Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Leida Massie, Penjual Nasi Uduk: Semangat Hidup Tetap Menyala

Posted : 19 Desember 2008
komunitas-nasi-bungkus-pasar-lama-1.jpg

DI Jakarta, terutama pada pagi hari, orang-orang tidak bakal kesulitan mencari nasi uduk. Hampir di tiap pemukiman penduduk makanan khas Betawi itu dapat ditemui. Selain rasanya enak dan murah, nasi uduk memang paling diminati. Tak sedikit orang menjadikan nasi uduk sebagai makanan wajib sebagai sarapan pagi. Lantaran itulah, wajar jika penjual berusaha menyajikan aroma rasa dan beraneka lauk demi memikat pembeli. 

Lalu, bagaimana jadinya jika penjualnya kebetulan beragama non-muslim. Hal yang tak lazim itu dapat dijumpai di seputar pertigaan Jalan Enim, Tanjungpriok, Jakarta Utara. Leida Massie (50) namanya. Barangkali, cuma Leida—demikian dia biasa disapa—satu-satunya penjual nasi uduk beragama Kristen di Jakarta.

Perempuan asal Manado, Sulawesi Utara, ini patut diancungi jempol karena berani menjajakan makanan yang dikonsumsi untuk umum. Pasalnya, selain riskan tidak laku, makanan yang dijual akan mudah digosipkan mengandung lemak babi. “Saya tidak takut isu itu. Buktinya, sampai sekarang dagangan saya selalu habis,” katanya kepada REFORMATA saat dia akan menutup dagangannya.

Diakui Leida, aroma aroma nasi uduk olahannya terasa berbeda dengan penjual nasi uduk pada umumnya. Ditambah lagi dengan “aksesoris” lauk seperti telor dadar yang diiris-iris kecil dan sambal yang gurih menambah nafsu makan para penikmat nasi uduk. Dengan keunggulan rasa itu, semula tak sedikit pembeli menanyakan soal bumbu-bumbu yang dicampurnya. “Dijamin halal kok,” begitulah jawabnya sambil tersenyum tiap kali ditanya. 

 

Bertahan dalam himpitan

Dorongan untuk berjualan nasi uduk tak bisa dibendung Leida mengingat dia memiliki bakat memasak. Usaha yang dimulai pada 2004 itu pun sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri lantaran sang suami meninggal akibat komplikasi penyakit. Perempuan kelahiran Manado, 2 April 1958, ini makin berat memikul beban hidupnya sejak kedua anaknya sudah berkeluarga dan kini tinggal di Manado. Batinnya kadang berkecamuk lantaran dia masih tinggal di rumah kontrakan dengan sewa tergolong mahal. Di rumah dia tinggal bersama cucunya usia tujuh tahun. “Selagi saya sehat dan masih bisa berusaha menghidupi diri sendiri, saya tidak mau menyerah. Saya yakin Tuhan tidak bakal meninggalkan anak-Nya yang sungguh-sungguh berharap pada-Nya,” tutur jemaat Gereja Manado Indonesia (Gemindo) Kebonbawang, Tanjungpriok, Jakarta Utara, ini.

Kedua anaknya sering mendesak Leida agar meninggalkan Jakarta dan tinggal di Manado, namun permintaan itu belum bisa dituruti lantaran dia masih ingin hidup mandiri. Para tetangga dan teman-temannya ada yang memuji, tapi tidak sedikit yang mengejek. “Saya pernah dibilang perempuan kolot, kurang gaul,” katanya. Sindiran itu tidak menbuat dia hilang semangat. Bagi Leida, yang terpenting adalah menjalani hidup tanpa bergantung pada belas kasihan orang lain.

Meski sudah beranjak tua, wajahnya masih kelihatan cantik. Dia mengaku tidak malu mengangkat meja dan perlengkapan bakul jualan dari rumahnya di Jalan Enim, berjarak ratusan meter dari tempat jualan. Waktu istirahatnya relatif pendek karena terkuras mengurus usaha nasi uduk seusai berjualan sampai pagi berikutnya. Selain itu, dia bertugas memberikan perhatian terhadap cucunya. “Jika nanti tidak sanggup lagi, saya terpaksa pulang kampung,” ungkapnya.   ?  Herbert Aritonang

63
20 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 6.3174 sec | TOP
Online Support :