Pernyataan penyangkalan tentang ajaran Tritunggal bukan yang pertama. Dari perjalanan sejarah gereja, muncul beberapa pernyataan penyangkalan tentang ajaran tersebut yang senantiasa dipatahkan.
Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan yang mengatakan bahwa doktrin Trinitas itu adalah ciptaan iblis?
Itu bukan pernyataan baru dalam gereja. Penyangkalan tentang ajaran Tritunggal itu lumrah dalam perjalanan kekristenan. Saksi Yehovah misalnya, mengatakan, “Satan is the originator of the Trinity doctrine.” Mereka yang tidak percaya kepada Allah Tritunggal tentu saja akan mengatakan kepercayaan ini adalah takhyul, kepercayaan kafir, atau berasal dari setan. Tetapi adalah salah kalau berkata bahwa Tertullianus-lah yang memunculkan doktrin ini. Sebelum Tertullianus, sudah ada Bapa-bapa Gereja, seperti Irenaeus yang berbicara tentang Allah Bapa dan Anak, dan Roh Kudus.
Memang Tertullianus membentuk istilah tri-unitas. Tetapi bahwa dia membentuk istilah itu dan kemudian dapat diterima untuk merepresentasikan Allah yang mereka percaya, justru menan-dakan bahwa gereja mula-mula, termasuk Bapa-bapa Gereja, memang menerima doktrin Allah Tritunggal tersebut. Waktu itu banyak ajaran yang dianggap sesat. Misalnya ajaran Marcion yang mengatakan Allah Perjanjian Lama (PL) beda dengan Allah Perjanjian Baru (PB). Ajaran-ajaran ini dianggap sesat, tetapi istilah yang dibentuk Tertullianus belum pernah dianggap sesat. Jangan anggap iblis begitu pintar dapat menipu seantero sejarah gereja untuk percaya doktrin Tritunggal. Dan orang yang mengatakan demikian, seolah-olah ingin mengatakan bahwa hanya dia yang cukup pintar yang tidak dibohongi oleh Iblis.
Dikatakan ajaran Tritunggal itu salah. Yang benar adalah bahwa Allah yang kita sembah itu adalah Tuhan yang esa, dan karena Ia esa, maka Ia mempunyai satu pribadi (tidak ada dua pribadi lain lagi). Bagaimana itu dijelaskan?
Ini juga pandangan lama. Sabelius pada abad ke-3, sudah mengajarkan model Tritunggal suksesif ini, yakni bahwa Allah yang esa menyatakan diri sebagai Bapa, kemudian Allah yang sama menyatakan diri sebagai Anak, dan setelah itu Allah yang sama menyatakan diri sebagai Roh Kudus.
Tetapi ajaran ini, yang disebut Sabelianisme, dianggap sesat karena sama sekali bertolak belakang dengan ajaran Perjanjian Baru. Perjanjian Baru secara tegas membedakan Anak dari Bapa, dan yang tersalib di atas kayu salib bukanlah Bapa, tapi Anak. Karena itu ajaran patripasianisme (bahwa Bapa tersalib di atas kayu salib) juga dianggap sesat.
Polemik seputar ajaran Tritunggal umumnya muncul di awal perjalanan gereja. Tetapi selalu dipatahkan. Kini, muncul lagi pernyataan penyangkalan itu. Apa asumsi dasar mereka hingga muncul lagi pernyataan serupa?
Betul. Polemik-polemik tentang doktrin Trinitas umumnya memang muncul di awal gereja ketika beberapa kelompok orang mengajarkan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah. Misalnya, ajaran Ebionitisme yang mengatakan Yesus bukan Allah, tapi diadopsi Allah sebagai anak Allah. Yang paling terkenal adalah ajaran Arianisme, bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah tetapi ciptaan Allah yang paling utama.
Ajaran ini kemudian dibangkitkan lagi oleh Saksi Yehovah di abad modern. Ketidak-per-cayaan kepada Yesus sebagai Allah pasti berujung pada pe-nyangkalan doktrin Trinitas. Mereka me-nyangkal doktrin Trinitas bukan karena diyakinkan oleh ajar-an Alkitab, tetapi biasanya karena mereka mulai dari asumsi bahwa Allah adalah satu, dan karena itu tidak mungkin tiga. Me-reka berangkat dari asumsi mono-teisme sempit, sehingga ajaran Trinitas dianggap mempertigakan Allah.
Ajaran Trinitas yang sebenarnya?
Wah, ini tidak bisa dijawab dalam ruang dan kesempatan yang sempit ini. Tapi dapat dikatakan bahwa ajaran Trinitas adalah ajaran yang berusaha untuk setia kepada kesaksian Perjanjian Baru bahwa Allah yang disembah oleh orang Kristen adalah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Tetapi ini bukan tiga Allah, melainkan satu Allah.
Seringkali orang menggugat dan bertanya, Allah itu satu, mengapa kalian mengatakan tiga. Bagai-mana satu sama dengan tiga? Tetapi ini adalah tipikal pertanyaan orang yang berangkat dari asumsi monoteisme yang sempit. Sebenarnya dalam ajaran Kristen, pertanyaan tersebut terbalik. Bagaimana Allah yang tiga pribadi tersebut adalah satu hakekat Allah? Bagaimana 3 = 1? Dan jawaban orang Kristen adalah bahwa kesatuan Allah adalah kesatuan kasih yang sempurna. Sehingga tiga pribadi Allah secara sempurna senantiasa berada dalam kesatuan yang harmonis dan saling mendiami. Bukankan ketakterhing-gaan + ketakterhinggaan + ketakterhinggaan = 1 ketakterhinggaan. Stevie Agas