Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
Tingkat paling tinggi dari kepahlawanan yang bisa dicapai seseorang adalah memahami bagaimana cara menghadapi cemoohan dan ejekan.
(Miguel de Unamuno, filsuf dan penulis Spanyol, 1864-1936)
Reformata.com - SEBAGIAN besar kita mungkin terkejut mendengar kabar ini: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, awal Februari lalu, me-nerima anugerah sebagai komuni-kator politik paling unggul se-Asia Pasifik dari The Public Affairs Asia yang diserahkan di Hongkong. Hadiah tersebut diberikan lantaran kepiawaian komunikasi politik Yu-dhoyono sehingga, antara lain, sukses mendulang dukungan pemilih dalam Pemilu 2009.
Kita layak bangga atas apresiasi internasional itu. Tapi, sebelumnya kita patut bertanya: The Public Affairs Asia itu lembaga macam apa? Kapan lembaga itu didirikan? Kalau lembaga itu cukup tua, dan bukan lembaga baru atau yang belum lama dibentuk, mestinya bukan Yudhoyono yang mendapatkan anugerah itu, melainkan almarhum mantan presiden HM Soeharto. Mengapa? Karena, dalam hal pe-milu, Soeharto mendulang sukses enam kali berturut-turut, sehingga mampu berkuasa selama 32 tahun. Masih di Asia Tenggara, ada juga almarhum Ferdinand Marcos, yang sempat menjadi Presiden Filipina cukup panjang dan sangat ber-kuasa. Makanya, perlu dipertegas, kriteria apa yang dipakai The Public Affairs Asia untuk membuat penilaian itu?
Pertanyaan lain, mengapa di dalam negeri sendiri Yudhoyono justru kerap dicemooh dan diejek? Adalah fakta bahwa selepas Pilpres 8 Juli 2009, hingga kini, pemerin-tahan Yudhoyono-Boediono me-ngalami degradasi dukungan. Karena skandal ekonomi-politik Century yang heboh itu, Boediono ramai-ramai dituntut mundur. Bahkan dalam salah satu aksi un-jukrasa di DPR, mantan Gubernur BI yang kini Wakil Presiden itu, diteriaki “maling” oleh salah seorang demonstran. Syukurlah saat itu Boediono mampu menahan diri untuk tidak bereaksi.
Sementara Yudhoyono, seperti kinerjanya selama periode 2004-2009, disesali banyak pihak dan kalangan karena sikapnya yang tidak tegas dan tindakannya yang lamban. Ketika konflik “cicak versus buaya” mencuat ke permu-kaan, misalnya, ia terkesan lebih suka cari aman dengan mengulur-ulur waktu dan membentuk tim ini-itu. Di puncak kekesalan rakyat ter-hadap Yudhoyono, dalam demo besar-besaran 28 Januari lalu, tampillah Gerakan Pemuda Cinta Tanah Air (GPCTA) dengan mem-bawa-bawa seekor kerbau. Di tubuh kerbau itu tertulis “SiBuYa” (SBY) dan tertempel sejumlah gambar Yudhoyono.
Menarik dan kreatif, sebenarnya. Tapi, Yudhoyono malah marah – meski ia berupaya menahan diri untuk tidak mengumbarnya. Dalam rapat kerja kabinet di Istana Presiden Cipanas, Jawa Barat, ia sempat-sempatnya curhat ten-tang hal itu. “Secara komunikasi politik itu kurang baik. Seorang presiden yang terlalu ba-nyak curhat sesuatu yang tidak substantif menjadi kontra-produktif, karena masyarakat bisa meng-anggap SBY lebay (berlebi-han-red),” ujar pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi (3/2/2010). Dia menilai apa yang dilakukan Yudhoyono dengan me-ngeluhkan kerbau itu ba-gian dari “politik melankolis” yang mencoba meraih simpati masyarakat sebagai figur yang selalu dipojok-kan. Politik melankolis memang tidak salah sama sekali. Tapi, kalau sudah overdosis malah akan jadi bumerang dan bisa membuat ma-syarakat muak. Seperti soal anca-man pembunuhan dirinya pada peristiwa terorisme 17 Juli lalu, soal kekhawatiran demo Hari Anti-korupsi 9 Desember, dan terakhir pada demo 28 Januari. “Saya kha-watir bukan rasa iba yang didapat, tapi malah muncul sinisme,” katanya.
Karena itulah Yudhoyono diminta tidak terlalu sering curhat soal kritikan yang dialamatkan kepada-nya. Ia mestinya lebih fokus pada substansi kritikan dan bukannya pada pernak-pernik kritikan yang dialamatkan kepadanya. “Fokus saja pada substansi, jangan pernak-perniknya,” ujar Burhanudin lagi.
Akan halnya si penggagas aksi demo yang unik itu, Jose Rizal, mengaku jika aksi yang ia lakukan pada 28 Januari lalu itu tidak dimaksudkan untuk mengumpa-makan seseorang dengan kerbau yang ia beri nama “Si Lebay” tersebut. ”Itu kan maknanya ba-nyak, terserah orang mau me-nyimpulkan apa. Yang jelas itu SBY sendiri yang meyimpulkan kalau dia gendut dan lambat,” ujarnya (3/2/2010). Menurut Jose, tidak seharusnya Yudhoyono menang-gapi serius aksi yang ia lakukan pada perayaan 100 hari pemerin-tahan kabinet jilid II-nya itu . “Kalau dia tidak merasa (gendut dan lamban), jangan tersinggung dong,” tambahnya.
