Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Jejak

Felix Mendelssohn, Gubah Gita Sorga Bergema Jadi Riang

Posted : 30 Maret 2010
Felix-Mendelssohn,-Gubah--“Gita-Sorga-Bergema”-Jadi-Riang.jpg
Felix Mendelssohn
Reformata.com - MELAYANI Tuhan adalah anugerah yang teramat besar bagi umat manusia.  Dia, Allah yang berkuasa atas segalanya, yang sesungguhnya tak perlu rekan kerja dalam menyelesaikan setiap pekerjaan-Nya itu, rela memberi kesempatan kepada umat untuk menjadi sarana dalam  pekerjaan akbar-Nya.  Tentu saja pelayanan yang dianugerahkan itu tak hanya berkhotbah layaknya tugas rutin seorang pendeta, tapi juga beragam hal. Oleh karena itulah umat pun harus meresponi anugerah pelayanan itu secara aktif, dengan beragam talenta yang ada padanya.   
Jakob Ludwig Felix Mendelssohn Bartoldy adalah komponis berkebangsaan Jerman.  Meski bukan seorang teolog atau hamba Tuhan, namun dia memiliki kesalehan hidup dan keinginan besar melayani. Sifat-sifat dan cara hidupnya yang menyenangkan hati Tuhan, sungguh tak disangsikan.  Mendelssohn kerap dikenal, bahkan dipuji sebagai orang yang telah berjasa menghidupkan kembali karya besar yang terlupakan.
Mendelssohn adalah musikus yang brilian. Bakat musiknya pun sudah terlihat sejak kecil – bahkan sudah  menjadi pianis sejak berumur 9 tahun. Dan satu tahun kemudian,  pria yang dikenal sebagai Felix Men-delssohn ini sudah mulai menciptakan karya musik.  
Kepiawaian seorang musikus bermain musik tentu tak terlepas dari jasa-jasa pengajar yang telah mendidiknya dengan baik. Tak terkecuali Mendelssohn, Ibunya yang juga murid Johann Philipp Kirnbergers, seorang komponis yang mendalami musik Johann Sebastian Bach itu, menjadi guru Mendelssohn sejak dini. Untuk melengkapi apa yang telah diajarkan ibunya, pada 1816 Mendelssohn diajak berkunjung ke Paris untuk mendapat pelajaran musik dari Madam Bigot, seorang guru musik yang terenal pada masa itu.
Pada 1820, ketika baru berumur 11 tahun, Mendelsohn mulai membuat komposisi. Kurang dari satu tahun ia menulis hampir 60 karya musik, antara lain sejumlah lagu, sonata untuk piano, karya musik untuk trio yang terdiri dari dua alat musik gesek dan piano, sonata untuk biola, sejumlah karya musik untuk orgen dan bahkan opera yang terdiri dari tiga bagian. Karya-karya itu kemudian disusul dengan karya-karya lebih besar di tahun 1821.
Di samping menulis karya-karya musik di usia mudanya, Mendelssohn juga memperl-engkapi diri dengan ilmu pengetahuan lain.  Karena itulah ia pun berkuliah di Universitas Berlin,  mengikuti kuliah filsuf terkenal Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Aktivitas lain yang menarik dari seorang Mendelssohn muda adalah mendirikan sebuah paduan suara yang secara khusus mempelajari dan mempagelarkan karya-karya Johann Sebastian Bach. Perlu diketahui, sebelum dihidupkan kembali oleh Mendelssohn, karya-karya komponis ternama Jerman tersebut hampir tidak dikenal di negaranya sendiri.
Di tengah-tengah segala popularitasnya, Felix Mendelssohn tak pernah melupakan imannya kepada Kristus. Konon beberapa gubahannya yang paling indah juga bersumber dari Alkitab, dua di antaranya adalah  “Nabi Elia” dan “Rasul Paulus”. Kedua oratorium itu hingga kini masih kerap dinyanyikan di Indonesia. Karya abadi lainnya adalah lagu Natal bernuansa riang yang di Indonesia dikenal dengan: “Gita Sorga Bergema” yang syairnya jauh sebelumnya dikarang oleh Charles Wesley pada 1738.  
Pada jaman itu, syair Natal karangan Charles Wesley sudah diterapkan dengan berbagai melodi. Ada yang pas, ada pula yang kurang cocok. Maka dari itu, lagu Natal “Gita Surga Bergema” tak kunjung populer untuk jangka waktu yang lama. Mendelssohn-lah yang kemudian mengarang not-not yang riang yang selalu mengalun setiap bulan Desember tersebut.
          
       ? Slawi/dbs

77
20 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 4.0314 sec | TOP
Online Support :