Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kawula Muda

Anak-anak Jalanan Jiwa Seniman

Posted : 08 Juni 2010
Anak-anak Jalanan Jiwa Seniman.jpg
Reformata.com - PENAMPILAN kumuh,  berbahasa spontan, dan sehari-hari hidup di jalanan. Mereka dikenal dengan kumpulan anak-anak jalanan. Dalam memperjuangkan ke-hidupan, mereka melakoni berbagai “profesi” sebagai pengamen, pemulung, pe-ngemis, dan preman. Masyarakat memandang mereka sebagai “sampah masyarakat”, yang hanya mengotori jalanan. Menghambat aktivitas, merusak kenyamanan orang-orang sekeliling, oleh tindakan dan perbuatan yang kurang lazim.
Namun berbeda, setelah bertemu dengan anak-anak jalanan yang berada di sebuah komunitas Sanggar Dapur Kreatif. Di kawasan Karet Sawah-Jakarta Pusat, mereka me-nempati bangunan sederhana, berbentuk sauh, terbuat dari bambu. Di sinilah mereka berkumpul dan membangun kreativitas: mulai dari mengerjakan sablon, membuat hiasan dinding, kerajinan tangan (gelang tangan unik), dan memproduksi alat-alat musik etnik yang terbuat dari bambu, serta memainkannya.
Kumpulan anak-anak jalanan yang berbeda, oleh karena kemampuan seni mereka yang sangat tinggi. Di antaranya ada Abah (Heri Aldi Pulwadi Bumi), pria berusia 34 tahun ini memiliki kemampuan ganda. Selain bisa membuat alat-alat musik etnik yang terbuat dari bambu, Abah juga memiliki kemampuan memainkan seluruh alat musik, dan memiliki suara mirip Iwan Fals. Penampilan layaknya seniman cuek, yang senang tidur. Bukan karena malas, melainkan karena letih menjalani kehidupan panjang yang berat. Diakuinya mendapat banyak inspirasi setiap bangun tidur, yang bermanfaat untuk membuat alat musik.
Selain Abah, ada Cheko (Yadi Cahyadi). Ayah 2 orang anak ini, memiliki kemampuan berteater, memainkan musik budaya etnik. Serta Rian, pemuda yang juga memiliki suara merdu, kemam-puan memimpin, memainkan beberapa alat musik, bahkan kreatif membuat kerajinan tangan.
Di komunitas ini, ternyata ada sosok Jody Ante,  pria usia 29 tahun. Sebagai pemimpin, Jody memandang tugas ini sebagai ungkapan diri untuk memperbaiki masa lalunya yang kelam. Peduli kepada anak-anak jalanan, mulai dari memberi makanan sampai akhirnya menyediakan tempat tinggal, dan membangun kreativtas bersama.  
Berbincang-bincang dengan mereka, REFORMATA mene-mukan jawaban. Ternyata mereka dari kumpulan anak-anak yang kehadirannya ditolak orang tua. Mereka dibuang, dilupakan, tidak dipedulikan. Mereka korban kekerasan keluarga. Mereka, anak-anak yang cerdas dalam seni, hanya tidak mendapat kesempatan baik untuk memperkenalkan kemampuan mereka.
Anak-anak jalanan yang potensial. Mereka butuh wadah yang dapat mensupport kemajuan mereka. Dalam kesederhanaan mereka seakan terlihat sulit beranjak dari zona nyamannya. Mereka membutuhkan tangan-tangan yang peduli, serta pengakuan bahwa mereka berarti dan diterima sama dengan yang lain. Mereka juga membutuhkan keterbukaan masyarakat memberi tempat bagi karya-karya mereka. Lidya


60
107 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
Online Support :