Demonstran anti pemerintah Thailand menumpahkan darah yang dibawa di kantung plastik dalam protes simbolis terhadap rumah Perdana Menteri di Bangkok.
Aparat keamanan setuju membiarkan demonstran berpakaian merah menumpahkan darahnya di luar kompleks kediaman Perdana Menteri Abhisit Vejajjiva.
Sebelumnya muncul kekhawatiran mengenai bentrokan antara aparat pada hari keempat rapat umum yang menuntut PM mengundurkan diri.
Kubu oposisi yang kebanyakan mendukung mantan PM Thaksin Shinawatra menginginkan pemilu baru.
Para pengunjuk rasa mengatakan mereka sekarang menuju kantor kedutaan besar setelah laporan bahwa "intelejen asing" memperingatkan pemerintah bahwa kelompok pakaian merah akan melakukan tindak kekerasan.
Damai
Pemimpin kelompok pakaian merah dan tokoh pemerintah menegaskan mereka akan mempertahankan agar aksi unjuk rasa itu berjalan damai.
Mereka mengatakan, pemerintahan Abhisit tidak sah dan harus dibubarkan.
Saat unjuk rasa Abhisit dan kelurganya tidak berada di kediaman mereka yang berada di pinggiran Bangkok.
Sepuluh kesatuan polisi dan tentara dikerahkan untuk memperkuat enam peleton aparat keamanan di kediaman PM, kata surat kabar The Nation.
Disebutkan bahwa Deputi PM Suthep Thaugsuban akan menggunakan UU Keamanan Dalam Negeri untuk melarang masuk ke jalan kediaman Abhisit dimana ribuan orang sudah berkumpul disana.
Abhisit tinggal di markas Batalion Infranti ke-11 di utara Bangkok sejak aksi protes dimulai.