Drs. Slamet Effendy Jusuf, MM., Ketua Komisi HAAK MUI:
Reformata.com - Menanggapi perusakan tiga gereja di Malaysia sebagai buntut dari kontroversi pemakaian nama “Allah”, Majelis-Majelis Agama Indonesia menyam-paikan keprihatinannya. Bagaimana dengan di Indonesia? “Aparat harus bertindak tegas terhadap massa yang merusak rumah ibadah,” kata koordinator forum ini, Slamet Effen-dy Jusuf. Berikut bincang-bincang dengan tokoh NU yang duduk sebagai Ketua Komisi HAAK MUI ini.
Ketika gereja dirusak di Malaysia, Anda dan majelis agama lainnya mengajukan protes, bagaimana dengan di Indonesia?
Kita juga bereaksi. Seperti ketika Gereja Santo Albertus di Bekasi mau dibakar, kita juga menyerukan secara keras.
Banyak pihak menyuarakan hal sama tapi tetap tidak efektif meredam penutupan rumah ibadah?
Masalah ini kan munculnya karena banyak faktor. Sebagai majelis agama, ya kita menyerukan dan me-ngusahakan kerukunan antarumat beragama. Pihak lain pun harus turut memainkan perannya. Aparat keamanan misalnya ya jaga kea-manan dan ketertiban. Peme-rintah, ya upayakan keadilan dan kesejah-teraan yang merata.
Usaha untuk membangun keru-kunan umat beragama dalam kon-teks harmoni sosial dan keutuhan bangsa itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Reaksi dari pemerintah atas perusakan tempat ibadah tampaknya belum pas?
Menurut saya lambat. Hukum kurang ditegakkan. Jadi pemerintah di sini masih terlalu takut pada massa. Padahal hukum itu harus diitegakkan, apa pun risikonya. Bila terjadi vandalisme, pe-rusakan terhadap suatu rumah ibadah, apakah terhadap gereja, masjid, biasanya dibiarkan ber-lalu. Hanya ditenangkan massanya. Tanpa tin-dakan hukum terhadap pelaku.
Seharusnya ada tin-dakan hukum pada pe-laku. Karena dengan cara begitu, ada upaya membuat daya tahan dari harmoni sosial. Dan itu hukum mekanis-menya.
Kenapa harus hukum?
Kalau bukan hukum yang kita pilih dan ke-mudian kita berkaca bahwa yang penting masyarkat, lalu bagaimana kalau ma-syarakat ini menggunakan kekera-san, menggunakan apa yang disebut vandalisme dan sebagainya? Itu kan bahaya. Kesadaran masyara-kat kan tidak sama tinggi tingkatnya. Karena itu, hukum yang harus ditegakkan. Dalam hal ini, peme-rintah memegang peran penting. Dalam arti itu adalah aparat hukum, merekalah yang harus bertindak tegas.
Tekanan massa sering terlalu besar?
Massa juga pada akhirnya terima bila dilakukan secara adil. Jadi hukum harus ditegakkan. Tidak boleh ada tindakan kekerasan dan dibiarkan. Dengan demikian masyarakat juga mulai belajar dan memahami hukum. Ketika misalnya ada rumah ibadah yang didirikan tanpa ijin yang berarti melanggar hukum, masyarakat tidak langsung merobohkan, tapi akan menyampaikannya kepada aparat.
Bila yang menyerang itu massa dari agama mayoritas, biasanya pemerintah takut. Bagaimana meredam kelompok massa itu?
Yang biasa melakukan itu bukan mayoritas dari umat mayoritas, tapi ada kelompok radikal tertentu. Di dalam semua agama, kelompok radi-kal itu pasti ada. Karena itu, kita akan melakukan dialog dengan mereka dengan maksud un-tuk meletakkan me-reka dalam bingkai kemanusiaan dan kebangsaan.
Karena hanya de-ngan wawasan ke-bangsaan yang tinggi, dan kemanusiaan yang benar, orang beragama juga men-jadi saling enak. Kalau sudah berbeda aga-ma, ya memang ber-beda, tapi apakah perbedaan ini harus menjadi permusuhan atau konflik? Kan tidak. Karena itu, mau tidak mau, kita harus berdialog.
Jangan kita hanya berdialog di antara kita yang sudah punya pengetahuan tentang tole-ransi, tentang pentingnya dialog iman, tapi kita harus juga berdialog dengan teman-teman yang terjebak pada pemahaman-pemahaman sempit, yang terlalu eksklusif, tanpa melihat bahwa agama itu tidak hidup dalam ruang yang kosong.
Agama itu hidup dalam ruang yang penuh hiruk-pikuk, penuh per-gaulan. Karena hiruk-pikuk pergaulan itu, orang memiliki pikiran yang ber-beda, juga keyakinan yang berbeda, tujuan juga berbeda-beda. Kita harus yakini itu, kalau tidak kita perang. Karena itu dalam beragama, konteks Indonesia itu adalah kebangsaan, konteks antara agama itu kemanusiaan.
Dalam setiap agama, ada kelompok yang meniadakan agama lain. Bagaimana menyi-kapi ini?
Saya selalu mengatakan bahwa Tuhan itu mahakuasa. Kalau Tuhan itu menghendaki, bahwa di dunia ini agama hanya satu, itu bisa. Jadi andaikata Tuhan menghendaki seluruh manusia itu Hindu, itu bisa, karena Tuhan mahakuasa. Tapi kenapa Tuhan kemudian di atas kekuasaan-Nya yang mahakuasa itu, tidak menjadikan umat manusia itu satu dan tunggal serta seragam, entah Islam semua atau Kristen semua, atau Hindu semua? Tapi Islam, Kristen, Khong Hu Cu dan sebagainya dibiarkan berkembang menurut usaha umatnya sendiri dan keberagaman itu diminta oleh Tuhan untuk saling menghormati. Itu semua karena Tuhan menghen-daki adanya keberagaman agama.
Konflik terjadi karena umat belum menghayati secara sesungguhnya bahwa keberagaman itu adalah kehendak Tuhan. Paul Makugoru.