Sejauh ini sekolah yang murid-muridnya berkulit putih, hitam, pribumi dan non pribumi, kaya dan miskin dianggap sekolah yang paling ideal.
Hasil penelitian Belanda menunjukkan bahwa prestasi murid-murid sekolah campuran itu justru lebih buruk daripada rekan-rekan sebayanya di sekolah 'putih' atau 'hitam'. Yang mencolok: terutama latar belakang Islam berpengaruh buruk terhadap prestasi murid.
Pakar sosiologi Belanda Jaap Dronkers, gurubesar di Maastricht, Belanda selatan, meneliti dampak negatif dan positif keragaman etnik di sekolah-sekolah menengah. Dronkers membandingkan skor siswa-siswi berusia 15 tahun di limabelas negara dalam mata pelajaran bahasa, matematika dan fysika. Ternyata murid-murid berprestasi lebih buruk kalau diversitas etnik di sekolah mereka juga besar.
Jap Dronkers: Menurut saya prestasi anak-anak sekolah yang mempunyai keragaman etnik lebih rendah karena energi dihabiskan untuk menjembatani perbedaan antar siswa. Alhasil, guru tidak bisa lagi mengajar karena harus memperhatikan pelbagai budaya. Itu menghabiskan waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk mengajar.
Bisa disamakan
Di Belanda tidak ada data tersedia, tapi menurut Dronkers hasilnya berlaku juga di sini: situasi pendidikan di Denmark, Belgia dan Jerman bisa disamakan dengan keadaan di Belanda.
Susunan etnik sekolah-sekolah di Belanda merupakan masalah peka. Belanda tidak menghendaki pemisahan antara sekolah 'putih' dan 'hitam'. Tapi segregasi itu tidak bakal berdampak negatif selama mempertahankan homogenitas. Justru sebaliknya, 'sekolah hitam' yang 80% muridnya adalah keturunan Turki, lebih berprestasi daripada sekolah yang memiliki diversitas etnik.
Islam
Kesimpulan penelitian Dronkers yang juga mencolok adalah prestasi sedang murid-murid berlatarbelakang Islam.
Dronkers: Penyebabnya bukan latar belakang sosial-ekonomi atau ciri khas sekolah maupun pendidikan. Jadi apa? Mungkin saja mereka didiskriminasi, tapi ini juga berlaku bagi anak-anak non-muslim. Jawabannya: mereka adalah anak-anak buruh migran. Tapi orang Itali dulu juga begitu. Satu-satunya kemungkinan adalah agama.
Keluarga miskin
Tidak semua orang sependapat dengan Dronkers. Menurut pakar pendidikan Belanda Anja Vink, Dronkers terlalu menekankan budaya atau agama. Secara umum diketahui bahwa latar belakang sosial-ekonomi paling menentukan bagi prestasi pendidikan anak-anak.
Anja Vink: Kami memperhatikan warna, budaya dan agama, tapi yang tidak disebut adalah bahwa anak-anak ini tergolong keluarga miskin. Ini juga bisa berlaku bagi anak-anak berkulit putih, pribumi. Kalau sekolah 'putih'nya itu tidak bermutu, dsampaknya ya sama. Itu tampak di Propinsi Friesland, Groningen dan Limburg.
Orangtua berpendidikan tinggi
Menurut Vink, yang a.l. menulis buku tentang sekolah-sekolah hitam di Belanda, kesimpulan bahwa murid-murid berlatarbelakang Islam berprestasi lebih buruk harus lebih bernuansa. 'Mungkin itu berlaku bagi anak-anak keturunan Maroko dan Turki. Tapi skor anak-anak keturunan Afghan, Iran dan Irak kadangkala lebih bagus daripada prestasi anak-anak pribumi. Itu disebabkan oleh pendidikan tinggi orangtua murid-murid tersebut."
Dronkers mengakui bahwa diversitas etnik sehubungan anak-anak yang orangtuanya berpendidikan tinggi justru bisa berdampak positif. 'Jadi ada nilai tambahnya'. Menurut Dronkers anak-anak non pri yang berasal dari negara-negara Asia seperti Cina, Korea dan India juga berperstasi bagus."