Reformata.com - Suasana sore itu meriah dengan alat-alat musik yang dimainkan, mulai dari drum, keyboard, maupun gitar. Bunyi itu memecah penatnya siang hari karena semangat para pemain untuk terus berlatih. Mereka adalah sekumpulan anak-anak buta yang diasuh di Elsafan. Mereka memang buta namun bersuka dengan kemampuan mereka.
ELSAFAN adalah lembaga pelayanan anak tunanetra Indonesia, yang dimotori oleh Ritson Manyonyo, yang mengalami kebutaan saat dewasa. Awalnya dia sempat putus asa, namun akhirnya bangkit dan terpanggil mendirikan Elsafan, bersama 10 guru, 8 pengasuh, dan 4 orang tenaga admininstrasi. Mereka menjadi “mata” bagi 32 anak buta, di yayasan yang berlokasi di Dermaga Raya Duren Sawit Jakarta Timur.
Berdirinya ELSAFAN dilatari dari pergumulan dan kehidup-an yang sama sebagai tuna-netra dari Ritson Manyonyo. Dia beserta 6 orang tunanetra lainnya membentuk ELSAFAN MINISTRY, tepatnya 7 Pebruari 2006. Nama ini kemudian berganti pada Oktober 2007 menjadi Yayasan ELSAFAN. Kehadirannya untuk mem-bantu proses pendidikan dan pelatihan di Indonesia.
Ada keraguan di mata masyarakat, apa yang diharapkan dari seorang buta? Namun ELSAFAN membuktikan hal berbeda. Kehadirannya memberi arti bagi anak-anak yang membutuhkan pertolongan.
“Cinta kasih, disiplin, pelayanan spiritual, serta tunjangan fasilitas dan sarana adalah kunci pendukung perubahan bagi anak-anak tunanetra yang dididik,”tutur ketua ELSAFAN. Jadwal yang ketat setiap hari, mulai dari bangun pagi, doa, jalan pagi/orientasi komunitas pakai tongkat. Tak ketinggalan ada olahraga, mandi, sarapan, membaca, makan, ekstrakuri-kuler, istirahat.
Kelengkapan kegiatan ekstra-kurikuler yang menarik seperti: teater, musik dan olah vokal, bahkan belajar komputer dan bahasa Mandarin. Inilah sarana menarik, untuk menemukan bakat dan minat anak. Semua diprogram teratur selama seminggu di ELSAFAN.
Walaupun hanya di tempat sewaan sederhana, yang terdiri dari 7 kelas dan 5 kamar asrama, tidak mengurangi setiap program kegiatan ELSAFAN. Beberapa program kegiatan ELSAFAN, antara lain: bidang sekretariat yang membangun kemitraan dan partnership. Bidang pendidikan dan pelatihan, pengembangan bakat dan budi pekerti, serta asrama/panti. Semuanya untuk membangun karakter, minat-bakat, harapan hidup, dan masa depan anak tunanetra.
“SDM yang memiliki skill dan hati yang sungguh melayani tidak mudah. Selain itu, kebu-tuhan sarana prasana yang mahal sebagai pendukung harus terus dilengkapi,” kisah Ritson sambil tersenyum.
Dampak dan kerja sama
Setiap tahun kuantitas dan kualitas pertumbuhan anak yang dididik di ELSAFAN dapat dilihat secara signifikan. Jika yang datang tadinya pemu-rung, bahkan tidak dapat berbicara, namun akhirnya berubah aktif dan mulai berinteraksi. Setiap program yang mendukung, keterlibatan tim yang penuh cinta, menjadikan ELSAFAN memiliki kekuatan pelayanan yang semakin memberi kepercayaan, untuk setiap orang tua menyerahkan anak-anak mereka dididik melalui pelayanan ELSAFAN.
Subsidi silang, bahkan ada yang free bagi anak yang tidak mampu. Sumber dana 90% dari donasi perusahaan, sekolah, maupun yayasan. Membangun jaringan dengan berbagai pihak, adalah cara yang ditempuh ELSAFAN. Sehingga selain dikenal, ini dapat membangun kerjasama pelayanan yang saling mendukung dan menopang dalam kekurangan.
Rajin jalan sambil menyebar info, melalui brosur adalah cara ELSAFAN memperkenalkan diri kepada masyarakat luas. Jaringan website dibangun sebagai media informasi. Memberi layanan yang terbaik kepada anak sebagai sumber pelayanan, sehingga mem-bangun kepercayaan orang tua dan masyarakat luas. Tak ketinggalan ELSAFAN terus membangun jaringan dengan setiap lembaga, pribadi yang dapat bekerjasama.
“Kekuatanku adalah kele-mahanku, dan kelemahanku adalah kekuatan-Nya,” menjadi motto ELSAFAN untuk tetap menyatuhkan hati, menjadi mata bagi mereka yang buta sebagai wujud slogan ELSAFAN. Melalui ELSAFAN, anak berusia 3-21 tahun mendapatkan sentuhan kasih. Pendidikan dan pelatihan yang dilakukan menjadikan mereka mandiri untuk tidak hidup dari pengasihan orang lain. Tidak bergantung pada insentif dan charity money (uang sumbangan).
ELSAFAN membuka mata kita, bahwa mereka yang buta, adalah bagian dari pemberian Tuhan yang tetap punya arti dan nilai. Mereka pun bisa bangkit dan menunjukan pada setiap orang, bahwa mereka mampu hidup, maju, bahkan menjadi orang-orang hebat, melalui arti dan karya yang dapat mereka wujudkan.
ELSAFAN menanti Anda yang buta, yang membutuhkan pertolongan, agar ditolong menemukan harapan dan masa depan. Tidak ada ciptaan Tuhan yang salah, untuk kita mendapatkan setiap nilai dari kehidupan. Semua punya nilai, untuk kita mampu bersyukur, menghargai kehidupan dan sesama.
Lidya