Kekuatan dan kemampuan yang dimiliki, sering membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan orang lain. Hal ini dirasakan oleh Sandra Mutiara. Kemandirian dan kesempatan mengeksplore diri dengan maksimal, membuat hidupnya sangat nyaman. Istri dari Gus E Chandra ini, menjalani apa pun dengan yakin, bahwa semua bisa dilakukan sendiri. Tanpa orang lain, itu bukan masalah. Namun paradigma ini berubah setelah mengalami suatu penyakit selama 6 tahun. Dia menderita suatu penyakit langka yang belum ditemukan penyebab dan obat-nya: kanker esophagus malignan sampai achalasia.
Sakit berkepanjangan Suatu pagi di hari Senin di bulan September 2003, tiba-tiba Mutiara tidak dapat berbicara selama 2 hari. Tak hanya itu, makan dan minum pun sangat sulit. Ini me-nyebabkan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Pende-ritaan karena sulit menelan makanan dan minuman masih ditambah dengan rasa seperti tercekik, tangan kaki dingin, kesulitan bernafas, serta muntah disertai rasa panas membakar dari tulang pung-gung sampai tenggorokan, menerjang kehidupan ibu 3anak ini selama 6 tahun.
Segala upaya dilakukan demi kesembuhan Mutiara. Lebih dari 10 dokter telah menangani Mutiara. Keluar-masuk rumah sakit sudah biasa dilakukan. Berat badan Mutiara turun drastis, dan kehilangan berat 10 kg. Susu panas menjadi satu-satunya sumber gizi yang bisa dia konsumsi. Hari-hari Mutiara terasa sangat berat, frustrasi dengan derita sakit yang tidak dimengerti.
Keinginan untuk sembuh, menghantar Mutiara melaku-kan setiap upaya. Selain ke dokter, wanita kelahiran 12 Juni 1970 ini, rajin mengikuti kebaktian keba-ngunan rohani (KKR) kesembuhan. Dia pernah merasakan kesembuah selama 2 minggu, di mana semua menjadi normal. Namun setelah itu penyakit itu kembali hadir bahkan makin parah. “Kenapa begini Tuhan? Kalau mau mati, mati saja,” demikian ungkapan kekesalan dan kemarahan Mutiara dalam kesakitannya itu.
Suatu waktu, pihak keluarga merencanakan Mutiara untuk berobat ke rumah sakit di Penang, Malaysia. Satu bulan sebelum ke sana, hampir setiap malam Mutiara merasa tubuhnya seperti terbakar. Ini terjadi selama 15 menit, setelah itu hilang, namun kembali 2 jam berikutnya. Tidur harus dalam posisi bantal yang tinggi, agar air tidak keluar dari hidung, rasa dicekik, tubuh seperti terbakar seolah badan lumpuh, dan semua tidak diketahui penye-babnya.
Kanker esophagus malignan sampai achalasia adalah penyakit langka. Dari 100.000 orang hanya ada 1 orang yang menderita penyakit ini. Sekitar 3% penderita yang bisa bertahan dari penyakit langka ini, dan Mutiara termasuk di dalamnya. Setiap upaya yang sudah dilakukan, namun kon-disi penyakit tetap bertambah parah, seperti mengisyaratkan Mutiara tidak akan tertolong. “Roh saya diambil dari tubuh saya, saya melihat roh saya naik menjauh. Saya sudah tidak sadarkan diri, dan melihat roh saya membubung di awan-awan. Saya merasa sudah mati, namun ternyata Tuhan masih memberikan kehidupan itu,” tandas Mutiara.
“Hidupku tidak ada lagi harapan. Aku akan mati. Tuhan pasti sudah bosan mendengar doaku, jadi yang kulakukan adalah mendoakan orang lain. Aku tidak lagi berdoa bagi diriku, karena aku akan mati,” kata Mutiara menahan keperihan dalam derita yang tidak dipahaminya. “Aku hanya bisa berteriak ‘terima kasih Yesus’, ketika sakit itu tak tertahankan,” tambah Mutiara dengan mata mulai berair.
