Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Utama

Agar Gereja Semakin Ramah Lingkungan

Posted : 01 Mei 2010
Benny Susetyo Pr..jpg
Romo Benny Susetyo Pr

Kehadiran gereja harus menjadi berkat bagi lingkungan. bukan sekadar toleransi tapi menyinta dengan tulus.

Reformata.com - Belajar dari pelarangan umat Katolik Sang Timur  untuk menggelar misa di gedung serba guna semi per-manen Sang Timur, Cileduk, pada Oktober 2004, Romo Benny Susetyo Pr. mengemukakan bah-wa gesekan antara agama yang terjadi selama ini, seringkali bercikal bakal bukan pada aspek agama itu sendiri, tapi soal-soal lain seperti peluang merengkuh rezeki. “Soal bahan bangunan bisa menjadi pemicu penghentian pembangu-nan gereja,” kata Sekretaris Eksekutif Hubungan Antara Agama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia ini.
“Karena ada umat yang memiliki toko bangunan, panitia lalu mem-beli dari umatnya dengan alasan harganya lebih murah dan milik umat sendiri.  Padahal selisih harga-nya tidak seberapa. Akhirnya pe-milik toko bangunan yang kebetu-lan ada di sekitar lokasi gereja menjadi marah dan terjadilah penggalangan massa. Maksudnya untung, jadinya malah buntung,” katanya.
Agar kehadiran gereja tidak dianggap sebagai gangguan bagi umat lain, lanjut Romo Benny, gereja harus sungguh-sungguh ramah terhadap lingkungan. “Umat Kristen  harus benar-benar ramah terhadap lingkungan sekitar, romo-nya juga harus begitu,” katanya. 
Anjuran itu, rupanya bertolak dari pengalaman buruk yang dialaminya.  Pada 10 Oktober 1996, kala Romo Benny bertugas di Situbondo, Jawa Timur, terjadi pembakaran terhadap hampir semua gereja di tempat itu, tak terkecuali gereja Katolik dan beberapa sekolah Katolik milik Paroki. Almarhum Romo Mangun-wijaya Pr yang saat itu bersama Gus Dur mengunjungi tempat itu mempersalahkan Romo Benny. “Kalau gerejamu dibakar dan tidak dibela masyarakat, berarti ada yang salah. Berarti kamu tidak kenal RT dan RW-mu, juga tidak bersahabat dengan masyarakat setempat,” kata Romo Mangun saat itu. Diakui pastor Benny, saat itu memang beliau tidak mengenal masyarakat setempat. “Saya tidak kenal masyarakat setempat, sementara kompleks sekolah dan paroki kami besar, ada TK, ada SD dan SMP. Saya ketemu RT hanya kalau ada keperluan. Kontak dengan pondok pesantren tidak pernah,” ujarnya.
Karena tak kenal, maka tak sayang. Jadilah, ketika ada yang memprovokasi, umat sekitar cepat tersulut, dan amblaslah semua  gereja yang berada di Situbondo. Belakangan memang disinyalir  bahwa pembakaran dan perusakan gereja-gereja itu menjadi bagian dari upaya Presiden saat itu  untuk  melakukan pembusukan terhadap Nahdlatul Ulama (NU),  khususnya KH. Abdurrahman Wahid yang saat itu menampakkan sikap kritisnya  terhadap pemerintah dengan mengibarkan Fordem (Forum Demokrasi)-nya.  

Mengasihi secara aktif
Ekspresi “keramahan” terhadap umat lain dan lingkungan sekitar memang banyak. Pemerintah  sering menganjurkan agar ada toleransi antara umat beragama. Menurut Romo Benny, gereja pun menganjurkan hal yang sama. “Toleransi itu berasal dari kata tolerare, yang berarti menghormati perbedaan,” jelasnya. 
Tapi, lanjut Romo Benny, tole-ransi merupakan model peng-hormatan terhadap perbedaan yang paling minimal. “Itu tidak cukup, tapi orang harus men-cinta secara aktif,” tegasnya. Menurut Benny, kalau orang mencinta, itu tidak hanya cukup menghormati keyakinan orang lain, tapi orang bisa bekerja sama, berbagi, saling menghi-dupkan dan mengasihi. “Kalau orang hanya saling mengerti dan memahami tapi tidak berbuat apa-apa, itu sangat tidak cukup. Kita harus mencinta secara aktif sehing-ga melalui perbuatan kita yang baik itu, Allah Bapa di Surga diper-muliakan,” tambah aktivis lintas agama ini.

Dari Yeriko 2000 hingga Suradi .
Simon Timorason SH menegas-kan bahwa penghadangan terha-dap pendirian ibadah, perlu dijadi-kan juga momen introspeksi bagi gereja. Karena perilakunya yang kurang strategis dan ramah terha-dap lingkungan. Ia menyebut soal parkir misalnya. “Di daerah perko-taan misalnya, tidak ada lahan parkir. Akhirnya jalanan ditutup dan dijaga aparat. Itu memupuk daya tolak lingkungan,” katanya.
“Ketidakramahan” terhadap lingkungan juga tampak dalam gai-rah yang berlebihan dalam peng-injilan. Salah satu isu yang sangat kuat dan mengubah sikap umat muslim Jawa Barat terhadap kekris-tenan adalah bocornya program “Yeriko 2000” yang digelar sebuah yayasan yang berpusat di Jakarta Timur yang terobsesi untuk meng-kristenkan wilayah Tanah Sunda dan beberapa daerah basis Islam lainnya. Program yang dimuat dalam website resmi itu, sungguh-sungguh membangkitkan emosi kelompok muslim di Jawa Barat.
Ditambah pula dengan tulisan dr Suradi dan Pdt. Purnama Wina-ngun yang melecehkan akidah Islam, semakin menguatkan kelom-pok-kelompok Islam di Jawa Barat untuk melawan infiltrasi kekriste-nan di Pasundan. Wujud perlawa-nan itu beragam, mulai dari berdiri-nya organisasi-organisasi yang tujuannya adalah untuk melawan gerakan “pemurtadan”, hingga aksi penolakan terhadap kehadiran gereja di wilayah mayoritas muslim. Paul Makugoru.
 

67
26 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.9792 sec | TOP
Online Support :