Reformata.com - BERITA tentang penemuan bahtera Nabi Nuh di puncak Gunung Ararat, Turki timur, bukan sesuatu yang begitu mudah dipercaya dan diterima. Pelbagai telaahan atau pendapat dari sisi ilmu berbeda dikemukakan, termasuk telaahan teologis. Sebagai teolog yang mendalami kitab-kitab Perjanjian Lama (PL), yang antara lain juga berisi cerita tentang kapal Nabi Nuh dan peristiwa yang terjadi pada saat itu (Kitab Kejadian), Pdt. Yonky Karman dari STT Jakarta, mengemukakan beberapa hal.
Pertama, kata “bahtera” di Alkitab merujuk perahu atau kapal, padahal kata Ibraninya teba adalah sebuah kata pinjaman dari bahasa Mesir, yang merujuk tempat menampung sesuatu (container, bentuknya bisa apa saja, peti, kotak, atau keranjang). Dari 28 kali pemunculan kata teba dalam PL, 26 kali dalam narasi banjir besar (Kej. 6-9) dan dua kali dalam narasi kelahiran Musa (Kel. 2:3, 5 “peti”; BIS “keranjang”). Septuaginta memakai kata Yunani kibotos (juga Mat. 24:38; Luk. 17:27; 1Pet. 3:20) untuk teba dalam narasi banjir besar dan untuk tabut perjanjian (bnd. “ark” dalam Alkitab berbahasa Inggris untuk bahtera Nuh maupun tabut/peti perjanjian), tetapi thibis untuk teba Musa. Vulgata memakai kata Latin arca (dari situ kata Inggris “ark”) untuk teba Nuh dan fiscella untuk teba Musa. Terjemahan “bahtera” untuk teba berasal dari tradisi Kristen. Meski mengaburkan referensi sebenarnya, terjemahan itu masih dapat dipertahankan demi alasan praktis.
Yang jelas, lanjut Pdt Yonky, sumber Alkitab tidak mengatakan teba yang dibuat Nuh untuk berlayar dan mela-kukan perjalanan. Fungsinya sebagai tempat penampung-an yang besar dan dapat mengapung di air untuk waktu yang lama (mungkin sema-cam rumah kapal atau rumah apung), dengan ukuran 133 m (p) x 22 m (l) x 13 m (t), ada atap dan dinding-dindingnya, seluruhnya berting-kat tiga dengan sebuah pintu di sisinya (Kej. 6:15-16, BIS). Jika dibayang-kan, konstruksinya tinggi memanjang, namun daya tam-pungnya tidak spek-takuler seperti yang biasa dibayangkan pembaca awam. Tentang daya tampung bahtera ini, Apelles, seorang penganut Marcionisme, memper-soalkan luas bahtera yang mungkin cukup menampung empat ekor gajah. Namun, Origen, juga kemudian Agustinus, berkilah bahwa hasta yang dimaksud Alkitab (’amma) adalah hasta Mesir yang ukurannya dua kali lipat ukuran hasta Ibrani.
Kedua, menurut sumber Alkitab, bahtera Nuh kandas di pegunungan Ararat (8:4 hare ’ararat har. “gunung-gunung di Ararat”), tidak merujuk sebuah gunung tertentu. Ararat sendiri sebenarnya sebuah kata Ibrani untuk kata Asyur Urartu. Tanah Urartu yang disebut dalam catatan-catatan sejarah Asyur luas sekali; kini meliputi bagian-bagian dari negara Turki, Rusia, dan Iran, dengan pusat geografisnya di Danau Van. Eksplorasi modern Urartu pun dilakukan di tiga negara itu. Tampaknya cerita tentang ketinggian puncak-puncak Urartu dikenal sampai Palestina pada masa awal agama Kristen. Namun, baru tradisi Kristen di kemudian hari memulai cerita tentang Gunung Ararat. Yang jelas banyak cerita dan kesaksian yang mengklaim bahwa bahtera Nuh kandas di sebuah gunung. Laporan-laporan itu berbeda lokasi dan tak dapat diverifikasi.