Kesembuhan yang ajaib
Tanggal 10 Februari 2010, wanita penyuka dekorasi ini dapat benar-benar sembuh dari penyakit yang telah dideritanya selama 6 tahun. “Kejadian ini adalah sebuah keajaiban, mukjizat yang dikerjakan Tuhan,” tutur Mutiara. Kesembuhan itu berkat operasi yang berakhir dengan baik. Usai operasi, kepada Mutiara disodori makanan dan minuman. Saat itu sangat menegangkan, bercampur rasa lapar yang tak tertahankan. Tapi ketakutan itu kembali memancar di wajahnya, ketika makanan itu harus ditelannya. Perlahan-lahan dengan mencoba di ujung sendok. Terdengar suara dukungan dari orang-orang di ruangan itu, “Kamu bisa Mutiara. Ayo makanlah!”
Mutiara tak henti-hentinya berdoa, setiap kali makanan itu hendak ditelannya. “Tuhan tolonglah saya, saya sangat lapar, biarkanlah saya dapat menikmati makanan ini.” Mutiara semakin antusias meyakinkan dirinya bahwa dia telah mampu menelan makanan itu. Ketika berhasil menelan tanpa sakit, “Saya ingin melompat, terima kasih Tuhan. Saya tidak pernah bisa menikmati makanan senikmat hari ini, setelah sekian lama tidak pernah bisa makan,” ungkap Mutiara penuh haru.
Jemaat GKBJ ini benar-benar sembuh. Keajaiban itu kini diterimanya, setelah 6 tahun menderita sakit. “Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan. 6 tahun itu ternyata hanya sebentar. Betapa bodoh orang yang menyiakan-nyiakan makanan. Terima kasih Tuhan, saya masih diberi kesempatan untuk dapat makan lagi,”
Melayani dan berbagi
Mutiara melihat suami dan 3 orang anaknya sebagai penyemangat hidupnya yang membuat dia kuat. Saat-saat sakit, ada banyak orang yang mengunjungi, mendoakan, dan memberi penghiburan. Saat-saat itu yang membuat Mutiara kuat, tetap dapat bersyukur, dan mengerti arti kelemahan diri. “Tidak ada orang yang tidak mem-butuhkan orang lain, siapa pun dia. Orang sakit membutuhkan perhatian dan kasih orang lain. Saya menemukan itu, saat-saat sakit. Kini saya telah sembuh, dan saya harus melakukan hal yang sama kepada orang lain,” tandas Mutiara berbinar.
Bobot wanita yang suka nonton film dan memasak ini kini bertambah 4 kg. “Ingin memberi lebih, yang bisa kita berikan, karena kita harus memberi”, menjadi moto Mutiara. Hati yang penuh kasih, adalah pertumbuhan yang kini dialaminya. “Bagaimana saya bisa mengasihi orang lain, saya merasa Tuhan mengasihi saya, maka saya bisa menga-sihi orang lain,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca. “Jangan pernah menye-rah, dan berhenti berharap. Lakukanlah yang benar. Tuhan tidak pernah salah. Pasti ada rencana Tuhan bagi kita,” lanjut Mutiara. “Saat kesakitan dan kesulitan, panggil nama Yesus. Hati ini jadi sanggup, tidak takut, dan siap menghadapi apa pun,” kisah Mutiara.
Mutiara menjadi sosok wanita yang menerima dukungan suami yang penuh cinta. Tidak hanya pengobatan, namun moril-spiritual, dan selalu ditemani sang suami. Kenyataan ini mendorong Gus E Chandra, mengingatkan para suami lainnya untuk tetap dapat melakukan hal sama kepada istri mereka, jika dalam keadaan sakit dan lemah.
Kesembuhan Mutiara meng-artikan kehidupan sebagai anugerah Tuhan. Perhatian dan doa orang lain, menyadarkan Mutiara tentang kelemahan dan kebutuhan akan kasih. Tuhan merangkai sakit Mutiara sebagai keajaiban-Nya, agar Mutiara bertumbuh dalam kasih, kepada Tuhan dan sesama. Lidya