
Bersama: Bimantoro
Bapak Konselor yang saya hormati. Saya punya suatu beban: istri saya merupakan tipe wanita yang punya keinginan yang hanya dapat dinilai dengan uang. Desember 2009 saya pulang kampung bersama istri dan anak (3 tahun). Waktu itu saya baru bekerja 10 bulan, jadi belum mendapat hak cuti. Saya sudah menyampaikan hal tersebut kepada istri. Kalau bisa, dia dan anak saja yang pergi, dan saya akan menyusul walau hanya sebentar di kampung. Tetapi dia tidak mau, hingga akhirnya saya pulang juga. Namun ketika kembali, saya diharuskan mengundurkan diri oleh manajemen perusahaan.
Hingga saat ini saya belum bekerja, hanya berusaha kecil-kecilan di rumah. Tapi sekarang dia menuntut uang lebih. Saya haya bersabar dan berharap Tuhan memberikan jalan dan kesabaran kepada saya. Hingga istri saya mengatakan akan meninggalkan saya. Saya mengharapkan pendapat dan saran tentang apa yang harus saya lakukan. Saya tidak takut berpisah, intinya saya ingin bahagia, dia bahagia dan putra kami bahagia. Tuhan, apa pun kehendak-Mu saya siap. Tapi satu pintaku, Tuhan jaga aku dan anakku.
Saya bingung karena istri saya juga mengatakan kepada anak bahwa saya bapak yang bodoh, nakal dan berbagai hal buruk tentang saya. Tolong beri saya jalan.
Deny
Jakarta
TERIMAKASIH untuk surat yang disampaikan. Mencoba membahagiakan orang lain memang merupakan hal yang baik, namun ternyata hasilnya bisa tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Hal ini dialami Anda ketika mencoba memba-hagiakan istri yang berakibat Anda kehilangan pekerjaan dan juga mengalami problem dalam relasi setelah kehilangan pekerjaan. Saya percaya ketika Bapak memu-tuskan untuk mengikuti kemauan istri tentunya sudah dengan sebuah kesadaran akan risiko kehilangan pekerjaan, namun entah mengapa Bapak lebih memilih mengikuti kemauan istri. Setelah kondisi menjadi semakin tidak menguntungkan, masalah relasi memang bisa menjadi semakin pelik dan bahkan bisa memun-culkan keinginan-keinginan berba-gai macam, di antaranya adalah bercerai. Di tengah kondisi seperti ini kita bisa jadi menyerah, putus asa bahkan akhirnya bisa menye-tujui keinginan istri untuk bercerai. Dari kondisi yang Bapak sampaikan, saya mengajak Bapak untuk memikirkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Seperti apa pola relasi Bapak dan istri? Apakah pola relasi seperti ini sudah berlangsung sejak berpacaran ataukah baru muncul dalam pernikahan? Kalau memang sudah muncul sejak berpacaran, tentunya hal ini sudah menjadi pertimbangan Bapak ketika memutuskan untuk menikah. Sementara kalau baru muncul di dalam pernikahan maka perlu dilihat peristiwa apa yang membuat relasi menjadi seperti saat ini, di mana istri sepertinya sangat kuat pengaruhnya terhadap Bapak.
2. Melihat pada poin pertama, apakah keinginan istri untuk bercerai semata-mata hanya karena masalah keuangan yang tidak mencukupi, atau ada hal lain yang mungkin menjadi penyebab utama dari buruknya relasi yang terjalin selama ini? Pertanyaan ini perlu direnungkan mengingat bisa saja masalah keuangan hanya salah satu dari berbagai masalah yang memunculkan kekecewaan istri. Hal ini perlu Bapak kaji ulang, mengingat dalam berelasi kekecewaan bisa saja muncul sebagai reaksi atas tingkah laku, cara berpikir dan pola kerja emosi yang tidak sesuai dengan harapan masing-masing, yang jika tidak terkomunikasikan dengan baik bisa menyebabkan relasi yang semakin memburuk dan akhirnya seperti menghadapi jalan buntu.
3. Kalau memang masih ada kesempatan untuk memperbaiki relasi ini, tentunya setiap pihak perlu menyadari peran apa yang seharusnya diambil demi terwujud-nya keluarga yang sehat, yang memiliki ciri saling mendukung setiap individu di dalamnya untuk berfungsi sesuai perannya. Kalau itu seorang suami/ayah, maka tentunya dia harus menjadi kepala keluarga yang memenuhi fungsi yang wajar. Wajar dalam arti apakah dia bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya, baik dalam hal kebutuhan materi (dalam arti bekerja dengan bertanggung jawab), kebutuhan emosional yang memberikan rasa nyaman kepada keluarganya ketika berinteraksi dengannya, dan kebutuhan spiritual yang membimbing keluarganya menjadi keluarga yang takut akan TUHAN.
Dalam bagian ini apakah Bapak pernah merenungkan friman TUHAN yang terdapat dalam Efesus 5: 25 - 33, di mana seorang suami harus mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya bagi jemaat supaya jemaat menjadi kudus dan tidak bercela. Dari firman ini ada upaya yang harus dilakukan oleh seorang suami yang tidak bisa hanya didasari oleh motivasi menyenangkan atau membahagiakan istri, tetapi harus terus didasari akan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang takut akan TUHAN.
4. Dari perenungan tersebut di atas, tentunya perlu ada strategi yang dibangun untuk bisa keluar dari permasalahan, di antaranya adalah mencoba melihat hal apa yang bisa dilakukan oleh kita, yang kira-kira bisa memberikan sumbangsih untuk mengatasi masalah. Misal dengan menunjukkan sikap yang tidak menyerah dan terus berupaya untuk mencari pekerjaan. Membangun strategi yang tepat tentunya akan sangat membantu. Strategi yang tepat bisa dibangun oleh kita sendiri dan juga bisa dengan bantuan orang lain (konselor) yang terlatih dan bertanggung-jawab. Tuhan memberkati.v
LIFESPRING COUNSELING CENTER
68199933 / 22
www.my-lifespring.com