Tidak jelas
Lebih jauh Pdt. Yonky menjelaskan bahwa, tradisi awal yang cukup dominan berkembang di kalangan Kristen adalah mengaitkan pegunungan Ararat sebagai berada di tengah pegunungan Armenia dan Gordyene (Epifanius, c. 315-403 M), mengidentikkannya dengan pegunungan Armenia (Yohanes Krisostomus, c. 345-407 M), atau sebuah gunung di Armenia (Isidorus dari Sevilla, c. 560-636 M). Namun, tradisi yang paling dominan dan berkembang di kalang-an Kristen, Yahudi, dan Muslim pada abad-abad terakhir milenium perta-ma adalah bahwa bah-tera itu kandas di (Jabal) Judi, yang sebenarnya tidak jelas di mana per-sisnya. Ada yang me-ngatakannya di Seme-nanjung Arab, di se-buah gunung di utara Sungai Tigris, ujung kawasan Gordyene/Qardu, seberang hulu Sungai Zab. Ada catatan bahwa kaum Nestorian membangun biara-biara di Jabal Judi dan sebuah biara mereka di puncak gunung itu hancur oleh petir (766 M).
Mulai abad ke-11 Masehi dan seterusnya fokus posisi Gunung Ararat berpindah ke puncak gunung berapi yang besar di ujung timur laut Turki. Gunung Agri Dagh adalah Gunung Ararat modern. Dalam peta purbakala, itu sebuah puncak terkenal di wilayah paling selatan Urartu. Semasa Abad Pertengahan, di kaki gunung itu dibangun Biara Santo Yakobus, yang rahib-rahibnya memuaskan para peziarah dengan memperlihatkan benda-benda yang dianggap peninggalan Nabi Nuh dan keluarganya. Biara itu dihancurkan (1840). Sebelum Revolusi Rusia (1917), konon seorang penerbang Rusia melihat dari udara sebuah kapal bertengger di Gunung Ararat. Kemudian Czar (kaisar Rusia) memberi perintah untuk menyelidiki kebenarannya.
Namun, menurut Pdt. Yonky, tak ada catatan tentang itu. Kalaupun ada, mungkin catatan itu ikut musnah dalam kekacauan dan keberingasan revolusi. Namun, sejak tahun 1950-an, sebagian dimotivasi cerita tentang penerbang Rusia itu, sejumlah ekspedisi Amerika dibentuk untuk menyelidiki ikhwal kapal itu. Akhirnya, sebuah struktur kayu ditemukan pada ketinggian sekitar 4.200 m di Gunung Ararat. Saat itu, belum dapat dilakukan penelitian sempurna sebab sebagian besar struktur dari kayu itu tertutup es. Pada tahun 1970, usia potongan-potongan kecil kayu itu ditaksir dengan metode radiokarbon (C-14) dan ternyata usia kayu itu tidak lebih dari 1.200 tahun, berasal dari abad ke-7 atau ke-8 M. Karena itu, Pdt. Yonky memper-tanyakan, mungkinkah para rahib di Biara Santo Yakobus dalam rangka melengkapi benda-benda yang diyakini sebagai peninggalan Nabi Nuh dan keluarganya telah membangun sesuatu yang menyerupai bahtera Nuh?
Kini dunia diramaikan lagi dengan temuan kapal Nabi Nuh dalam sebuah ekspedisi kaum evangelis. Terkait dengan itu, Pdt Yonky kembali bertanya, seperti apa bentuk kapal itu yang katanya hampir pasti adalah bahtera Nuh? Seperti kapal untuk berlayar? Berapa usia kayu dari kapal itu? Jika itu benar bahtera Nuh, mungkin tidak akan ada lagi spekulasi tentang itu. Jika masih kontroversial, narasi tentang bahtera Nabi Nuh belum berakhir.
Stevie Agas