Reformata.com - PANAS matahari yang menyengat setiap hari, membuat kulit pria itu terlihat hitam. Helm full face dan jaket tebal lusuh yang dikenakannya membuat penampilannya tampak kumal. Namun pria yang berprofesi sebagai tukang ojek itu tetap senyum penuh semangat, dengan sabar menunggu calon penumpang yang ingin memakai jasanya. Sehari-hari dia mangkal di dekat lampu merah, kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Alexander Nome adalah nama lengkap pria itu. Bekerja sebagai tukang ojek menjadi tumpuan demi kebutuhan keluarga. Pria kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) 16 Agustus 1975 ini sebenarnya ingin bekerja sebagai karyawan di kantor, namun tidak satu pun surat lamarannya mendapat sambutan positif.
Sulitnya kehidupan di Ibu Kota memaksanya harus menitipkan satu-satunya anaknya ke orang tua di kampung sejak berusia 2 bulan. Berat memang biaya hidup di Jakarta, walaupun, Yatini, sang istri juga bekerja di tempat percetakan, namun kesulitan ekonomi tetap membelit hidup mereka. Pendapatan Yatini cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan membayar kos. Sedangkan penghasilan Alex untuk kebutuhan sehari-hari. Pasangan ini menghuni sebuah kamar berukuran kecil nan sederhana, di Menteng Dalam, Rasamala 3 RT 03/RW 16. Ada pun sepeda motor yang digunakan mencari nafkah masih kredit.
Alex pernah menjadi mahasiswa salah satu sekolah tinggi teologi (STT) di Jakarta, hingga semester ke-7. Kebiasaan buruknya, suka merokok, membuat dia dikeluarkan dari kampus pada 1999. Kenangan pernah menjadi mahasiswa, membuat Alex sering menyesal dan merasa minder. “Mengapa hidup saya seperti ini? Kenapa orang lain lebih beruntung dari saya? Jauh-jauh dari kampung, sekolah tinggi, namun hanya jadi tukang ojek,” keluh Alex yang bersama istri rutin beribadah Minggu di GBI Eklesia, Kalibata Timur.
Impian
Hampir 9 tahun Alex menjadi pengojek, dengan penghasilan antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per hari. Dia sangat bersyukur ada seorang langganannya yang memberi penghasilan sebesar Rp 500 ribu per bulan. Kadang dia membawa penumpang yang nakal, yang kabur usai diantar, tak mau membayar. Lebih menyedihkan lagi bila motornya mogok di tengah jalan, karena kehabisan bensin. Tapi ada juga orang-orang baik, yang bisa memberi bayaran tidak terduga, hingga dia bisa mendapat Rp 210 ribu semalam. “Ini pengalaman yang tidak pernah saya lupakan,” kata Alex sambil tertawa.
Di tengah usaha kerasnya, dia selalu berdoa, “Semoga Tuhan menolong saya, memberi pekerjaan yang pantas, agar saya dapat memiliki penghasilan yang lebih baik dari sekarang”.
Mulai pukul 06.00 pagi Alex keluar rumah dengan sepeda motornya untuk cari penumpang. Bahkan di malam hari, pukul 23.00 malam, saat orang-orang sedang tertidur lelap, Alex pun masih tetap keluar mencari penumpang, demi mendapatkan uang tambahan. Hidup terasa begitu sulit, demi sebuah tanggung jawab bagi ayah Hendrianto Aristarkus ini. Sang istri, Yatini, cukup mengerti dan mendukung suaminya, dalam kepercayaan dan doa.
Kesulitan ekonomi menjadi persoalan utama bagi Alex. Namun kesadaran dan rasa tanggung jawab, telah memberikan kekuatan bagi Alex untuk menghadapi kesulitan. Baginya, hidup menjadi misteri Allah, yang tidak tertebak oleh siapa pun. Maka penting untuk bergantung hanya kepada Allah. Hidup juga adalah sebuah konsekuensi, maka bertanggung jawablah dengan hidup yang diberi Tuhan. Dan Alex telah membuktikan dengan bekerja keras.
Lidya