Reformata.com - Persoalan demi persoalan yang menimbulkan konflik menyeret beberapa pihak. Mulai dari permasalahan antarkeluarga, persoalan anak dari Daniel dan Deborah sampai permasalahan etika kekristenan yang sedikit terusik atas pemberkatan Daniel dan Joy, di mana Daniel Sinambela yang kini menjadi suami dari Joy Tobing pernah menikah dengan Deborah. Permasalahan yang tidak pernah ada kata selesai ini tampaknya saat ini tidak sepanas saat pemberitaan pernikahan Joy pertama kali diangkat oleh media. Hanya saja beberapa kalangan masih memiliki pendapat yang simpang siur mengenai awal penyebab timbulnya permasalahan yang melibatkan dua keluarga ini. Alih-alih ingin mencari tahu awal penyebab dari masalah yang timbul justru menimbulkan masalah baru dengan kabar yang simpang siur.
Beberapa kalangan ada yang menganggap bahwa permasalahan timbul karena Joy menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ada juga yang berpikir bahwa tidak hadirnya orang tua Joy dalam acara pemberkatan itu disebabkan sikap tidak setuju orang tua Joy dengan pasangan Joy. Status Daniel yang pernah menikah sepertinya mampu membenarkan tanggapan bahwa pihak keluarga Joy memang tidak memberikan restu kepada sang putri yang pernah menjuarai ajang tarik suara bergengsi beberapa tahun lalu itu.
Untuk menemukan kebenaran apa yang sebenarnya menjadi latar belakang penyebab konflik tersebut terjadi, kami menghubungi keluarga kedua belah pihak: orang tua Joy dan orang tua Daniel. Saat Reformata menyambangi kediaman Joy, awalnya orang tua Joy agak sulit memberikan komentar. Permasalahan yang terlalu banyak tampaknya memberatkan pria bernama Marudut Tobing ini untuk bebas berkomentar. Awalnya ia hanya berkomentar sedikit, sampai perlahan ia mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi awal penyebab terjadinya konflik yang mendukakan tersebut.
Ia memaparkan bahwa kini permasalahan yang semestinya tidak perlu terjadi justru semakin membesar dan melebar ke mana-mana. Ia menegaskan bahwa sesungguhnya tidak pernah ada wacana penolakan terhadap pernikahan putrinya tersebut. Justru yang ada adalah bahwa pernikahan tersebut harus dipersiapkan sebaik mungkin. Untuk itu harus ada prosedur-prosedur yang harus dilewati.
Tidak sabar
Marudut menyayangkan ketidaksabaran keduanya untuk melewati proses adat yang sebenarnya dapat dijalankan dengan mudah jika ada kesepakatan antara pihak keluarga Joy maupun Daniel. Bahkan kesepakatan sebenarnya sudah ada, yakni pernikahan dilangsungkan bulan Oktober tahun ini. Bahkan ketika ada permintaan untuk dipercepat ke bulan Juni, pihak keluarga pun menyanggupinya. Namun entah kenapa Joy dan Daniel tiba-tiba berinisiatif untuk melangsungkan pernikahan tanpa prosedur yang telah ditetapkan. “Ini bukan permasalahan ikut campurnya orang tua, mereka memang sudah dewasa, tapi bukan berarti kita biarkan begitu saja mereka menikah tanpa perencanaan yang jelas kan”, ujar Marudut.
Saat ditanya alasan apa yang kira-kira membuat mereka berinisiatif mempercepat, Marudut mengungkapkan bahwa sepertinya mereka takut kalau pernikahan yang direncanakan dilangsungkan bulan Juni bisa saja batal jika sudah lahir anak dari Deborah. Situasi tentunya menjadi lebih sulit ketika anak dari Deborah dibuktikan dengan tes DNA. Lewat tes DNA bisa diketahui siapa ayah dari anak yang kini dikandung Deborah, dan tentunya ini menjadi persoalan.
Kini akibat ketidaksabaran tersebut permasalahan melebar ke mana-mana. Permasalahan hukum, permasalahan hubungan antara ibu dan anak, permasalahan gereja yang melakukan pemberkatan kedua pasangan itu. Marudut juga mengkhawatirkan hubungan kekerabatan antarkeluarga yang bisa saja terganggu, mengingat keluarga Deborah memiliki hubungan kekeluargaan dengan keluarga Joy.
Bantahan ibu Daniel
Sementara itu menurut ibu Daniel, Eni Pasaribu, tidak benar ada motif-motif tertentu sehingga pernikahan Daniel dan Joy dipercepat. Ia menegaskan bahwa yang menjadi alasan utama adalah memang tidak ditemukannya kata sepakat mengenai tanggal yang tepat kapan pernikahan mereka dilangsungkan. Ia membantah pernyataan bahwa pernikahan Joy dan Daniel dilangsungkan terburu-buru karena berbagai alasan yang simpang-siur pemberitaannya. Menurutnya pendapat bahwa ada motif di balik pernikahan yang terkesan terburu-buru hanyalah anggapan saja. “Itu kan anggapan mereka saja, kalau kita kan sebenarnya sudah melewati proses”, ujar Eni saat dihubungi lewat telepon, beberapa hari lalu.
Proses yang dia maksud adalah sudah ada tahap pelamaran ke rumah Joy. Masalah timbul ketika membahas waktu. Masalah waktu ini timbul mengingat padatnya kegiatan Joy dan Daniel yang membuat pernikahan mereka dipercepat. Menurut Eni, pihak Sinambela ingin pernikahan dilangsungkan bulan Juni, sedangkan keluarga Tobing meminta Oktober. Soalnya, di bulan Agustus, Daniel harus berangkat ke luar negeri untuk studi. Maka tidak mungkin melangsungkan pernikahan itu bulan Oktober. Eni menambahkan bahwa pemberkatan pada Maret lalu itu hanyalah ritual pernikahannya saja. Sedangkan acara resepsi dan adat rencananya dilangsungkan di bulan Juni.
Menurut Eni, tahapan yang harus diselesaikan masih ada. Menurutnya masih ada proses adat Batak yang harus dilaksanakan. Untuk itu semua, berarti masih harus ada pertemuan keluarga dari kedua belah pihak untuk membicarakan bagaimana proses adat itu nantinya dilaksanakan dan kapan waktunya.
Jenda