Reformata.com - MALAM itu, dari taman, terdengar dentaman musik dari sound system. Kita pasti menduga kalau itu berasal dari sekelompok anak muda yang sedang bermain musik dengan instrumen. Ternyata tidak, mereka hanya memainkan berbagai musik itu dengan mulut mereka. Ya, ha-nya dengan mulut mereka menghasilkan bunyi musik yang sama persis dengan suara yang dihasilkan berbagai alat musik. Jika tidak melihat mereka secara langsung dan hanya mendengar bunyi yang mereka buat, tentu sulit percaya kalau musik yang mereka ciptakan tanpa meng-gunakan alat musik. Musik jenis itu namanya beatbox.
Salah seorang beatboxer, Ricardo, bercerita tentang beatbox. Ia mengemuka-kan sedikit sejarah awal mula jenis seni ini. Menurut-nya beatbox itu sendiri berawal dari orang-orang di Afrika yang gemar memainkan musik dengan sentuhan tubuh atau biasa disebut body percusion. Seiring ber-jalannya waktu orang Afrika hijrah ke Amerika dan bertemu dengan komunitas Hip-Hop jalanan. Sejak itu mulai berkembang bunyi-bunyi dasar yang ditirukan dengan menggunakan mulut. Berkem-banglah musik beatbox yang didasari dan dikembangkan dari musik body percussion tersebut. Menurut Ricardo yang sempat lolos audisi ajang pencari bakat di salah satu stasiun TV ini, beatbox, pada awal perkembangannya belum banyak mengenal teknik dan buyi-bunyian seperti yang ada saat ini.
Sementara beatboxer lain, Billy yang biasa dipanggil Billy Beatbox, menuturkan bahwa komunitas beatbox atau Indo Beatbox masuk di Indonesia pada awalnya masih beranggota lima belas sampai dua puluh orang. Awal peresmian berdiri pada tanggal 30 Oktober 2008 di Gothe House, Menteng. Billy bersama temannya Bito Fade to Black serta beberapa nama lagi muncul yakni Jepin Julian, Melano, Idra Aziz. Arya Gorga Hamdani menjadi penggagas awal berdirinya komunitas ini. Kini setelah satu tahun anggota dari komunitas ini telah mencapai kisaran jumlah lima ribu yang tergabung dalam group di situs jejaring sosial Facebook. Billy menambahkan bahwa memang kebanyakan anggotanya meru-pakan pelajar sekolah menengah atas, mahasiswa, namun ada juga yang berasal dari kalangan pekerja.
Kini anggota dari komunitas ini telah menyebar di seluruh Indonesia, seperti Solo, Yogyakarta, Palembang, Bandung, Cirebon, Pontianak, Banten, dan di Surabaya yang baru-baru saja diresmikan. Billy mengungkap bahwa menyebarnya komunitas Indobeatbox ini berasal dari semangat yang dibangun oleh komunitas awal di Jakarta. Saat ditanyai mengenai aktivitas rutin setiap anggota dari komunitas ini, Billy mengungkapkan bahwa hal yang paling rutin dilakukan adalah pertemuan di Taman Menteng, Jakarta pada setiap hari Rabu. Dalam setiap pertemuan ini yang dilakukan adalah latihan beatbox, berbagi dan bertukar ilmu dan teknik baru. Selain dari kegiatan semacam itu, setiap anggota yang hadir biasanya saling mengakrabkan diri dengan aktifitas keseharian masing-masing seperti kehidupan keluarga, kuliah maupun pekerjaan.
Lewat kegiatan semacam inilah ikatan emosional setiap anggota dari komunitas ini terbangun dan terus terjaga. Menurut Billy, siapa pun diperbolehkan untuk ber-gabung dengan komunitas ini, tidak hanya mereka yang telah mahir menggunakan teknik-teknik beatbox saja yang boleh berga-bung, akan tetapi justru banyak yang datang untuk memperkaya ilmu yang mereka miliki, bahkan ada yang datang yang memang sama sekali belum memiliki teknik dasar beatbox.
Saya mencoba menanyai Billy teknik dasar yang bisa dipelajari untuk pemula. Dengan senang hati Billy membagikan teknik tersebut. Menurutnya teknik dasar yang haru dipelajari bagi pemula adalah menirukan tiga bunyi dasar, yaitu bunyi kick drum, high head drum, dan snare drum. Untuk meniru bunyi kick biasanya diwakilkan dengan lafal “B”, untuk high head diwakilkan dengan lafal “T”, sedangkan untuk snare drum diwakilkan dengan lawal “K”. Ketiga lafal itu sangat akrab di telinga para “Beatboxer”, dan biasanya mereka menyebut BTK. Untuk mempelajari teknik dasar tersebut harus dilakukan pengulangan terus menerus sampai bunyi yang diinginkan benar-benar menyerupai aslinya. Setelah bunyinya benar-benar sempurna, pelajaran tahap berikutnya bisa dilakukan dengan meningkatkan tempo serta memvariasikannya.
Saat ditanyai mengenai berapa lama biasanya seseorang mampu mempelajari teknik-teknik yang ada dalam beatbox, Billy menemukakan bahwa hal tersebut adalah relatif. Setiap orang mempunyai waktu tertentu masing-masing dalam mempelajari teknik yang ada, dan menurutnya itu semua bisa lebih mudah tergantung dari niat dari orang yang mau belajar dan serius dalam mendalami teknik yang ada. Billy sempat mempraktekkan teknik tersebut yang spontan membuat saya langsung berusaha menirukan caranya yang begitu lancar dan menawan.
Jenda Munthe