Sementara Jemaat GBI Khairos beribadah, tiba-tiba aparat polisi memerintahkan ibadah diyentikan
Reformata.com - SEMENTARA kurang lebih 100 jemaat GBI Khairos berdoa di dalam rumah doa mereka yang terletak di RT 007/15, Buaran, Jakarta Timur pada Ming-gu, 14 Februari 2010, tampak sebuah mobil polisi melintasi jalan di depan rumah doa tersebut. Pdt. J.F. Tony Wattimena, M.Th., ber-pikir, karena itu mobil polisi, tak apa-lah. Mungkin polisi sedang berpa-troli mengawasi situasi sekitar. “Apalagi selama ini, kegiatan doa di rumah doa kita ini selalu men-dapat ancaman: mau dibakarlah, mau digerebeklah,” kata Pdt. Tony.
Namun beberapa menit kemu-dian, tiba-tiba tiga orang polisi ber-sama sekitar 200 massa masuk dan mendorong pintu rumah ibadah tersebut. Sesampai di dalam rumah doa, serentak polisi memerintahkan membubarkan doa para jemaat. “Tolong bubarkan. Sekarang kalian bubarkan kegiatan keagamaan ka-rena sangat mengganggu warga,” perintah salah seorang polisi. Karena tidak senang mendengar perintah itu, Pdt. Tony mendekati polisi itu dan menjawabnya. “Di mana letak ketidaknyamanan warga sehingga acara doa kita ini mengganggu mereka?” tanya Pdt. Tony.
Sejenak polisi diam. Tak tahu mau jawab apa. Tapi beberapa menit kemudian, polisi itu akhirnya menjawab juga. “Ini warga menun-tut dan memaksa supaya kegiatan keagamaan ini dihentikan,” ujarnya. Pdt. Tony dengan berani menja-wab, “Kami tetap menjalankan doa hingga selesai. Jika Bapak tidak senang, silahkan Bapak keluar dari tempat ini”. Namun ganti polisi, salah seorang dari massa melangkah maju dan berbicara dengan suara lebih keras dari suara polisi tadi. “Saya adalah seorang BIN. Saya minta agar kegiatan keagamaan ini ditutup,” katanya. Terhadap pem-bicaraan itu, Pdt Tony mengambil sikap diam meski hatinya berontak mau berbicara.
Menyesalkan
Meski tak menjawab, namun Pdt. Tony menyesalkan pembica-raan dari orang yang mengatas-namakan diri dari Bakin/BIN itu. Ia mempertanyakan kebenaran dari pembicaraannya. Apakah be-nar sebuah institusi negara seperti BIN sewenang-wenang menutup rumah doa atau menghentikan kegiatan doa yang dilakukan oleh umat beragama? Adakah seorang yang berprofesi Bakin/BIN meng-eksposekan dirinya atau oleh orang lain atau oleh pemerintah sekalipun sebagai BIN ke publik? Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak Pdt. Tony saat itu. “Saya tidak menjawab atas pernyataan orang itu bukan karena semata tidak mau menjawab, tetapi terlampau menyayangkan terhadap pernyataan tersebut. Dia berani sekali membawa satu ins-titusi negara untuk menutup satu institusi resmi gereja yang diakui pemerintah. Itu tidak masuk di akal sama sekali,” tandas Pdt. Tony.
Hal lain yang disayangkan dosen Fakultas Theologi Bethel, Petam-buran, Jakarta Barat ini adalah bah-wa kenapa sampai bisa polisi bersama massa masuk mengerebek kita yang tengah berdoa. Sampai di manakah tugas polisi ini? “Ini juga yang menjadi pertanyaan-perta-nyaan kita yang hingga kini juga belum diterima secara akal pikiran kita dan semuanya tanda tanya besar,” katanya. Sepengetahuan kita, lanjut Pdt. Tony, salah satu tugas polisi itu adalah pengamanan. Kalau memang ada warga yang mau membuat rusuh, polisilah yang paling pertama dan utama meng-amankannya. “Bukannya turut menyulut masalah. Bahkan dia yang menyuruh kita berhenti berdoa,” tukasnya.
Beruntuglah, kendati polisi dan massa yang kebanyakan anak-anak remaja usia SMP dan SMA dan hanya sedikit orang tua, terus berteriak dan berorasi di luar rumah doa, jemaat GBI Khairos tak menggubris sedikit pun. Tak ada salah satu dari mereka yang beranjak. Doa mereka berjalan terus meski mereka mengakui sesekali diliputi ketakutan. Mereka takut kalau tiba-tiba massa me-nyerang atau melempari benda padat. Intensitas doa mereka jadi bertambah. Dari awalnya yang tidak direncankan berdoa untuk keselamatan mereka sendiri dari segala bentuk kejadian apa pun sepulang dari doa bersama me-reka itu, saat kejadian itu terjadi, intensitas doa jadi bertambah.
Mereka berdoa mohon Tuhan segera membubarkan massa yang terus mengumandangkan kata-kata bahasa Arab di luar rumah doa mereka. Juga mereka berdoa agar massa tidak sampai merusak atau melempari rumah doa me-reka. Tak lupa pula mereka berdoa agar nantinya semua jemaat akan dapat kembali ke rumah mereka dengan aman dan selamat.
Permintaan
Memang, doa mereka sepertinya langsung dikabulkan Tuhan. Massa yang bukan berasal dari lingkungan RT-RT sekitar atau RW 15 itu akhirnya membubarkan diri. Tak ada aksi yang menimbulkan keru-gian secara materi atau kerugian fisik. Bubarnya massa secara aman menyebabkan jemaat GBI Khairos ini juga pulang ke rumah mereka maing-masing dengan selamat. Namun, Kamis, 18 Februari 2010, beberapa anggota FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) Jakar-ta Timur yang didampingi beberapa warga yang disinyalir tak senang dengan kegiatan keagamaan di rumah tersebut mendatangi lokasi. Kehadiran mereka sebelumnya tak diberitahukan kepada pihak peng-urus gereja. “Makanya kami tidak tahu apa tujuan kedatangan FKUB itu ke lokasi rumah doa kami itu, hingga kini kami belum tahu. Bisa jadi, mereka hanya sekadar menin-jau lokasi,” kata Pdt. Tony.
Meskipun, masih menurut Pdt. Tony, untuk sementara waktu cooling down dulu dari semua ke-giatan apappun di rumah itu, tetapi kami tetap meminta kepada pihak-pihak berwajib, antara lain kepada Presiden, Menteri Agama, juga kepada siapa pun yang mempunyai akses untuk mengatur dan menye-lesaikan masalah ini, dimohon untuk segera tuntaskan permasalahan ini. “Jika memang rumah ini tidak diperkenankan untuk kami berdoa, berikanlah kami tempat berdoa di sekitar daerah itu juga,” pinta Pdt. Tony penuh harap.Stevie Agas