Hendrik Lim, MBA*
Reformata.com - ANDA hanya akan mati-matian membela dan memperjuangkan sesuatu yang Anda anggap ada nilainya. Jadi untuk mendapatkan buahnya (endurance), kita harus punya sumber alias akarnya. Sebagai contoh. Kalau seseorang yang Anda yang anggap amat bernilai dalam hidup Anda—apakah itu anak, orang tua atau pasangan hidup—menderita sakit, Anda tentu akan habis-habisan meng-upayakannya, tidak peduli apakah itu hari minggu dan harus menge-tok pintu dokter jaga; atau harus antri sampai tengah malam untuk menemui seorang dokter ahli. Anda pun tidak akan menyerah begitu saja kalau tidak punya uang untuk pengobatan. Anda akan melakukan apa saja untuk mendo-brak penghalang yang ada di depan jalan Anda.
Kegigihan seperti itu bisa terjadi, karena subjek yang sakit tersebut Anda anggap penting dan bernilai. Kalau Anda tidak menganggapnya demikian, maka begitu ada rinta-ngan, kita kompromi dan mencari alasan pembenaran. Kalau sese-orang atau sesuatu yang hendak Anda terobos hingga berhasil itu tidak ada harganya, maka kita akan bilang: “It is not worthed to fight for”. Tidak layak untuk diper-juangkan, atau “ngapaian repot-repot dan buang keringat untuk sesuatu yang tidak layak”. Jika Anda tidak merasa memiliki sesuatu atau seseorang yang bernilai atau penting dalam hidup Anda, maka tidak banyak yang bisa Anda ciptakan. Sorry!
Kalau orang merasa sesuatu yang hendak diperjuangkan tersebut worthed, ia bahkan rela mengor-bankan apa saja, termasuk dirinya, dan ia akan merasa terhormat untuk melakukannya. Siapa yang mati untuk sebuah misi yang ia anggap penting, ia akan mati de-ngan tersenyum dan merasa bangga telah melakukan sesuatu yang berguna, dan atas dasar itu dunia menghargai mereka dengan sebutan: hero, pahlawan.
Organizational endurance
Begitu juga dalam kehidupan organisasi. Untuk memiliki executives, staf atau pekerja yang punya endurance yang tinggi, maka orang harus merasakan bahwa ia memiliki sesuatu yang bernilai untuk diperjuangkan, sehingga ia merasa it is worthed, layak untuk menumpahkan semua daya untuk melihat sesuatu terjadi. Dan untuk kehidupan organisasi, supaya semua pihak tidak didorong oleh vested interests masing- masing, atau agenda tersembunyi dari individu tertentu, maka Anda harus memastikan bahwa organizational mission adalah satu-satunya hal yang amat bernilai untuk diper-juangkan secara kolektif. Karena ia adalah milik pusaka. Dan dari situ Anda akan melihat corporate hero akan muncul. Tanpa organizational mission yang dihidupi, sebuah korporasi hanya zombies, yang berjuang untuk kelangsungan hidup. Tidak ada perayaan, apalagi kembang api kemenangan. Setiap hari adalah Monday, yang sibuk, semua hal penting dan semua hal gen-ting datang tersu-lam satu sama lain, seperti benang kusut.
Begitu juga dengan organisasi sosial seperti gereja. Gereja yang tidak memiliki organizational mission, akan kesu-litan mengajak jemaatnya untuk menyatukan tenaga dengan sukarela dan antu-sias. Dan saat antusiasme tidak muncul secara sukarela, Anda tidak akan merasakan adanya kuasa dan urapan dalam kata-kata.
Mimbar kosong yang penuh dengan individu. Sepi di tengah keramaian