Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

Krisis Identitas Dan Integritas

Posted : 30 Maret 2010
Krisis Identitas dan Integritas.jpg
 Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
 
Reformata.com - Krisis Identitas ADALAH suatu paradoks bagi   kehidupan manusia di zaman  sekarang ini, di mana sekalipun ilmu pengetahuan telah berkem-bang begitu pesat dengan teknologi informasi yang sangat canggih dan kekayaan materi yang juga melim-pah, namun kebanyakan orang ter-nyata tidak memiliki orientasi hidup yang jelas. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemapaman ekonomi tidak menjamin manusia menemukan kepuasan hidup dan memiliki makna hidup yang penuh (meaningful). Banyak orang justru menemukan dirinya terjebak di tengah kelimpahan informasi dan di dalam kecanggihan teknologi infor-masi yang tersedia. Saat ini setiap orang begitu mudah mendapatkan informasi apa pun yang dibutuhkan melalui luasnya jaringan internet, namun tidak berarti secara otomatis menjadikan hidup manusia lebih mudah dan berarti.

Muriel James and John James dalam bukunya Passion for Life, 1991, menjelaskan bahwa dunia sekarang ini sedang mengalami kehausan untuk mendapatkan kehi-dupan yang lebih bermakna. Menarik melihat beberapa kasus hilangnya anak remaja yang diduga sebagai dampak negatif jejaring sosial Face-book belakangan ini. Beberapa remaja yang sempat hilang beberapa hari karena interaksi Facebook antara lain Sylvia Russarina (23) mahasiswi kedokteran di Semarang, Rahma Safitri (19) mahasiswi akademi kebi-danan di  Jawa Barat, Marrieta Nova Triani (14), Abelina Tiur Napitupulu (14). Kasus lain terjadi pada Diva, siswi kelas 7 SMP 41 Jakarta Selatan menghilang sejak 14/2, Diva alias Erin ditemukan setelah sebuah tele-visi swasta menayangkan berita hilangnya Erin. Seorang pemirsa mengenali wajah Erin yang ia lihat tinggal di rumah Empunk teman yang dikenal melalui Facebook. Ia lalu menghubungi pihak televisi, Erin pun dijemput ayahnya.
Sangat besar kemungkinan peris-tiwa seperti ini terjadi pada anak-anak remaja yang sedang mengalami krisis dalam tahap perkembangan-nya, mereka sedang mencari dan membentuk identitas diri.  Apabila mereka tidak menerima kasih, per-hatian dan dukungan yang cukup dari orang tuanya maka mereka akan mencarinya pada orang lain. Mereka akan suka kepada siapa pun yang mau memperhatikan mereka sekalipun dengan maksud yang salah seperti kasus-kasus di atas. Tentu penyebab peristiwa di atas bukanlah fasilitas facebook itu sendiri, face-book akan menjadi sarana yang sangat bermanfaat jika digunakan secara benar sama seperti fasilitas apa pun yang ada di sekitar kita. Problem utamanya terletak pada kurangnya kemampuan dan kedewa-saan si pengguna fasilitas, lebih lagi karena ia sendiri memiliki kebutuhan terten-tu yang ingin dipenuhi di tengah krisis identitasnya.

Pudarnya kejujuran
Mosi tidak percaya rakyat terhadap pemerintahan saat ini semakin meningkat berkaitan dengan kasus-kasus yang belum dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Bahkan rakyat cenderung melihat bahwa pemerintah tidak serius menyelesaikannya, ditambah dengan tingkah laku beberapa pejabat yang tidak patut ditiru sepak terjangnya. Terlihat ten-densi bahwa mereka ingin menggu-nakan fasilitas dan kekayaan negara semaunya dengan cara yang tidak bijaksana serta tidak memikirkan rakyat. Belum selesai kasus KPK dan Bank Century, pemerintah sudah berencana membeli mobil dinas menteri masing-masing harganya mencapai lebih dari Rp 1 miliar, dan biaya sebesar itu dianggap wajar untuk dikeluarkan kas negara. Sementara integritas dan tanggung jawab serta hasil kerja aparat negara belum terlihat jelas apalagi hasilnya untuk dinikmati oleh rakyat. Penyelesaian kasus korupsi Bank Century yang carut-marut dengan besarnya biaya yang dikeluarkan negara untuk pansus pun sampai saat ini ternyata baru berhasil mem-berikan acuan-acuan pengambilan keputusan, apalagi dengan cara anggota pansus berdebat yang tidak pantas untuk dilakukan.

