalu berfokus kesukuan tertentu. Ia terlihat sering kali melakukan konser  musik dengan membawakan musik daerah yang bukan merupakan musik dari daerahnya sendiri, Papua. Pada beberapa kesempatan ia sering satu panggung dengan beberapa artis daerah lain, seperti yang baru-baru ini ia lakukan, yakni mengadakan konser musik bersama-sama dengan Vicky Sianipar. Lebih menarik lagi, bahkan saat ini ia sendiri telah menyelesaikan album lagu Bataknya. Menurutnya ia memang menggemari lagu-lagu Batak. Bahkan lebih menarik lagi, Edo sempat menceritakan makna di balik lagu-lagu Batak yang ia bawakan.

Saat ditanyai mengenai kegiatannya, Edo menjabarkan bahwa saat ini ia aktif dalam dunia politik. tidak segan-segan ia menyebut warna dan nama partai di mana ia saat ini sedang aktif. Bahkan ia menjadi pengurus di sayap partai yang bernama Taruna Merah Putih. Ia dipercayakan untuk menemani dan mendampingi Maruarar Sirait dalam beberap kunjungan. Edo juga mengungkapkan bahwa ia baru saja menyelesaikan agenda kunjungan dengan berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia. Saat ditanyai apa posisinya dalam setiap kunjungan tersebut, Edo mengemukakan bahwa ia berfungsi sebagai juru kampanye. Di mana sebelum juru bicara berkampanye, Edo selalu membuka acara tersebut dengan nyanyi-nyanyian yang membakar semangat setiap orang yang hadir.
Sementara itu saat disinggung mengenai profesinya sebagai seniman yang berpindah ke dunia politik, Edo menanggapi dengan santai. Menurutnya ia adalah seorang realistis dan mengalir. Ia tidak mau membatasi diri terhadap setiap kemungkinan yang terjadi. Menurutnya hidup terlalu singkat untuk dibuat susah. Jadi kesempatan untuk terjun dalam dunia politik sebagai seniman ia nikmati sebagai sebuah peluang yang ia jalani dengan santai saja. Akan tetapi ia membantah ketika dikatakan bahwa ia sudah bersiap untuk mundur dari dunia musik. Hal ini dikarenakan bahwa musik adalah panggilan jiwa baginya. Tidak semua orang bisa menjadi musisi dan oleh karena itu ia tidak akan pernah bisa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai musisi atau seniman. Ia pun menambahkan bahwa kalaupun suatu saat ia berprofesi sebagai politisi, jiwa seni di dalam dirinya tidak akan pernah hilang, dan ia akan tetap bernyanyi tentunya.

Edo sendiri mulai aktif dalam dunia politik ternyata sudah cukup lama. Menurut pengakuannya ia mulai aktif dalam dunia politik sejak tiga tahun terakhir. Saat ia aktif dalam dunia politik, Edo menemukan bahwa ternyata politik pun membutuhkan seni. Akan tetapi justru berbanding terbalik dengan kondisi dimana biasanya seniman tidak senang dirinya dipolitisir. Karena menurutnya seni adalah sesuatu yang datang dari hati dan selalu jujur. Sering kali terjadi bahwa politik membutuhkan seni di mana seni digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan atau pun agenda tertentu yang memang ingin disampaikan. Bahkan dengan berseloroh Edo  menyindir salah seorang anggota DPR yang sering kali membuat reaksi berlebihan di depan wartawan ketika rapat. Menurutnya itu pun merupakan bagian dari seni peran untuk tampil di media.

Oleh karena itu ia yang berasal dari latar belakang seniman bersyukur jika suatu saat benar-benar aktif dalam dunia politik. menurutnya setiap seniman yang terjun ke dalam dunia politik seorang seniman telah siap dengan hati yang bersih dan mengerti cara bermain politisi. Edo bahkan menggunakan kata “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” dalam hal menjalankan aktivitas politik yang memang sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Ia tidak mengelak ketika dikatakan bahwa ia saat ini bisa dibilang seniman yang berpolitik. Di samping itu Edo memberikan gambaran bahwa profesi apa pun juga selama dilakukan dengan tekun dan sepenuh hati, pasti mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan bisa jadi bagi orang di sekitarnya.  Jenda Munthe

59
19 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.6781 sec | TOP
Online Support :