Sanggar Dapur Kreatif
PENAMPILAN kumuh, berbahasa sederhana, dan sehari-hari hidup di jalanan. Mereka dikenal dengan kumpulan anak-anak jalanan. Dalam memperjuangkan kehidupan, mereka melakoni berbagai “profesi” sebagai pengamen, pemulung, pengemis, dan preman.
Masyarakat memandang mereka sebagai “sampah masyarakat”, yang hanya mengotori jalanan. Menghambat aktivitas, merusak kenyamanan orang-orang sekeliling, oleh tindakan dan perbuatan mereka yang kurang lazim.
Namun berbeda, setelah bertemu dengan anak-anak jalanan yang berada di sebuah komunitas sanggar Dapur Kreatif. Di kawasan Karet Sawah-Jakarta Pusat, mereka menempati bangunan sederhana, berbentuk “sauh”, terbuat dari bambu. Di sinilah mereka berkumpul dan membangun kreativitas: mulai dari mengerjakan sablon, membuat hiasan dinding, kerajinan tangan (gelang tangan unik), dan memproduksi alat-alat musik etnik yang terbuat dari bambu, serta memainkannya.
Kumpulan anak-anak jalanan yang berbeda, oleh karena kemampuan seni mereka yang sangat tinggi. Di antaranya ada Abah (Heri Aldi Pulwadi Bumi), pria berusia 34 tahun ini memiliki kemampuan ganda. Selain bisa membuat alat-alat musik etnik yang terbuat dari bambu, Abah juga memiliki kemampuan memainkan seluruh alat musik, dan memiliki suara layaknya Iwan Fals. Penampilan layaknya seniman cuek, yang senang tidur. Bukan karena malas, melainkan karena letih menjalani kehidupan panjang yang berat. Diakuinya mendapat banyak inspirasi setiap bangun tidur, yang berguna untuk membuat alat musik.
Selain Abah, ada Cheko (Yadi Cahyadi). Ayah 2 orang anak ini, memiliki kemampuan berteater, memainkan musik budaya etnik. Serta Rian, pemuda yang juga memiliki suara merdu, kemampuan memimpin, memainkan beberapa alat musik, bahkan kreatif membuat kerajinan tangan.
Berbincang-bincang dengan mereka, REFORMATA menemukan jawaban. Ternyata mereka dari kumpulan anak-anak yang terlahir oleh penolakan orang tua. Mereka dibuang, dilupakan, tidak dipedulikan. Mereka korban kekerasan keluarga dan lembaga. Mereka, anak-anak yang cerdas dalam seni, hanya tidak mendapat kesempatan baik untuk memperkenalkan kemampuan mereka.
Anak-anak jalanan yang potensial, memperbaiki generasi. Mereka butuh wadah yang dapat mensupport kemajuan mereka.
Lidya