Kasus lain yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah mengenai dua calon guru besar perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang diketahui telah memplagiat tulisan orang lain untuk menperoleh gelar doktor. Bagaimana mungkin mereka akan menjadi pendidik anak-anak bangsa jika untuk memiliki gelar doktor saja mereka menjiplak tulisan orang lain. “Ketidakjujuran ini sudah holistik, mengakar, merambah keluar-ga, masyarakat, dunia pendidikan, dan pemerintahan. Ini cermin deka-densi moral,” ujar Dr. William Chang, pakar etika sosial, alumnus Universitas Gregoriana dan Universitas Late-ran (Roma).” Kalau praktek ketidak-jujuran saja sudah begitu umum terjadi di berbagai area hidup masya-rakat termasuk di dunia pendidikan,  maka lumrah juga jika kualitas inte-gritas dari pemimpin-pemimpin bangsa sekarang ini kurang dapat diandalkan. Jika tidak ditangani dengan tepat dan holistik, maka dapat kita prediksi seperti apa jadinya masa depan negara ini dan akan sangat sulit untuk mengejar kemajuan di berbagai bidang jika bangsa mengami krisis pada aspek integritas moral.

Pembaruan identitas
Dari persfektif Alkitab dapat dipa-hami mengapa manusia mengalami krisis identitas dan integritas dalam hidupnya. Kejatuhan manusia dalam dosa merupakan alasan utama terja-dinya krisis identitas dan integritas dalam diri manusia, dosa akan terus-menerus mempengaruhi semua keberadaan dan aktivitas manusia. Karena dampak dari kejatu-han dosa sangat menguasai dan membelenggu hidup manusia, dosa menjadi “mu-suh” yang paling sulit (impo-sible) dikalahkan oleh manu-sia karena ia telah menjadi natur dari manusia itu se-hingga ia selalu terjebak dalam berbagai dosa (Kej 6: 5, Yer 17: 9). Kapan pun dan dimana pun setiap orang yang melakukan pelang-garan dengan sendirinya akan mengalami krisis pada identitas dirinya, ia akan sulit menempatkan diri secara tepat di lingkungannya, alih-alih malah menambah kesala-han untuk menutup-nutupi pelanggarannya.
Selama manusia jauh dari Tuhan dan tidak memiliki perdamaian dengan Tuhan yang disertai dengan relasi yang benar dengan Tuhan maka ia akan selalu berada dalam krisis. Krisis ini mengakibatkan keter-asingan dalam diri manusia terhadap Allah serta sesamanya bahkan terha-dap dirinya sendiri, juga mengakibat-kan kehampaan makna dan  kehila-ngan arah tujuan hidup yang sejati. Manusia memerlukan pemulihan identitas untuk menyelesaikan krisis tersebut dan pemulihan hanya da-pat terjadi melalui proses penda-maian di kayu salib Kristus (Kol 1: 20; 1Yoh 2: 2). Pendamaian itu sesungguhnya telah dilakukan Allah tanpa memperhitungkan besarnya pelanggaran manusia (2 Kor 5: 19), karena begitu besarnya kasih Allah: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh  4:10). 

Lewis Sperry Chafer mengatakan “pendamaian bukanlah keselamatan itu sendiri, tetapi lebih merupakan satu-satunya kemungkinan  untuk keselamatan itu terjadi. Pendamaian menempatkan manusia pada posisi yang benar di hadapan Allah.” Pen-damaian yang dilakukan Kristus di kayu salib merupakan langkah pemu-lihan identitas manusia sebagaimana yang Allah tetapkan sejak semula. Di dalam kekekalan Allah telah merencanakan suatu tujuan yang pasti bagi manusia agar manusia itu mengerjakan apa yang ditetapkan Allah untuk dikerjakan (Ef 2:10). Jika penebusan dan pendamaian Kristus telah memulihkan identitas seorang Kristen maka dengan identitas yang telah dibaharui itu Allah mengingin-kan agar totalitas hidup orang Kristen menunjukkan suatu kehidupan penuh dengan integritas. Pemulihan identitas berarti pemulihan inte-gritas, setiap orang Kristen tentunya telah memiliki identitas yang dipu-lihkan, namun apakah integritasnya sepadan dengan identitasnya yang baru? Adalah panggilan dan kewaji-ban bagi setiap orang Kristen untuk  hidup dengan integritas penuh di tengah dunia yang mengalami krisis identitas dan integritas. Integritas adalah tanda kesejatian identitas se-orang Kristen. Memang sangat tidak mudah untuk dapat hidup dengan integritas namun marilah kita meng-hidupinya sebagaimana diperintah-kan Allah kepada kita: “Aku telah menentukan engkau menjadi te-rang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi” (Kis 13:47). Soli Deo Gloria.v
Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.
67
23 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 5.6477 sec | TOP
Online Support :