Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Khusus

Bahtera Nuh, Tidak Ada Relevansi Bagi Iman Kristen

Posted : 29 Juni 2010
bahtera nuh.jpg
Reformata.com - BAHTERA Nabi Nuh telah  lama menjadi kontroversi di dunia arkeologi. Sebagai-mana sejarah mencatat bahwa Nabi yang diyakini tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam itu, diperintahkan Tuhan untuk membuat sebuah bahtera sebagai sarana untuk menyelamat-kan diri dan keluarganya serta beragam jenis hewan dari murka Tuhan yang mendatangkan air bah yang  menenggelamkan bumi. Ketiga agama tersebut mengisah-kan bahwa Nabi Nuh menaati perintah Tuhan  dan tepat pada waktu yang ditentukan turunlah hujan lebat di bumi dan menghancurkan segala makhluk di dalamnya.
Kisah tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan yang hangat di kalangan sejarawan, terutama para arkeolog.  Ada pihak yang mendukung bahwa kisah tersebut nyata, tetapi banyak juga yang mengatakan bahwa kisah itu hanya mitos. Pihak yang menganggap itu kisah nyata berupaya untuk mencari pembuktian dengan melakukan survei ke tempat-tempat tertentu. Sasaran pencarian bukti mereka adalah tempat-tempat seperti tersebut di dalam kitab suci dari masing-masing agama yang mengisahkan Nabi Nuh itu.
Sepanjang sejarah, dari abad ke abad, terutama sejarah sejak setelah terjadinya kisah Nabi Nuh itu, cukup banyak berita yang beredar yang memberitakan penemuan bahtera Nabi Nuh. Namun dari sekian berita penemuan itu, tidak disertai dengan pemberitaan bahwa penemuan bahtera Nabi Nuh tersebut sudah 100 persen atau sudah secara resmi dibuktikan keberadaannya dan formasi dari bahtera tersebut.
Kini, berita serupa terjadi lagi. Hangatnya pemberitaan pene-muan bahtera Nabi Nuh itu berawal dari konferensi pers pada 26 April 2010 lalu di Turki yang dilakukan tim 15, tim gabungan China dan Turki yang menamakan diri kelompok pencarian dan peneliti bahtera Nabi Nuh. Meski mereka sendiri tidak berani mengatakan secara seratus persen bahwa formasi kapal yang terletak di puncak Gunung Ararat  itu adalah formasi peninggalan bahtera milik Nabi Nuh, namun mereka secara penuh semangat dan berkeyakinan bahwa memang formasi bahtera tersebut adalah milik Nabi Nuh. Pertanyaan, adakah relevansinya bagi penghayatan iman kita terkait berita penemuan bahtera Nabi Nuh tersebut?

Bukan konsentrasi iman
Terhadap pemberitaan tentang penemuan bahtera Nabi Nuh tersebut, muncul tanggapan berbeda seputar relevanisnya bagi penghayatan iman kita, khususnya iman Kristen. Pdt. Gomar Gultom misalnya, tersiarnya berita penemuan bahtera Nabi Nuh itu justru tidak melihat relevansinya bagi iman Kristen. Dia berpendapat, berita penemuan-penemuan arkeologi tersebut justru semata untuk kepentingan sejarah, bukan kepentingan iman.
“Adanya berita penemuan arkeologi seperti ini, justru saya tidak melihatnya dalam kerangka pembuktian terhadap pewartaan Alkitab,” kata Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) ini. Dia beralasan bahwa, berita atau pewartaan Alkitab bukan soal membuktikan sejarah. Sebaliknya, berita Alkitab adalah kesaksian iman. Karena itu, unsur historisitas dari sebuah Kitab Perjanjian Lama bukanlah konsentrasi iman Kristen. “Bila ada penemuan sejarah, maka itu tidak perlu dipertentangkan dengan iman kita,” lanjut Pdt. Gomar.
Pendapat agak berbeda datang dari Pdt. Arbiter G. Simorangkir, Sekretaris Umum BPH Sinode Gereja Sahabat Indonesia. Dikata-kannya, penemuan penggalian arkeologi seperti bahtera Nabi Nuh, bila benar, justru akan memperkuat bukti-bukti otentik dari kisah-kisah yang ada di dalam Alkitab. “Jadi di dalam hal ini, banyak penemuan arkeologi yang membuktikan bahwa apa yang ada di dalam penulisan Alkitab itu sebenarnya otentik dari kaca mata sejarah. Dan tentu saja akan memperkuat iman kita,” ujarnya.
Meski begitu, ia menandaskan, pada dasarnya juga kita tidak semata-mata melaksanakan iman kita berdasarkan penemuan pembuktian sejarah tersebut. Sebab, kita mesti akui bahwa dari sekian banyak cerita di dalam Alkitab, terutama cerita dalam Perjanjian Lama tidak sepenuhnya bisa ditemukan.
Keimanan kita, lanjut Pdt. Arbiter, lebih jauh dari sekadar penemuan bukti sejarah sebagaimana yang diberitakan tentang penemuan bahtera Nabi Nuh. “Keimanan kita terutama dilihat seberapa besar hubungan kedekatan kita dengan Tuhan, yang juga terwujud dalam menguatnya perasaan kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-sehari,” tandasnya.
Jadi, demikian Pdt. Arbiter, bila dibuktikan kebenarannya mengenai pemberitaan penemuan formasi bahtera yang diduga milik Nabi Nuh maka akan menambah dan memperlengkapi iman kita. Jika tidak bisa dibuktikan ya, tidak perlu dipermasalahkan. “Kita tidak perlu mendasarkan iman kita pada penemuan-penemuan satu disiplin ilmu tertentu yang sifatnya terbatas,” kata Pdt. Arbiter. Stevie Agas


49
9 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.6311 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net