Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Tetty Damanik, Ingin Kurangi Jumlah Pengangguran

Posted : 09 Juni 2010
Tetty-Damanik,-Ingin-Kurangi-Jumlah-Pengangguran.jpg
Reformata.com - KERAP terjadi seseorang tidak  jadi membeli barang hanya karena customer service-nya bersikap kurang ramah. Kenyataan itu sudah ditangkap Tetty Suriani Damanik sebelum membuka usaha jualan tas, Mei 2008 silam. Maka setiap karyawan yang akan menjadi customer service di beberapa tokonya di ITC Depok, lebih dahulu ditraining mengenai cara pelayanan yang ramah dan meninggalkan kesan positif pada setiap pengunjung.
Langkah pertama, setiap customer service menampilkan wajah penuh smile pada setiap pengunjung. Langkah itu diterapkan berangkat dari filosofinya bahwa penjulan produk hanyalah sarana untuk bisa bertemu dengan banyak orang dan customer service-lah senjatanya. “Semakin kita memberi senyum dan bersikap ramah pada setiap pengunjung, mereka yang barangkali tidak bermaksud untuk membeli produk kita, bisa jadi bersimpati lalu membelinya,“ ujarnya.
Langkah kedua adalah menguasai eye contact. Saat pengunjung menanyakan barang, terutama bila sudah terjadi tawar-menawar, maka pandangan seorang customer service harus terfokus. Itu dimaksudkan agar pengunjung benar-benar terasa dilayani dengan serius dan menaruh respek pada pengunjung.
Teknik-teknik tersebut diuraikan secara detail pada setiap karyawannya. Pada tahap introduction pada pengunjung, seorang customer service menyapa dengan santun. Setelah itu diikuti pertanyaan jenis barang yang mau dibeli dan sekaligus mempresentasikan jenis barang. Kemudian, customer terus diajak ngobrol, lalu closing.  Tentu penerapan teknik itu tidak mutlak akan membuat setiap pengunjung membeli produk jualannya. Tapi lebih dari itu, setidaknya di benak pengunjung akan tertanam penilaian positif tentang tokonya, termasuk para pengunjung yang batal membeli barang jualannya.
Selain itu, istri Frits Halasan Sihombing ini tidak mematok harga terlalu tinggi. Dia mengetahui sistem penjualan dan manajemen, namun tidak mau mengambil keuntungan yang besar. Harga barang-barang jualannya sedikit lebih murah dari yang dijual orang lain. “Biar keuntungan sedikit untuk satu jenis barang, yang penting berjalan lancar,“ papar ibu satu anak ini dan melanjutkan bahwa, juga  tak terlepas dari kejelian  melihat kebutuhan pasar.
Itulah sebabnya, dari sejak Tetty membuka usaha, omsetnya menunjukkan grafik naik. Dari hanya Rp 5.000 dalam satu hari, bahkan pernah nihil sama sekali, hingga kini omsetnya mencapai rata-rata Rp 5 juta per hari.

Karena letih
Tetty mengemukakan, bisnis tasnya ini berawal dari keletihan. Jarak Depok dengan tempat kerjanya di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang membuat dirinya jadi letih. Setiap hari perjalanan itu dilaluinya setiap pagi dan petang. Diselimuti perasaan keletihan itu, dia pun mulai berpikir tentang alternatif lain mendapat income tambahan. Bahkan dia mulai memikirkan income untuk masa tua.
Tahun 2007 lalu, setelah menemukan satu bentuk usaha di luar jam kerja, dia pun mencobanya. Setiap pagi, Tetty bangun pukul 5 dan membuat susu kacang kedelai. Sebelum berangkat kerja pukul 7, dia sudah mengantar 100 bungkus susu kacang kedelai itu ke warung- warung yang punya kulkas. Sore hari, sepulang kerja, dia bisa mengumpulkan Rp 100.000 dari hasil penjulan susu kacang kedelai itu. “Tiap bulan saya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 3.000.000,“ jelas sarjana ilmu pendidikan agama Kristen tahun 1995 ini. Hasil jualan susu kacang kedelai itu jauh lebih besar dari gajinya.
Hal itu mendorongnya untuk membuka usaha sendiri. Bagai gayung bersambut, Mei 2008, seorang teman ingin menjual toko beserta isinya. Sebenarnya Tetty tidak punya cukup uang untuk membeli toko tersebut. Namun setelah kedua pihak sepakat atas beberapa persyaratan, toko itu akhirnya dialihkan pada Tetty. Saat itu pula dia sudah langsung mempekerjakan seorang karyawan dan menamakan toko itu Cacha Collection, mengambil nama anaknya.
Barang di toko itu kebanyakan tas sekolah. Ia belum menyuplai  barang baru tapi hanya melanjutkan menjual barang-barang pemilik pertama. Awalnya, ia nyaris putus asa karena omset per hari tidak banyak, bahkan kadang nihil. Namun, tekad yang kuat untuk  mempertahankan usaha itu memaksa dia memutar otak, memikirkan usaha lain. Lalu ia membuka kantin khusus menjual teh dingin di lantai III, ITC Depok. Dari kantin ini, per hari dia bisa mendapat omset antara Rp 500.000 – Rp 600.000. Tetty memilih keluar dari tempat kerja dan berkonsentrasi pada pengembangan usaha itu.
Berkat kerja kerasnya, dalam waktu 2 tahun Tetty bisa membuka cabang toko baru hingga kini memiliki 7 toko yang semuanya di ITC Depok. Sekarang di tokonya dijual banyak jenis tas, produk lokal sampai impor. Harganya pun bervariasi antara Rp 10.000 hingga Rp 200.000.
Usaha lain adalah jualan stationary (barang yang cenderung untuk dikonsumsi anak-anak), mainan anak-anak, dan bordir. Karyawan kini sudah berjumlah 12 orang. Meski begitu, dia ingin terus mengembangkan usahanya dengan memiliki kantor sendiri agar bisa mempekerjakan beberapa orang lain lagi. “Pikir-pikir membantu mengurangi jumlah penganggur,“ ujarnya dengan nada rendah hati.  ? Stevie Agas
68
5 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 25.4021 sec | TOP
Online Support :