Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Vinder Sinaga, Pengusaha Distro Fanatisme Berbuah Bisnis

Posted : 20 Maret 2010
Vinder-Sinaga,-Pengusaha-Distro-Fanatisme-Berbuah-Bisnis.jpg
Vinder Sinaga
Reformata.com - SIKAP fanatik bisa berbuah positif. Hal itu dibuktikan Vinder Sinaga, yang begitu fanatik dengan kota kelahirannya, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sebelum merantau ke Kota Jakarta, ia sempat kuliah di universitas negeri di Sumatera Selatan. Setelah selesai kuliah tahun 2000, ia merantau ke Jakarta. Di kota metropolitan ini dia membangun banyak relasi. Awalnya ia membuka usaha di bidang event organizer adventure. Sampai suatu waktu ia bertemu dengan beberapa temannya satu kampung. Sejak itulah ia menemukan ide untuk membangun kecintaannya terhadap kampung halaman dengan cara membangun sebuah usaha yang menonjolkan ciri dari kampung halamannya, Pematang Siantar. Lewat usaha ini ia pun berharap dapat membangun jaringan antara sesama orang Siantar.
Pada 2008, ia membuka sebuah distro, namun bukan sembarang distro. Distro ini hanya menjual kaos ataupun aksesoris yang dirancang khusus untuk menonjolkan ciri dari Siantar, kota kelahiran yang ia cintai. Ia merancang setiap motif dari kaos atau pun aksesorisnya atau pun mengumpulkan beberapa karya anak Siantar lainnya. Ia ingin setiap barang yang ia jual murni Siantar, mulai dari rancangan sampai perancangnya sendiri. Jadi setiap ide dan rancangan memang murni dari Siantar. Para perancang atau pun pemberi ide terhadap setiap karya yang ia pasarkan di distro miliknya tersebar di beberapa kota di Indonesia. Mereka semua para perantau yang berasal dari Siantar tentunya. Oleh karena itu distro miliknya lebih dikenal dengan nama Siantar Distro.
Dengan usahanya ia membangun citra positif dari Siantar itu sendiri. Ia memberikan beberapa kata-kata-kata di kaos rancangannya seperti, I Love Siantar, There’s no place like Siantar, let’s go to Siantar, Manhood from Siantar, Becak Siantar dan beberapa kata lain yang nadanya positif. Ia ingin citra dari Siantar yang terkenal dengan premanismenya tidak lagi ditonjolkan. Ia ingin agar anggapan sebagian orang bahwa Siantarman adalah preman bisa hilang dengan sendirinya lewat kata-kata yang lebih membangun. Ia lebih setuju bahwa orang-orang yang ada di Siantar lebih dikenal dengan solidaritas dan kreativitasnya.

Sistem pemasaran yang ia pakai adalah memperkenalkan Siantar kepada orang banyak dengan pembangunan citra yang lebih positif. Oleh karena itu ia mencoba membangun jaringan lewat Facebook. Facebook ia pakai untuk mengumpulkan jaringan orang Siantar di mana pun mereka berada. Setelah jaringan didapatkan, ia melakukan pemasaran dengan cara memberikan gambaran tentang profil usahanya kepada jaringan yang ia bangun. Ia juga memberikan contoh-contoh rancangan atau hasil karyanya kepada banyak orang lewat Facebook.
Strategi yang ia lakukan selain Facebook adalah memasarkan hasil karyanya kepada keluarga terdekat, karena memang keluarganya tentu adalah orang-orang Siantar juga. Ia juga melakukan promo langsung di kota Siantar. Promo ini dilakukan dengan cara membagikan hasil karyanya secara gratis kepada orang-orang yang ada di Siantar. Selain itu ia juga mendata beberapa komunitas orang Siantar yang ada di Indonesia. Komunitas ini terdiri dari komunitas mahasiswa Siantar, komunitas artis, komunitas pekerja Siantar, komunitas alumni sekolah di Siantar, komunitas olahraga Siantar dan beberapa komunitas lain. Komunitas ini menjadi target market dari produk yang ia jual. Karena sudah tentu setiap komunitas tersebut terdiri dari orang-orang Siantar.
Untuk membuat ciri tersendiri terhadap setiap rancangannya, ia memberikan limit (batasan) terhadap setiap motif yang ia rancang. Jadi tidak perlu khawatir bila kaos yang Anda pakai ternyata kaos yang sama jenis dan motifnya dipakai orang lain, karena bisa jadi kaos dengan motif yang Anda pakai hanya Anda yang memilikinya. Hal ini menjadi daya tarik sendiri dari setiap hasil karyanya.
Saat ditanya manakah yang lebih diutamakan, sikap fanatisme terhadap Pematang Siantar atau bisnis, Vinder menjawab bahwa keduanya memiliki peranan penting baginya. Keduanya saling mendukung satu dengan lainnya. Menurutnya fanatisme yang ia miliki mberikan dorongan semangat baginya untuk terus berkarya dan mengembangkan usahanya, begitu juga usahanya ini membantunya untuk membangun jaringan sesama orang Siantar dan mensosialisasikan Pematang Siantar kepada banyak orang. Tentunya fanatisme yang dimiliki orang-orang Siantar juga menjadi salah satu yang membuat pemasaran dari apa yang ia jual menjadi lebih mudah.   Jenda

60
6 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
Online Support :