Dan memang, Jose kembali ber-aksi dengan “Si Lebay” di Bundaran Hotel Indonesia, 3 Februari lalu. Tentang kerbau yang disewanya dari temannya itu, menurut Jose, selama ini Si Lebay telah tiga kali diajaknya berdemo. “Pertama dulu waktu di KPU, kedua 28 Januari dan hari ini (3 Februari) yang ketiga,” paparnya. Jose mengaku tidak pernah takut atau khawatir jika aksinya nanti akan mendapat hadangan dari pihak kepolisian. “Kalau dilarang itu berarti peme-rintah sudah melarang hak warga untuk berekspresi,” kata Jose.
Memang, sebenarnya agak mengherankan mengapa Yudho-yono lebih suka meresponi kritik-kritik yang dialamatkan kepadanya ketimbang mengevaluasi kinerja kabinetnya. Mestinya sebagai pe-mimpin ia mampu menahan diri, meski dicemooh dan diejek. Sebab, semua cemooh dan ejekan yang datang itu bukannya tanpa alasan. Setidaknya ia harus bertanya: sudahkah penderitaan dan kesusa-han rakyat menjadi lebih ringan karena kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah yang ia pimpin selama ini? Sudah-kah rakyat benar-benar puas menyaksikan kesungguhan peme-rintah dan keberpihakan mereka terhadap kaum yang lemah dan tak berdaya?
Tapi, alih-alih melakukan itu, Yu-dhoyono malah mengklaim kebi-jakannya selama 100 hari pertama pemerintahannya berhasil 90 persen. Ck-ck-ck... terharu betul hati kita mendengar pernyataan yang dilontarkannya dengan lantang itu. Tetapi, bukankah mestinya penilaian tentang keberhasilan itu diberikan oleh pihak lain, dan bukannya oleh diri sendiri?
Di sisi lain, Yudhoyono mengaku risau dengan banyaknya kata-kata kasar dan sikap-sikap yang tidak santun yang ditunjukkan para demonstran di saat-saat mereka berdemo. Ia menyebut aksi-aksi seperti itu sudah melanggar etika demokrasi. Benarkah? Tapi, mengapa Yudhoyono tidak berkomentar apa-apa terhadap dua elit politik pendukungnya dari Partai Demokrat, yakni Ruhut Sitompul dan Benny K. Harman? Lebih penting manakah, bagi Yudhoyono, mengomentari aksi rakyat jelata yang dianggapnya tak sopan atau tindakan para elit politik yang tak patut diteladani? Bagaimana sikapnya selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat terhadap dua kadernya di DPR itu – yang satu suka ngomong kotor, satunya lagi suka menantang dan melecehkan orang lain?
Apa yang ditunjukkan oleh Yudhoyono saat itu tak ubahnya seperti sifat raja Jawa. “Yudhoyono hanya mengedepankan sopan santun, tapi kejujuran tidak ada. Ketika BBM naik, dia tidak berani mengumumkan. Tapi begitu tu-run, dia yang mengumumkan. Seharusnya, apa pun yang dilaku-kan anak buah, Yudhoyono ber-tanggung jawab,” kata Jose lagi.
Kita teringat akan kiprah Yudhoyono di masa-masa awal ia meniti karirnya di arena politik praktis. Mulanya ia menyatakan diri mundur dari Kabinet Gotong-Ro-yong yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Saat itu ia memosisikan dirinya sebagai “korban” – yang kerap dizalimi pim-pinan maupun orang-orang dekat sang pemimpin. Sikapnya yang simpatik, tutur katanya yang santun, membuat rakyat pun jatuh hati kepadanya. Apalagi dengan bahasa tubuhnya yang selalu tertata baik, penampilannya yang prima, yang terkadang disertai dengan tontonan bahwa ia bisa bernyanyi, membuat orang banyak terpesona padanya.
Dan, rupa-rupanya Yudhoyono sadar betul bahwa dalam politik, pencitraan lebih penting ketim-bang kinerja. Itulah yang diman-faatkan dan dikelolanya sebaik mungkin. Itulah yang membuat dirinya mampu mendulang keberhasilan. Tak hanya sekali, tapi dua kali berturut-turut. Tapi kini, rakyat semakin bosan dengan kepemimpinannya yang hanya dipenuhi “tebar-pesona”. Rakyat ingin melihat kinerja, bukan reto-rika. Itulah yang membuat kepe-mimpinan Yudhoyono kini ditandai sebuah paradoks: dipuji di luar negeri, dicemooh di negeri sendiri. Sebab di sini, rakyat tak punya alasan untuk memuji Yudhoyono. Orang miskin bertambah banyak. Orang yang diperlakukan secara tak adil kian meningkat. Masalah demi masalah tidak terselesaikan. Yudhoyono tampaknya hanya pandai membentuk tim dan satgas baru, membuka kota pos untuk pengaduan, dan yang sejenisnya. Tetapi, begitu ada orang (Ong Yuliana Gunawan) yang menye-but-nyebut namanya dengan jelas sebagai pihak “yang mendukung kita”, bertindak tegaskah Yudho-yono? Tidak, bahkan sedikit kema-rahan pun tak pernah ia tunjukkan dalam kalimat-kalimat pidatonya sampai sekarang.
Jadi, di mana letaknya kepiawaian Yudhoyono sebagai seorang komunikator politik yang unggul? Entahlah. Dengan modal politik yang begitu besar (perolehan suara 20,85 persen Partai Demo-krat dan raihan 60,8 persen Pemilu Presiden 2009), Yudhoyono justru kerap terlihat bak pemimpin yang mengidap penyakit kompleks rendah diri — gemar meminta dukungan dari pelbagai kekuatan politik dan simpati publik. Kalau begitu, akan bagaimanakah jadinya Indonesia nanti di bawah kepemimpinannya?v