Bimantoro
Reformata.com - Bapak Pengasuh yang terhormat, saya memiliki tiga anak, semuanya perempuan. Anak kedua saya sulit bergaul. Saat ini usianya 18 tahun dan sedang mengambil pendidikan di sebuah akademi. Sejak kecil dia sulit berkomunikasi dengan kedua saudaranya. Setiap kali saya berupaya untuk membantu dia menjalin komunikasi dengan mereka, yang terjadi adalah pertengkaran di antara mereka. Dia merasa kalau saya selalu menyalahkan dia setiap kali ada pertengkaran. Keluhan dia lainnya yang pernah disampaikan ke salah seorang gurunya saat SMA adalah orang tua juga lebih ketat padanya dibandingkan kedua saudaranya. Saya ingin sekali anak saya memiliki hubungan baik dengan kedua saudaranya, tapi rasanya sulit sekali terwujud. Mohon saran kira kira apa yang harus saya lakukan?
CM
di Kota S
IBU CM yang terkasih, manusia memang membutuhkan manusia lain sebagai teman berbagi dalam menjalani hidup ini. Relasi merupakan natur dari manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi dalam realita memang tidak selalu mudah menjalin relasi. Apa yang anak ibu alami di dalam keluarga memang bisa membuat seseorang putus asa, merasakan diperlakukan tidak adil, dan juga kesepian dalam hidup ini. Apa yang terjadi dalam diri anak ibu sangat mungkin mempengaruhi kondisi rumah dalam hal bagaimana setiap anggota keluarga lainnya merespon, khususnya Ibu CM yang terus-menerus mengupa-yakan beberapa hal. Tetapi di dalam kondisi relasi di rumah, yang menurut Ibu kurang sehat, apakah Ibu pernah mengamati bagaimana pola relasi sang anak di luar rumah. Apakah pola relasi di dalam rumah dan di luar rumah sama atau berbeda. Pengamatan untuk pola relasi ini menjadi penting untuk mengetahui latar belakang dari perilaku yang ditunjukkan oleh anak Ibu. Ada berbagai kemungkinan latar belakang tingkah laku tersebut, di antaranya:
1. Kalau pola relasi ini hanya ditunjukkan di dalam rumah maka ada kemungkinan sang anak sedang ”memprotes” perlakuan yang berbeda antara dirinya dan kedua saudaranya. Suatu kondisi yang bisa memicu tingkah laku memberontak dan munculnya perasaan-perasaan negatif (misal perasaan tertolak, merasa bukan anak kandung, tidak adil, dan lain lain). Perasaan perasaan ini kemudian membuat dia semakin kesulitan dalam menjalin relasi, karena setiap pengalaman dalam berrelasi di rumah sepertinya ”membenarkan” perasaan negatif yang ada dalam dirinya. Dalam kemungkinan seperti ini, Ibu bisa mulai memikirkan kira kira apa yang berbeda antara relasi yang didapat di rumah dan relasi yang didapat di luar rumah (entah itu sekolah, gereja, lingkungan rumah, dll).
2. Kalau tingkah laku ini juga ditunjukkan di luar rumah, ada kemungkinan anak Ibu mengalami kesulitan dalam membangun ”trust/kepercayaan”. Membangun ”trust” terjadi pada masa awal pertumbuhan anak. Misalnya ketika ia sedang gelisah apakah sang ibu hadir dalam memberikan ke-tenangan. Pengalaman-pe-ngalaman positif anak dalam relasi dengan ibunya di tahun tahun awal bisa membuat anak membangun ”trust” bahwa dunia ini adalah tempat yang nyaman dan aman, sementara pe-ngalaman-pengalaman negatif akan berakibat sebaliknya, di mana sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengem-bangkan ”trust”, karena bagi dia dunia adalah tempat yang kurang nyaman.
3.Kemungkinan ketiga (selain memperhatikan tingak laku di luar dan di dalam rumah) adalah dalam hal penerapan pola asuh antara Ibu dan suami terhadap anak-anak. Apakah orang tua menerapkan pola asuh yang sama, dalam arti dalam mendidik anak-anak mengembangkan kesatuan sikap? Apakah aturan di rumah merupakan aturan yang konsisten atau berubah-ubah dan sulit ditebak? Apakah penerapan pola asuh diupayakan sama untuk setiap anak?
Dari ketiga kemungkinan tersebut di atas, maka strategi untuk mengatasi masalah yang Ibu hadapi tentunya akan berbeda. Untuk itu yang bisa dikerjakan oleh Ibu saat ini adalah memikir ulang apakah ada dari kemungkinan-kemungkinan tersebut yang dialami anak Ibu. Mendidik anak memang bukan pekerjaan yang mudah, yang menuntut kita untuk selalu memikirkan cara-cara yang tepat dan bijaksana dalam menghadapi anak-anak. Dalam kesadaran akan kesulitan yang dihadapi ada satu bagian firman Tuhan yang bisa menjadi dasar dalam Efesus 6: 4, ”Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”.
Kiranya Tuhan menolong dalam menentukan sikap atas per-masalahan yang terjadi dalam keluarga Ibu.v
LIFESPRING COUNSELING CENTER
68199933 / 22
www.my-lifespring.com