Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Gereja & Masyarakat

Rumah Kita Tempat Aman Bagi Korban Kekerasan

Posted : 20 Maret 2010
Rumah-Kita--Tempat-Aman-bagi-Korban-Kekerasan.jpg
Reformata.com - KESULITAN hidup kerap  menjadikan banyak orang semakin berorientasi pada diri dan materi. Hal ini juga mengakibatkan makin merosotnya nilai-nilai moralitas. Tidak heran jika akhirnya terjadi banyak pelangga-ran norma-norma atau etika demi memenuhi kebutuhan, yang ber-muara kepada kepuasan diri. Ada-nya kecenderungan pihak yang kuat menekan yang lemah. Keke-rasan secara fisik yang dialami banyak kaum perempuan atau anak-anak menjadi contoh.  
Sejak dulu, banyak perempuan dan anak-anak menjadi korban kekerasan. Selain merasa diri seba-gai kaum yang lemah, mereka juga merasa malu jika melapor kepada pihak berwajib. Budaya patriarki di masyarakat, bahkan lemahnya penegakan hukum, seolah menjadi pendukung atas marak dan liarnya tindak kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.

Keprihatinan dan cinta
Dilatari kondisi di atas, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang bernaung dalam Yayasan Dharma Ibu, mendirikan “Rumah Kita” (RK). Lembaga ini (RK) mulai beroperasi sejak September 2005 dengan 3 orang penghuni per-tama. RK memberi wujud keprihati-nan kepada perempuan dan anak-anak yang mengalami perlakuan tindak kekerasan. Penggunaannya diresmikan pada 18 Februari 2006 oleh Kardinal Darmoatmojo.
Veronika E. Larasati Prayitno, ketua RK, mengakui bahwa akar dari persoalan kekerasan adalah masalah ekonomi. Ini disimpulkan setelah mengamati, mendata, dan menangani korban kekerasan di RK. Masalah ekonomi menjadi pe-micu atau titik awal hadirnya kasus-kasus berikutnya.
Sepanjang 5 tahun berjalan, ada sekitar 300-an kasus yang ditangani, mulai dari kasus trafficking, penipuan dan penganiayaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ingkar janji, kekerasan terhadap anak, kekerasan psikis, kekerasan ekonomi, pemerkosaan, dan kasus kawin siri.  
RK tidak menerima korban 2 kali, agar semangat juang mereka tidak berkurang. Dua  bulan maksimal korban ditangani, berdasarkan kasus per kasus. Latar belakang korban dari ras, suku, mau pun agama yang berbeda. “Kami tidak memandang siapa pun untuk kami tolong. Tapi identitas kami jelas, agar dunia melihat orang Kristen itu baik kepada semua orang, tanpa melihat apa latar belakangnya,” tutur Veronika.  

Tampak tiga buah bangunan di atas tanah 4.000 meter yang digunakan RK untuk pelayanan. Bangunan itu berfungsi sebagai shelter/rumah, tempat tinggal sementara yang aman bagi para korban. Bangunan itu dilengkapi aula untuk menjalankan program kegiatan seperti training, seminar, les, dan lain-lain. Ada juga klinik, sebagai sarana pengobatan secara medis, acupressure dan akupuntur. Sarana fisik itu untuk melayani korban kekerasan secara khusus, dan masyarakat sekeliling pada umumnya.
RK bekerja sama dengan lem-baga-lembaga terkait, seperti ge-reja, LSM, kepolisian, LBH, panti asuhan, lembaga sosial. Program kegiatan yang positif seperti: bim-bingan rohani, ketrampilan, pendi-dikan/pengajaran, pelayanan kesehatan, bantuan advokasi, pemberdayaan, rekreasi dan olah-raga, menjadikan pelayanan RK efektif dan berarti nyata di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Sumber daya manusia (SDM) yang terlibat adalah relawan-rela-wan profesional, seperti: dokter, bidan, perawat, psikolog, konselor, tenaga administrasi, keamanan dan kebersihan. Adanya kebutuhan dana yang besar, dan tenaga SDM yang terbaik tidak terhindari.   
“Yayasan tidak punya uang, na-mun kami punya hati. Melalui Tuhan semua bisa, karena bukan kami. Kami tidak punya kekuatan. Tuhan yang mengirim setiap orang untuk terlibat sesuai dengan kapasitas masing-masing. Banyak orang yang menawarkan diri, dari mulut ke mulut untuk terlibat bersama kami,” ujar Veronika.

Dampak dan harapan
Pelayanan RK kepada setiap korban, memberi dampak yang menggembirakan ketika para kor-ban dapat sembuh, bekerja man-diri, dan punya penghasilan yang baik. Kehidupan stabil dengan menemukan pasangan hidup yang sepadan, serta adanya komunikasi dan hubungan yang terus berlanjut baik dengan RK.  
RK tidak hanya memikirkan pe-mulihan fisik, psikis korban, namun bagaimana masa depan mereka untuk kembali ke masyarakat. “Semoga tidak banyak yang meng-alami kekerasan, semua sejahtera,” itu menjadi harapan Veronika. Dia menasihati agar anak-anak muda jangan bergaul bebas sampai harus hamil di luar pernikahan. “Pernika-han itu sakral, bukan tempat me-ngurangi masalah. Jangan pernah memaksakan diri untuk menikah kalau belum menemukan pasangan hidup yang tepat atau sepadan. Uang penting, tapi bukan satu-satunya. Semua harus seimbang,” pesan Veronika, seraya menegas-kan kalau pihaknya terus mengeva-luasi setiap korban kekerasan yang selama ini ditanganinya.  
Agenda RK selanjutnya adalah ingin mengembangkan bakeri (se-telah mendapatkan sumbangan mixer dalam kapasitas sangat be-sar), dan menambah unit klinik pengobatan gigi.             Lidya

64
68 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 13.449 sec | TOP
Online Support :