Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Khusus

Ajaran Tritunggal, Ciptaan Iblis?

Posted : 27 April 2010
Ajaran Tritunggal, Ciptaan Iblis.jpg

Apa latar belakangnya sehingga penulis buku berpandangan bahwa ajaran Tritunggal itu dipengaruhi  iblis? 

Dalam “Rahasia Pribadi Allah” terbitan PT Bethlehem Publisher Jakarta, tahun 2006, Pdt. Tjantana Jusman menuliskan bahwa, pengajaran Tritunggal tidak alkitabiah. Kata “Tritung-gal” atau “Tritunggal Maha Kudus” tidak pernah ada di dalam Alkitab dan Alkitab tidak pernah menyatakan secara harfiah tentang adanya tiga pribadi Allah.
Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukanlah tiga pribadi Allah tetapi tiga peranan Allah yang utama. Allah berperan sebagai Bapa dalam penciptaan dan dalam hubungan-Nya dengan kita sebagai anak-anak-Nya. Allah berperan sebagai Anak ketika Dia mengambil rupa manusia sehing-ga dapat menjadi Juruselamat bagi umat manusia. Sebagai Roh Kudus, Allah memainkan pe-ranan sebagai Pembaharu di dalam hati dan pikiran manusia.
Selain tidak alkitabiah, penga-jaran Tritunggal juga tidak apostolik karena tidak sesuai dengan pengajaran para rasul yang justru menekankan  ke-esaan Allah. Kita seharusnya mengikuti pengajaran sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para rasul (apostolik) karena para rasul adalah dasar gereja seperti tertulis dalam Efesus 2: 19-20: “...anggota-anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai penjuru”.

Didukung ensiklopedi internasional
Pengajaran Tritunggal yang tidak alkitabiah dan tidak apostolik, juga datang dari beberapa ensiklopedia inter-nasional. Pertama, Encyclopedia Americana, edisi 1957, vol 27, hlm 69 menyebutkan, kata “Tritunggal” tidak ada di dalam Alkitab. Istilah “tiga pribadi” tidak pernah diterapkan dalam Alkitab dalam kaitannya dengan doktrin Tritunggal.
Kedua, New Catholic Encyclopedia, edisi 1967, vol 13, hlm 1021 menyebutkan,  pemakaian pertama kali kata Latin “trinitas” (Tritunggal) tentang Allah, ditemukan dalam tulisan-tulisan Tertulianus (sekitar 213 Masehi). Dialah yang pertama kali memakai istilah “tiga pribadi” di dalam konteks Tritunggal. Dan ketiga, Encyclopedia International, edisi 1975, vol 18, hlm 226 menyebutkan, doktrin Tritunggal tidak pernah meru-pakan bagian dari pemberitaan oleh para rasul.
Sejak tahun 31 Masehi, gereja mula-mula melakukan praktik pembaptisan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus sesuai Kisah Para Rasul 2: 38, dan memegang teguh pengajaran rasul-rasul (apostolik) yang menekankan keesaan Tuhan.
Tetapi sangat disesalkan bahwa pada sekitar tahun 196 Masehi, seorang pengacara dan teolog asal Kartago (Afrika) bernama Quintus Septimius Florens Tertullianus (kira-kira hidup pada tahun 150-225 Masehi), memperkenalkan pengajaran Tritunggal. Sebelum Tertullianus menjadi seorang teolog, ia dibe-sarkan oleh ke-luarga berkebu-dayaan kafir (tidak mengenal satu-satunya Tuhan yang hidup) yang menganut pa-ham politeisme (pe-nyembahan kepada banyak tuhan atau berhala seperti dewa-dewi).
Diketahui bahwa sejak dulu, para pe-nyembah berhala membuat dan me-nyembah berhala, dewa, atau dewi yang mempunyai satu tubuh tetapi berkepala tiga. Demikian juga, banyak agam-agama Timur yang menganut politeisme juga percaya kepada tiga dewa atau dewi yang utama.  Bahkan di bekas reruntuhan menara Babel ditemukan oleh para ahli arkeologi sebuah berhala yang diduga milik Nimrod, berbentuk perahu  dan di atas perahu tersebut ada tiga kepala. Nah. Latar belakang penyembahan berhala seperti inilah yang mendasari Tertullianus untuk berpendapat bawha Allah itu satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi atau una substantia et tres personae dalam bahasa Latin.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa, sebenarnya doktrin Tritunggal ini hanyalah doktrin manusia dan bertentangan dengan doktrin para rasul yang justru menekankan keesaan Tuhan. Sejarah mengungkapkan bahwa sebenarnya Ter-tullianus belum memberikan pengertian lengkap tentang Tritunggal dan doktrin Tritunggal sesungguhnya telah membingungkan para teolog besar.


Kenapa membingungkan? Karena si iblis ada di balik doktrin manusia ini supaya umat Tuhan dan Gereja menjadi kacau atau bingung tentang pribadi Allah (ke-Allah-an). Sedangkan Allah tidak menghendaki kekacauan tetapi damai sejahtera (1 Korintus 14: 33); dalam versi King James (KJV), “So, God is not the author of confusion, but of peace, as in all churches of the saints”. Jadi, who is the author of confusion (Siapa pembuat kebingungan/kekacauan)? Sudah jelas jawabannya, si iblis.
Karena itu, berhati-hatilah akan pengajaran yang Anda ikuti dan selidikilah latar belakangnya sebelum Anda benar-benar memegangnya dengan teguh. 
 Stevie Agas

66
80 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.4603 sec | TOP
Online Support :